Kisah Tahu Telor #SocialExperiment1

Suatu hari ada seorang asing yang membutuhkan uang dan bermaksud ingin meminjam sejumlah uang kepada seseorang dan akan mengembalikannya sesuai dengan kesepakatan, ketika ditanya oleh orang yang meminjamkan, “jaminannya apa?” Orang asing tersebut hanya berucap, “cukuplah Allah sebagai jaminanku”. Singkat cerita orang tersebut mendapatkan pinjaman tersebut tanpa meninggalkan jaminan benda atau hal apapun kepada orang yang meminjam tersebut selain ucapannya itu. Atau seperti kisah abu dzar al-ghifari yang diminta menjadi jaminan untuk orang yang tidak dikenal sebelumnya hanya bermodal “cukuplah Allah sebagai jaminannya”. Dari kedua kisah tersebut hasilnya menakjubkan, keduanya amanah dengan berbagai caranya tersendiri atas izin Allah tentunya. Jujur saya merasa takjub. Saya ingin mengalaminya dan membuktikan secara langsung. Bermodal rasa penasaran, apakah benar dizaman yang modern seperti sekarang masih ada dan berlaku hal seperti itu? Karena, menurut saya kita hidup di sebuah masa yang berbeda dari masa dulu. sekarang kita hidup di era terbuka yang serba bebas. kita akan menghadapi beban yang lebih berat dan fitnah disana-sini. alhasil, fitnah pun banyak terjadi. jika kamu tidak berhati-hati, kamu akan terjerumus ke dalam fitnah. Bahkan mungkin kita hidup di masa orang tidak saling percaya, senang berbantah-bantahan, lebih mendahulukan akal daripada hati, dan mengecilkan perintah tuhannya.

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu saya membeli makan di penjual makanan tahu telor keliling, bedanya disini saya mencoba membeli dengan nominal uang yang besar, alhasil mas penjualnya pun tidak punya kembalian. Seketika dalam benak saya terbersit ingin membuktikan sebuah tulisan kisah klasik di dalam buku tentang cukuplah Allah sebagai saksi dan jaminan saat transaksi dan sosial eksperimen, dimana saya ingin menguji tingkat kejujuran dan amanah orang yang sebelumnya sama sekali tidak saya kenal serta apakah tingkat kejujuran orang berbanding lurus dengan tingkat intelektualitas seseorang? Dimana semakin berintelek seseorang seharnya semakin jujur orang tersebut, karena berpendidikan. Waktu itu pilihannya hanya ada 2, masnya mempercayakan saya membawa dagangannya tanpa membayar terlebih dahulu dan berharap besoknya ketika bertemu saya akan membayarnya atau saya yang mempercayakan kelebihan uang pembayaran saya untuk dikembalikan oleh mas penjual itu besoknya atau ketika lewat lagi.

IMG20171022192854

Tahu telor buatan masnya.

Melihat dari gelagat mas penjualnya, saya menyimpulkan beliau tidak ikhlas jika dagangannya dibawa tanpa dibayar, alhasil saya berinisiatif untuk membiarkan uang kembalian saya dibawa masnya dulu dan dikembalikan besok atau ketika ketemu kembali, batas waktunya tidak ada, toh saya tidak terburu-buru waktu itu. Tapi ternyata beliau bersikukuh akan kembali lagi ketempat saya ketika sudah selesai keliling berjualan dan mengembalikan uang kembalian hari itu juga. Sayapun hanya mengiyakan dan memberikan alamat rumah saya kepada beliau, tanpa memberi tahu nama saya berharap ketika selesai berkeliling beliau akan menepati janji dan bisa menemukan rumah dimana saya tinggal. Setelah beliau menyanggupi, detik itu juga sosial eksperimen saya dimulai.

