Trumbu karang, zooxanthella, dan perubahan iklim global

Banyak karang mengandalkan alga simbiotik mereka untuk bertahan hidup. Di bawah tekanan (seperti suhu yang lebih tinggi) hal ini dapat membuat alga simbiotik keluar dari karang dan terjadi pemutihan pada karang. Sebelumnya telah dilaporkan bahwa karang dapat pulih dari pemutihan karang dengan mengubah jenis ganggang mereka. Namun, sebuah studi penelitian baru menunjukkan bahwa kurang dari seperempat dari spesies karang bisa melakukan ini.

Karang yang telah teridentifikasi untuk bertahan hidup ketika suhu dinaikkan adalah mereka yang menjadi tempat dari beberapa jenis alga simbiotik. Tapi karang jenis tersebut merupakan yang minoritas. Sebuah tinjauan data yang diterbitkan, oleh Tamar L. Goulet dari University of Mississippi, menunjukkan bahwa hanya 23% dari karang termasuk dalam kategori ini. Dia melihat 43 studi dari 442 spesies karang. Jika perubahan iklim global terus terjadi, dia menyimpulkan bahwa banyak spesies karang simbiosis tidak dapat bertahan hidup.

Sejumlah penelitian baru pada genotipe zooxanthella dikarang telah berfokus pada pergantian zooxanthella. Para peneliti telah menyarankan bahwa karang dapat bertahan hidup dari perubahan iklim global dengan cara beralih dari alga simbiotik mereka. Sejak 15 tahun pembagian clade dari zooxanthellae pertama kali diperkenalkan, banyak peneliti melaporkan identitas clade dari zooxanthellae di 442 spesies karang dari berbagai lokasi geografis. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan dataset guna melihat kemungkinan dari pergantian simbion jika terjadi perubahan iklim global.

Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan analisis data yang dilakukan ditingkat cladal dengan perbandingan lebih lanjut di tingkta clade. Untuk menentukan pola geografis, data dimasukkan dalam format tabel dalam GIS (Sistem Informasi Geografis) peta menggunakan ArcMap (V8.3, ESRI). Data diplot untuk mengungkapkan pola spasial dalam distribusi karang terhadap spesies hosting yang tunggal atau dari beberapa clades zooxanthella.

1
Data saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar spesies karang mungkin tidak dapat untuk mengubah populasi zooxanthella mereka. Hal tersebut didukung dengan bukti yaitu sebagai berikut :

  • Sebagian besar karang tuan rumah zooxanthella clade tunggal.
  • Spesies karang yang menjadi rumah tunggal dari clade zooxanthella tidak menunjukkan pergantian alga bahkan pada clade dengan tingkat yang sama.
  • Tidak ada studi yang telah menunjukkan bahwa spesies karang dengan hosting zooxanthella clade tunggal membentuk kombinasi simbiosis baru dengan ‘zooxanthellae cryptic’.

Mengingat data yang tersedia saat ini, mayoritas karang bersimbiosis dengan zooxanthella clade tunggal. Mungkin ada beberapa jenis karang yang dapat bersimbiosis lebih dari satu clade pada satu tempat tetapi koloni karang individu tidak beralih jenisnya dari waktu ke waktu, ketika ditransplantasikan ke lingkungan yang berbeda atau ketika mengalami stres seperti penyakit atau meningkat suhu. Dalam konteks perubahan iklim global, mayoritas spesies karang mungkin tidak dapat beralih simbion dan mungkin dalam bahaya besar. Bagaimana sisanya 23% spesies karang mampu bersimbiosis dengan beberapa clades zooxanthella. Namun bagi sebagian besar karang, pertanyaannya adalah bukan apakah perubahan simbion adalah mungkin, tetapi bagaimana dengan kondisi simbiosis yang ada dapat bertahan hidup. Jika perubahan iklim global terus terjadi, terumbu karang mungkin mengalami perubahan yang signifikan dalam keanekaragaman hayati, karena hanya subset kecil dari spesies simbion hard coral dan octocoral yang dapat bertahan hidup.

Advertisements

PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR SECARA TERPADU DENGAN EKOWISATA BERBASIS EDUKASI DI PULAU SEMPU

PENDAHULUAN

Pulau Sempu adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan pulau jawa secara administratif berada di desa tambakrejo, kecamatan sumber manjing wetan , kabupaten Malang, jawa timur. Pulau yang ditumbuhi pepohonan tropis seluas 877 hektar ini adalah cagar alam yang di kelola oleh Balai konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA) dan Departemen Kehutanan Indonesia. Secara resmi tempat ini diakui sebagai cagar alam sejak 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan dasar undang-undangnya adalah UU nomer 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sehingga perlu dilakukannya pengelolaan untuk wilayah pesisir, termasuk pulau sempu.