Setelah saya sampai di kontrakan, sayapun ceritakan kejadian tersebut kepada anak-anak kontrakan dikarenakan ketika itu saya ada keperluan keluar dan kemungkinan belum tau pulang kapan. Sayapun menitipkan kepada anak-anak jika nanti ada penjual tahu telor didepan kontrakan datang mau mengembalikan uang kembalian saya, tolong diambil dulu. Ketika urusan diluar saya selesai, saya pulang ke kontrakan dan menanyakan anak kontrakan apakah ada tukang tahu telor yang mengembalikan uang saya? jujur saya sedikit shock ketika mendapatkan respon yang cenderung negatif dari anak-anak kontrakan. Seperti, “ji kamu bodoh banget dah, itu uang kembalian lumayan loh kalo nggak dibalikin terus gimana?” atau “gimana penjual tahu telornya? (menggunakan nada nyinyir). Saya pun hanya menjawab singkat “ya, kalo nggak balik lagi mungkin si bapaknya lebih membutuhkan uang kembalian itu, santai aja…”.

Haripun berganti dan tidak ada tanda-tanda mas penjual ini mampir ke rumah lagi dan anak-anak kontrakan saya semakin menjadi seakan-akan membegokan saya yang begitu naif, tapi saya pun tetap santai, toh ini bukan kali pertama saya melakukan sosial eksperimen. Sebelumnya saya sudah cukup sering melakukan sosial eksperimen yang mungkin tidak disadari oleh orang sekitar atau bahkan orang yang telibat langsung.

Besoknya ketika waktu menunjukkan jam yang sama sayapun iseng melewati rute saat saya membeli tahu telor kemarin, berharap melihat dan bertemu dengan mas penjual tahu telor tersebut. Mungkin takdi, saat itu sejujurnya saya melihat mas penjual tahu telor itu di depan saya, tapi saya hanya membiarkan pergi tanpa menegurnya, berharap beliau yang menghampiri saya karena mempunyai hutang kepada saya.

Ketika pulang dan sampai di kamar kontrakan, teman kamar saya pun bilang, “itu sepertinya penjual tahu telor yang kemarin barusan lewat deh”. Saya pun hanya menjawab “ohya?, dia ngetok pintu kesini nggak?” teman saya bilang “nggak mas”. Saya, ”oh yaudah, mungkin bukan dia”.

Tidak lama setelah obrolan itu terdengar penjual tahu telor  lewat didepan kontrakan dan tenyata beliau putar balik lagi ke depan kontrakan saya. Sayapun mencoba keluar rumah dan melihat keluar, tenyata benar beliau. Beliaupun berhenti dan kamipun saling bertatapan yang seakan mengisyaratkan adanya keterikatan diantara kami.

Sayapun keluar dan menghampiri beliau, beliaupun bertanya, “mas yang kurang kembalian kemarin ya?” saya, “iya mas”. Dia “ini mas kembaliannya, kemarin saya cariin mas tapi nggak keluar-keluar rumah”. Saya, “loh iya ta mas? Maaf ya mas kemarin saya keluar sampai pagi”. Diapun menyodorkan kembalian sesuai dengan jumlah yang seharusnya. Untuk mengapresiasi kejujuran dan amanahnya beliau sayapun membeli jualan beliau lagi. Padahal jika dilihat dari rasa dan kualitas, sebetulnya biasanya saja, bahkan mungkin tidak ada istimewanya, tapi mungkin karena kejujuran beliau jadi terasa lebih istimewa.

Sayapun menceritakan kejadian itu kepada anak-anak kontrakan saya yang nyinyir kemarin dan mereka hanya bisa terdiam tidak percaya dengan kenaifan saya yang ternyata membuahkan hasil baik. Disana saya mendapatkan sedikit hikmah kehidupan dan merasa puas, sosial eksperimen dan pembuktian kisah dalam tulisan di buku tentang cukuplah Allah terbukti benar, tenyata selama ini terkadang saya masih suka keliru, selama ini saya berperinsip ketika seseorang pinjam sesuatu pada saya harus pakai jaminan benda atau bahkan surat-surat, padahal tenyata cukup Allah lah yang menjadi saksi dan jaminan bagi orang beriman. Terus ternyata di zaman yang semoderen sekarang masih ada orang yang jujur dan amanah walaupun dari segi intelektual jauh dari kata berpendidikan, tingkat kejujuran dan amanah orang itu tidak bisa terukur dari tingkat intelektualias seseorang, karena terkadang dizaman modern seperti sekarang orang yang berintelek bahkan tidak lebih baik dalam hal kejujuran dan menjaga amanah, seperti para pejebat/petinggi dan wakil rakyat kita sekarang. Ironis!.

-End, 01.22-

Advertisements

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu? #PartIBU

Sosok yang bisa dibilang saya belum mengenal secara dalam betul. Karena waktu almarhumah meninggal saya bisa dibilang bocah ingusan(SMP). So, saya belum mengenal banget. Tapi saya akan mencoba menuliskan kesan yang pernah saya tangkap dan saya rasakan langsung.

DSC00035

Ibu.

ibu lahir di padang, bulan april. Sama dengan ayah (kalo tanggal dan bulannya benar). Ibu dibesarkan di keluarga pedagang waktu jaman penjajahan. Ibu orang yang sederhana dan bisa dibilang wanita tangguh. 10-11 dengan ayah, ibu punya saudara kandung jumlahnya 10 dan ibu merupakan salah satu anak tertua. Kadang saya suka binggung kenapa orang yang hidup jaman penjajahan itu anaknya banyak banget, beda seperti zaman sekarang 2 anak cukup. Ha…ha…ha…

Ibu keturunan darah murni padang jadi kamu bisa bayangin gimana karakteristiknya. Sebagaimana karakteristik umum orang padang, ibu itu pinter secara intelektual maupun masakan serta pelayanan kepada suami. Menurut saya sejauh ini sosok ideal  buat calon istri. Ha…ha…ha… tapi sayang kebanyakan orang Sumatra itu wataknya keras dan perasa, tak terkecuali ibu. Alhasil sifat perasanya itu turun ke anak-anaknya. Ibu dulu selalu cerita jika keluarga ibu punya rumah gadang di kampung (padang)  yang sekarang dijadikan sebagai cagar budaya di padang. Ibu pula yang menurunkan marga chaniago kepada saya. Kata beliau marga bangsawan.

Ibu ini sosok ibu penyabar, setia, pemalu, kuat dan sayang dengan keluarga. Dibesarkan di dalam keluarga tanpa sosok seorang ayah ataupun ibu sejak kecil tidak membuatnya kehilangan arah akan kehidupan. Dari sekian banyak kenangan yang ada antara saya dan ibu ada beberapa yang paling berkesan. Diantaranya adalah sosok pemalunya, masakannya, kelembutan dan kehangatan seorang ibu yang mungkin sudah lama sekali tidak pernah saya rasakan semenjak beliau meninggal. Dan diantara itu semua saya paling kangen sama bau badannya. Entah kenapa khas dan saya kangen banget sama itu.

DSC01028

Ibu pasca operasi terakhir, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kesabaran dan ketangguhan ibu sudah tidak diragukan lagi, mengidap penyakit kanker kronis selama belasan tahun tidak membuatnya menyerah hingga titik darah penghabisan. Beliau adalah sosok yang sangat pemalu, saking pemalunya seumur hidup saya tidak pernah mendengar dia bernyanyi dan bahkan saat mengaji/tadarus pun beliau sampai mengunci pintu kamarnya karena tidak ingin didengar oleh orang lain bahkan oleh anaknya sendiri. Ibu itu sosok yang tangguh, walaupun beliau sakit-sakitan tetapi tetap mampu bekerja, mengurus rumah dan anak. Katanya untuk menjaga izzah-nya, walaupun beliau perempuan. Jika menurut saya mungkin karena beliau adalah sosok panutan bagi adik-adiknya waktu itu, jadi harus menjadi sosok yang tangguh dan contoh untuk adik-adiknya.

DSC00155

Makam almarhum ibu.