ISI

Pulau sempu merupakan sebuah cagar alam, dimana bersadarkan peraturan pemerintah dibutuhkan SIMAKSI ( Surat Izin Masuk Wilayah Konservasi ) untuk masuk ke tempat tersebut, dengan proses yang panjang dan ketat. Pada umumnya, para penelitilah yang melakukan ini. namun kebingungan muncul saat website resmi pariwisata Indonesia mempromosikannya sebagai salah satu destinasi andalan Indonesia. Begitu pula website Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur pun menyebutkan Pulau Sempu sebagai salah satu potensi wisata. Media-media besar tak mau kalah mengeksposnya sebagai ‘salah satu surga tersembunyi Indonesia yang wajib dikunjungi’. Hingga pada akhirnya, masyarakat umumpun berpikiran bahwa wisata ke Pulau Sempu adalah hal wajar. Terlepas dari polemik boleh tidaknya Pulau Sempu dimanfaatkan sebagai tempat wisata, setiap yang datang tetap wajib menjaga kelestarian dan kebersihan tempat tersebut. Hal itulah yang saya takutkan dan disayangkan. Ketika hal yang sebenarnya ‘salah’ tapi dilakukan orang banyak, hal tersebut akan dianggap ‘benar’.

Namun pada kenyataanya, dilapangan, pengunjung yang tidak memiliki SIMAKSI tetap dapat memasuki pulau tersebut dengan membayar sejumlah uang ke petugas yang berjaga. Setelah membayar, pengunjung akan mendapatkan kertas yang menerangkan bahwa “kertas tersebut bukanlah surat izin masuk kawasan”, melainkan surat keterangan bahwa yang bersangkutan telah melapor sebelum memasuki pulau tersebut. Bagi penulis, hal seperti ini menjadi rancuh dan menimbulkan presepsi negatif terhadap petugas dilokasi, karena terkesan petugas mengambil keuntungan pribadi dengan cara  mewajibkan pengunjung melapor dan membayar sejumlah uang sebelum mengunjungi pulau sempu, tanpa memberikan SIMAKSI secara legal kepada pengunjung.

Tentang peraturan boleh berkunjung tidaknya memang belum jelas. Hingga sekarang saya tak menemukan kepastian tentang hal tersebut. Disini saya tidak bermaksud melakukan privatisasi Pulau Sempu yang seperti banyak disalahartikan hanya dapat ‘dinikmati’ oleh sebagian orang. Kembali ke UU no 5 tahun 1999 Bab 1 pasal 3 dimana konservasi Sumber daya alam bertujuan untuk mengusahakan keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu tersebut setidaknya memiliki sekitar 223 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 144 marga dan 60 suku. Dari 60 suku tersebut, telah diketahui lima suku yang memiliki jumlah individu, jenis dan marga yang relatif dominan. Kelima suku tersebut adalah Moraceae, Euphorbiaeceae, Anacardiaceae, Annonaceae, dan Sterculiaceae. Sedangkan untuk jenis fauna ada sekitar 51 jenis yang terdiri dari 36 jenis aves, 12 jenis mamalia dan tiga jenis reptil. Adapun yang paling sering dijumpai diantaranya babi hutan (Sus scrofa), kera hitam (Presbytis cristata), belibis (Dendrosyqna sp) dan burung rangkong atau Buceros undulates (Ayu, 2015).

Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu yang dimaksud adalah pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan (envorenmental services) yang terdapat di kawasan pesisir; dengan cara melakukan penilaian meenyeluruh ( comprehens  assessment) tentang kawasan pesisir beserta sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan saran pemamfaatan, dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya; guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Proses pengelolaan ini di lakukan secara kontinu dan dinamis dengan mempertimbangkan segenap aspek sosial ekonomi budaya dan aspirasi masyarakat pengguna kawasan pesisir (stakeholders) serta konflik kepentingan dan konflik pemanfaatan kawasan pesisir yang mungkin ada (Pengertianilmu, 2015).

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu Pertama dengan melakukan resource assessment atau inventarisasi data tentang sumberdaya di kawasan pesisir (fisika, biologi, sosekbud, penggunaan lahan.). kemudian Impact assessment: analisis kerentanan kawasan pesisir terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan, sebagai alat bantu dalam perancangan kegiatan mitigasi dan manajemen adaptif (analisis SIG). Selanjutnya Policy and regulatory framework: pembuatan kerangka kebijakan dan aturan pengelolaan, berdasarkan analisis peraturan perundangan yang berlaku untuk menanggulangsi ancaman (analisis UU). Socio-cultural & Economic assessment: pemahaman kondisi sosial ekonomi sampai dengan level lokal untuk menentukan kegiatan mata pencaharian alternatif untuk memperkuat kapasitas masyarakat setempat. Implementation: bagaimana penerapan dan pengembangan sains dalam kegiatan manajemen kawasan pesisir, berdasarkan ketentuan dasar yang ditentukan (misal: pedoman kawasan budidaya, kawasan pemukiman). Monitoring and evaluation: penilaian terhadap keberhasilan program dan melakukan manajemen adaptif.