Kata orang meninggal itu tidak melihat umur, awalnya saya tidak percaya tapi ternyata Ibu meninggal disaat usianya masih terbilang muda dan produktif sekali, sekitar umur 40’an. Sebetulnya ada banyak penyesalan dalam diri saya karena belum sempat membahagiakannya. But waktu tidak bisa diputar dan hidup selalu berjalan semestinya, yang bisa saya lakukan adalah berbuat yang terbaik untuk sekarang dan kedepannya buat orang tua.

DSC00030

Ibu dan ayah.

Namanya Herry Fitri (Alm), sosok ibu dan istri idaman buat saya. Role model pertama dalam mendidik anak saya kelak. Entah kenapa saya berharap calon istri saya adalah orang berdarah Sumatra, khususnya Padang. Ha…ha..ha…

Sekufu?

Apa itu sekufu??. Kenapa diusahakan sekufu??. Pemahaman orang awam kebanyakan sekufu itu lebih condong ke pasangan yang akan diajak menikah. Mungkin 2 pertanyaan mendasar itu yang awalnya muncul dibenakku. Dulu saya golongan orang yang bisa dibilang paling menentang pemahaman sekufu, sampai akhirnya setelah membaca, mencari tahu, dan mentelaah dari segala aspek ternyata selama ini saya salah besar. Terutama tentang menikah, yang seharusnya diusahakan sekufu. Dulu, menurut saya nikah sekufu itu buat apa sih? Rasis banget!.  Jika di tinjau dari asal dan makna katanya Kafaah atau sekufu adalah kesetaraan antara laki-laki atau perempuan dalam beberapa ketentuan dan perkara khusus. Syarat sekufu itu ada lima dan telah ditetapkan dan tersurat dalam suatu syair tunggal yaitu nasab, agama, profesi, atau pekerjaan, kemerdekaan, tidak ada cacat atau cela.

            Awal mula saya tahu istilah sekufu adalah ketika dulu dialog singkat dengan kakak saya yang akan menikah. Beliau salah satu orang yang menjunjung tinggi asas ke kufuan.

Saya: kak kenapa sih ngebet banget nikah sama dia (calon kakak ipar)?

Kakak: kakak udah kenal dia dan menurut kakak dia sekufu sama kakak dian.

Saya: halah, rasis banget sih. Taulah emang kalian dulu sama-sama 1 kader di ….

Kakak: bukan rasis ji, menikah itu banyak pertimbangannya, kenapa kakak mencari yang sekufu? Itu karena menurut kakak menikah itu ibadah yang paling lama selama kita hidup.

Kakak: sekufu itu hanya salah satu jalan yang menurut kakak mempermudah ibadah kita sama Allah.

Kakak: kalo sekufu setidaknya kita sudah mempunyai visi dan misi yang sama dalam hidup ini.

Saya: emang visi dan misi kak dian hidup itu apasih?

Kakak: menurut kakak, kita sebagai muslim bertanggung jawab untuk melahirkan generasi islam yang unggul, bagaimana caranya? Salah satunya dengan menikah yang sekufu sama kita, karena dengan begitu nantinya dasar-dasar pendidikan untuk anak kita udah nggak ribet lagi berdebat sana-sini. Nikah itu menyatukan 2 pikiran orang yang berbeda, kalo beda kufu pasti beda juga cara padangnya. Kalo beda cara pandangnya adanya ribet kedepannya, padahal nikah itu ibadah. Kenapa dibuat ribet kalo bisa dibuat simple?

Saya: halal pancen rasis kak awakmu, kader garis keras!

Setelah obrolan singkat tersebut akhirnya saya penasaran sendiri, hingga akhirnya setelah banyak membaca, melihat, mendengar, dan berdiskusi, sekarang saya bisa menerima dan memahami alasan dibalik itu semua. Karena setiap muslim itu ikut bertanggung jawab untuk melahirkan generasi penerus terbaik untuk umat islam. Seperti cerita idris dan ruqayyah yang melahirkan ulama besar sepanjang sejarah bernama syafi’i atau najmuddin dengan seorang gadis yang akhirnya melahirkan seorang pahlawan yang mengembalikan kaum muslimin ke baitul maqdis di palestina yang bernama shalahuddin al-ayyubi. Jika ditelaah kembali ternyata awalnya mereka menikah itu selain atas izin Allah tentunya, mereka juga mempertimbangkan sekufuan pasangannya. Dari  situ saya belajar bahwa nikah sekufu itu menurut saya pribadi penting. Tapi bukan wajib juga ya, diusahakan sebisa mungkin sekufu, kalau pun tidak bisa. Yaudahlah ya, sambil jalan pelan-pelan aja di sekufu kan gapapa, karena menurut saya dengan mencari pasangan yang sekufu kedepannya kita akan lebih mudah fokus beribadah dan mencetak generasi-generasi unggul.

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu? #PartAYAH

Kalo di keluarga lain mungkin ada yang memanggilnya dengan sebutan bapak, bokap, dady, dll but untuk di keluarga saya manggilnya AYAH. Diantara anggota keluarga, ayah ini orang yang paling agamis pake banget, mungkin karena basic keluarga besar ayah yang merupakan keturunan Kyai a.k.a ustad jadi tidak dipungkiri kalo akhirnya kebawa ke anak-anaknya tak terkecuali ayah saya. Keluarga besar ayah, bisa dibilang keluarga besar layaknya keluarga jaman penjajahan, saudara ayah ini jumlahnya belasan dan ayah saya merupakan anak bontot dari jumlah saudara belasan itu. Jadi kamu bisa bayangin bagiamana kucelnya ayah saya, hidup di jaman penjajahan dengan jumlah saudara belasan yang mana secara tidak langsung membuat sosok ayah bisa dikatakan kurang gizi. Alhasil ayah jadi bantet alias lebih pendek dari pada saya. Eits bukan maksud menghina atau merendahkan tapi ya kenyataannya gitu. Tapi kalo masalah wibawa 100% saya kalah telak, mungkin kita hidup di masa yang berbeda. Sehingga wibawanya berbeda jauh. Ha..ha…ha…

MelatiPurple3397

Ayah.

Ayah ini lahir di cilacap tahun 1959 bulan dan tanggalnya sampai sekarang masih jadi misteri antara bulan april atau September dan tanggalnya juga sama antara 6 atau belasan. Kenapa? mungkin karena ayah kebanyakan saudara sampai-sampai kakek-nenek saya lupa buat akte kelahiran untuk ayah. Ha…ha…ha… lahir di keluarga yang sederhana tapi amat sangat terpandang di desanya. Majenang A.K.A pahonjean sebuah desa kecil di perbatasan antara jawa tengah dan jawa barat, masuknya sih kabupaten cilacap tapi bahasa yang dipakai disana ada 2, sunda dan jawa.

Menurut saya Ayah ini bisa dibilang suami ideal idaman para wanita, ha…ha…ha…ha…ha…. Kenapa? karena beliau merupakan sosok pekerja keras, rajin ibadah, ganteng, pinter masak, dan sederhana. Kalo kebanyakan orang semakin tua itu semakin jelek tapi hal itu nggak berlaku untuk ayah, karena semakin tua ayah malah semakin ganteng. Oh, iya hal yang paling berkesan buat saya adalah hobi ayah yang cukup unik. ‘KENTUT alias BUANG GAS’, ya sebetulnya bukan hanya ayah saja sih, tapi hampir semua keluarga besarnya suka kentut sembarangan dan suaranya merdu alias gede dan kenceng tapi anehnya nggak bau. Mungkin kalo diukur nadanya bisa tembus 11 oktaf tingginya. Ha…ha…ha…