Untuk menunjang edukasi-nya dilakukan dengan cara pendidikan bagi masyarakat lokal dimana diharapkan masyarakat lokal yang sekaligus sebagai guide nantinya dapat menjelaskan dan mengedukasi wisatawan yang datang ke pulau sempu. Untuk selanjutnya diharapkan bisa dilakukan briefing dan pelatihan kader ekowisata. Sedangkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dipulau sempu bisa dilakukan dengan cara pembatasan pengunjung pada bulan-bulan tertentu dan ditutup total pada bulan-bulan tertentu dimana diharapkan akan terjadi pemulihan ekosistem pulau sempu saat penutupan total. Untuk menunjang pemulihan ekosistem pulau sempu bisa menggunakan beberapa cara yaitu Mengidentifikasi dan melindungi daerah-daerah kritis yang secara alami bertahan dari perubahan, Menetapkan zona penyangga dan greenbelts,  Mengembalikan daerah yang rusak, yang mana daerah tersebut telah menunjukkan resistensi atau kelentingan terhadap perubahan, Melaksanakan strategi adaptif untuk mengkompensasi perubahan/pergeseran lokasi hidup tiap spesies dan kondisi lingkungan,  Mengembangkan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat,  Membangun kemitraan dengan berbagai stakeholders untuk menghasilkan dana dan dukungan yang diperlukan untuk merespon dampak perubahan iklim,

KESIMPULAN

Untuk mengembangkan Pengelolaan Pulau Sempu tidak hanya terpaku pada cagar alam saja, untuk itu diperlukan sebuah manajemen dan koordinasi terkait untuk melaksanakan rencana oleh berbagai pihak yang terlibat didalamnya.

REFERENSI

Damastuti, Ayu Sri. 2015. Penerapan Ekowisata di Sebuah Cagar Alam?. http://www.kompasiana.com/ayusri/penerapan-ekowisata-di-sebuah-cagar-alam_551c10f581331155019de1a0. Diakses pada 28 September 2015.

Pengertianilmu. 2015. Konsep dan Definisi pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut. http://www.pengertianilmu.com/2014/12/konsep-dan-definisi-pengelolaan-wilayah.html. Diakses pada 28 September 2015.

PEMODELAN DALAM METEOROLOGI KELAUTAN UNTUK DUNIA PERIKANAN DAN KELAUTAN

PENDAHULUAN

Sejarah pengamatan meteorologi di Indonesia dimulai pada tahun 1841 diawali dengan pengamatan yang dilakukan secara perorangan oleh Dr. Onnen, Kpl Rumah Sakit Bogor. Tahun demi tahun kegiatannya berkembang sesuai dengan semakin diperlukannya data hasil pengamatan cuaca dan geofisika. Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut oleh Pemerintah Hindia Belanda diresmikan menjadi instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi yg dikepalai Oleh Dr. Bergsma
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, instansi tersebut dibagi menjadi dua yaitu: Di Yogyakarta dibentuk Biro Meteorologi yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus untuk melayani kepentingan AL. Di Jakarta dibentuk sebuah Jawatan Meteorologi dan Geofisika, dibawah Kementerian Pekerjaan Umum & Tenaga(Heru, 2013).

Pada tahun 1972, Direktorat Meteorologi & Geofisika diganti namanya menjadi Pusat Meteorologi & Geofisika, suatu instansi setingkat eselon II di bawah Departemen Perhubungan, & pada tahun 1980 statusnya dinaikkan menjadi suatu instansi setingkat eselon I dengan nama Badan Meteorologi & Geofisika, dengan kedudukan tetap berada di bawah Departemen Perhubungan. Dari pemahaman iklim Indonesia dapat kita lihat Proses interaksi laut atmosfir yang spesifik terjadi di Indonesia Proses interaksi laut atmosfir dalam ilmu kebumian merupakan hal terpenting yang sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia terutama di daerah pesisir. Ilmu meteorology di Indonesia merupakan ilmu dasar yang kurang diminati sehingga perkembangannya dibandingkan ilmu kebumian lainnya seperti geofisika, geologi dan kelautan sangat jauh tertinggal. Pemahaman atas proses fisis kebumian atmosfir Indonesia masih terbilang jauh tertinggal dibandingkan bidang ilmu kebumian lainnya. Kurangnya minat mempelajari meteorology karena sering dihubungkan dengan salah satu pekerjaan meteorology, untuk meramal cuaca atau iklim. Padahal pengkajian ilmu meteorology cukup luas meliputi berbagai aspek. Di Negara maju yang terbilang tinggi dengan empat musim masalah kebumian lain selalu dihubungkan dengan perubahan fisis meteorologi yang terjadi. Hal ini karena pada dasarnya hamper semua aspek kehidupan manusia dipengaruhi oleh keempat musim tersebut dan variasinya. Variasi iklim utama di Indonesia adalah faktor musiman yang dikenal dengan istilah monsoon. Oleh karena itu penting untuk mempelajari meteorologi laut secara umum dan khusus.