Ayah sering bercerita dulu setelah lulus STM/SMK ayah binggung ingin melanjutkan kuliah tapi tidak ada biaya karena mbah putri waktu itu tidak bekerja dan mbah putra sudah meninggal. Walaupun begitu ayah tidak menyerah meraih mimpi mendapatkan pendidikan yang tinggi, alhasil ayah berhasil menjadi sarjana di antara saudara-saudara kandungnya yang notabene waktu itu untuk menjadi sarjana sangat susah banget ya, beda seperti jaman sekarang. Menurut saya ayah ini sosok inspiratif banget, dengan keterbatasan tapi tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk meraih mimpinya. Selain itu juga beliau merupakakan sosok yang demokrasi dan paling terbuka untuk seorang kepala rumah tangga.

Ayah ini orang yang paling sabar diantara anggota keluarga yang lain, kenapa begitu? Karena selama saya beranjak dewasa sampai sekarang hidupnya itu nggak pernah jauh-jauh dari ujian Allah. Mulai ngopeni sakitnya almarhumah ibu saya selama belasan tahun, terus dilanjutkan ngopeni kakak kedua saya yang mulai sakit-sakit’an setelah almarhum meninggal. Terus waktu ayah menikah lagi ternyata istri kedua’nya atau ibu sambung saya juga sakit-sakit’an. Ditambah menghadapi kakak pertama saya yang kerasnya audzubillah. Beliau juga sempat merangkap jabatan menjadi ibu rumah tangga selama 2 tahun pasca ditinggal almarhumah ibu.

DSC00028

Ayah dan ibu (alm).

Semeninggalnya almarhum mendadak ayah menjadi duren (duda keren), karena dulu ayah sempat dikejar-kejar sama 3 orang perempuan bakal calon ibu, sampai-sampai dulu ada yang ngirim surat, ngirim makanan, ngirim anaknya buat pdkt sama ayah. Tapi mungkin bukan mereka bertiga next mother buat saya, eh malah orang yang sebelumnya tidak pernah main kerumah. Dulu, ayah menikah dengan ibu tiri saya yang sekarang juga tergolong cepat dan gentel, beliau datang dikenalin sama temannya, terus main kerumah orang tuanya, bilang mau menikahinya. Dan jeng…jeng…, jadilah sekarang saya punya ibu lagi.

IMG20160221171928

Ayah dan ibu tiri.

Ayah juga merupakan sosok yang bisa dikatakan setia, walaupun terkadang suka menjengkelkan sih, tapi untungnya masih taraf wajar. Disaat logika akal sehat kebanyakan orang akan memilih untuk menyerah dan meninggalkan tapi beliau tetap memilih setia ngopeni almarhumah ibu, kakak kedua, serta istri keduanya. Dibalik kesetiannya ayah merupakan sosok yang paling amat sangat tidak romantis (bagi kebanyakan wanita), Seumur hidup ayah tidak pernah bilang cinta sama ibu. tapi dibalik itu semua mungkin menurut saya ayah mempunyai bahasa yang amat sangat berbeda dari kebanyakan laki-laki diluar sana. Ayah merupakan sosok laki-laki yang gentle, Ayah dan ibu dulu ketemu tidak pakai pacaran segala melainkan ayah langsung melamar ibu dan mengajaknya nikah.

Menurut saya, bahasa cinta ayah adalah bahasa cinta tertinggi dari mencinta itu sendiri, beliau tidak suka mengucapkan kata-kata romantis. Tapi semeninggal almarhum ibu, saat saya hanya berdua dengan beliau, saya menanyakan secara 4 mata kepada ayah ‘apakah ayah mencintai ibu?’. Beliau jawab ‘ya, ayah mencintai ibu karena Allah’. Awalnya saya sempat binggung, hingga akhirnya saya baru menyadari ternyata selama ini bahasa cinta beliau itu sangat berbeda dari sebagian besar laki-laki. Kata orang mencintai karena Allah itu artinya membawa orang yang kamu cintai kepada jalan islam yang sesungguhnya, tegak di atas manhaj salafush sholeh. Beliau mencintai ibu karena Allah dan beliau benar-benar merealisaikan cintanya itu. Kok saya bisa yakin? Karena, ayah benar-benar mengajarkan ilmu agama kepada almarhum hingga akhir hayat ibu. Dari dulu almarhum yang nggak mau dan nggak bisa ngaji sampai khatam sebelum beliau meninggal, sholat malam yang tadinya malas sampai rajin hingga akhir hayatnya, dari nggak pernah duhah jadi mau sholat duhah, dll. Dan itu waktunya tidak sebentar, bayangkan saja untuk menggerakkan hatinya agar mau melakukan itu semua dibutuhkan waktu seumur hidup pernikahannya yang puluhan tahun itu. Dari situ saya belajar banyak hal, terutama makna dari mencintai pasangan kita karena Allah.

Ayah dari segi agama sudah tidak diragukan lagi. Beliau amat sangat ketat dalam hal pendidikan agama. Baginya, agama itu nomor satu, oleh karena itu sejak kecil saya sudah dibiasakan untuk menjalankan syariat islam yang baik dan benar. Sebagai contoh jika tidak sholat atau telat sholat jama’ah pilihannya hanya 1, dipukul/disabet. Waktu awal digitukan sempat kesal banget sih, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya saya menyadari betul manfaatnya. Thank’s ayah.

Ayah berprofesi sebagai guru-PNS SMK, jurusan bangunan. Ayah itu orangnya pendiam, tapi enak untuk diajak diskusi dan bertukar pikiran. Kata murid-murid ayah di sekolah ayah itu guru yang galak dan tegas. Mungkin darisanalah wibawa ayah berasal. Beberapa malam pasca meninggalnya ibu, saya sering terbangun tengah malam dan disana saya baru menyadarinya ternyata dibalik sosok tangguhnya, ayah merupakan laki-laki yang berhati lembut. Menurut saya ayah merupakan sosok ayah yang paling suka ilhah, atau bahasa gampangnya merengek kepada Allah. karena beliau bisa menangis sesenggukan sejadi-jadinya ditengah malam yang gelap gulita.

IMG_5234

Saya bersama ayah.

Ayah selalu mengajarkan setiap anaknya “jangan terlalu suka menuntut, kalau kamu ingin sesuatu berusaha sendiri dulu sampai maksimal”. Bagi ayah hidup itu ibarat seorang pengembara. Seseorang yang memposisikan dirinya sebagai pengembara, akan menyadari bahwa hidupnya didunia hanya sementara dan membuatnya tak bisa berleha-leha. Pengembara tak akan sempat berfikir untuk bermain-main, karena perjalannya begitu tak tertebak.

Namanya SAEFUDIN sosok teman, ayah, suami dan kepala keluarga idaman yang mungkin dizaman yang modern sekarang ini sulit dijumpai. Beliau merupakan role model pertama saya ketika kelak menjadi kepala rumah tangga, baik dari segi kesabaran, kesetiaan, agama, dll.

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu?

Kali ini saya ingin mencoba menulis tentang keluarga inti saya. Cekidot!!!. “Seberapa kenal  kamu dengan keluargamu?”. Berawal dari pertanyaan kepada diri sendiri. Dan akhirnya terus kepikiran hingga berlanjut untuk buat tulisan tentang keluarga saya. Sedikit gambaran, keluarga saya adalah keluarga kecil yang terdiri dari 5 anggota keluarga. Saya merupakan anak terakhir dan saya mempunyai 2 orang kakak perempuan. Masing-masing dari kami, umurnya berjarak 2 tahun. Keluarga saya merupakan keluarga padang-jawa. Oh, iya saya punya ibu tiri/ibu sambung. Nantinya tulisan berikutnya akan membahas opini saya tentang masing-masing anggota keluarga saya. Urut dari ayah, ibu, ibu tiri, dan kakak-kakak saya.

IMG_9300

Kiri-kanan (Suami kakak 1, kakak 1, ayah, ibu tiri, kakak 2, saya).