ISI

Keberadaan variasi cuaca dan iklim membawa dampak yang terkadang cukup serius bagi kehidupan manusia, hal ini karena terlalu ekstrimnya fluktuasi tersebut. Meskipun demikian karakteristik cuaca regional juga ditentukan selain faktor orografis, juga letak lintangnya. Pentingnya interaksi laut atmosfir di Indonesia dapat dilihat paling tidak diwilayah yang paling berperan ekonomis yaitu disekitar garis pantai. Proses-proses kecil ini terjadi seantero nusantara dan berperan penting bagi sifat iklim regional. Perubahan akibat variasi ekstrim bersifat sesaat, sedangkan ada lagi faktir perubahan laten lainnya yang terjadi pada iklim global yang sedang dialami bumi. Akibat faktor natural dan antropogenik cuaca dan iklim berubah secara perlahan dari kestabilan normal tertentu menuju kestabilan yang baru. Artinya apabila dahulu kondisi yang sama berada pada bagian ekstrim, maka kejadian tersebut akan lebih sering terjadi sehingga merubah rata-rata statistic cuaca pada umumnya. Kondisi ini terjadi secara global meskipun tanda-tandanya sangat sukar dideteksi karena perubahan yang terjadi berlangsung dalam rentang waktu yang sagat lambat dan lama. Perubahan ini dikenal dengan isttilah perubahan iklim global(Asep, 2015).

Model iklim saat ini telah dapat dimasukkan dalam sebuah komputer pribadi dan dijalankan untuk menghitung secara kompregensif kondisi alam yang terjadi. Hasil dari model iklim seperti ini seringkali berhasil memberikan gambaran skala luas fenomena yang terjadi meski tidak pada skala yang terlalu detail. Hal ini karena model iklim menyediakan hasil komprehensif yang diluar imaginasi manusia sebelumnya dan tidak terbayangkan oleh teori linear dan observasi pada titik-titik tertentu dimuka bumi. Model iklim telah menjadikan ilmu meteorologi suatu ilmu dan fenomena favorit dari yang tidak terbayangkan sebelumnya(Mamad, 2014). 

a

Model dibuat untuk membuat prediksi secara kuantitatif (deterministik atau probabilistik) yangdapat digunakan baik untuk menguji dan menyempurnakan model sebelumnya, atau untuk digunakan secara praktis. Pemodelan untuk prediksi kuantitatif iklim dikelompokkan atas pendekatan deterministik dan stokastik atau kombinasi keduanya, yang disebut dengan pendekatan parametrik. Pada umumnya analisis dan pemodelan iklim untuk peramalan cuaca (iklim jangka pendek) dan berbagai pemodelan pertanian banyak didasarkan pada pendekatan deterministik, sedangkan model iklim untuk peramalan musim dan iklim (climate forcasting), seperti halnya anomali iklim akibat kejadian ENSO (El Niño/Southern Oscillation) atau hujan bulanan dan lain-lain, lebih sering menggunakan pendekatan stokastik atau model-model statistik. Namun dalam praktek, sebenarnya tidak ada analisis dan model iklim yang secara murni (mutlak) menggunakan salah satu dari kedua pendekatan tersebut, tetapi hanya berupa kecenderungan. Pendekatan deterministik atau analisis sistem dalam model dan analisis prediksi iklim didasarkan pada “proses fisis” dan/atau hubungan sebab akibat dari beberapa unsur atau komponen dalam sistem atmosfer, darat, dan lautan(Suhartono, 2009).

b

Untuk model stokastik, beberapa yang sudah dikembangkan di Indonesia di antaranya model Autoregressive Integrated Moving Average atau ARIMA, Fungsi Transfer, Adaptive Splines Threshold Autore-gression atau ASTAR. Beberapa model prediksi iklim yang sering digunakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah ARIMA, tranformasi wavelet, dan Adaptive Neuro-Fuzzy Inference Systems atau ANFIS.  Permasalahan yang sering muncul dalam hal ini adalah tidak terpenuhinya asumsi kestasioneran, dimana seringkali dijumpai kondisi yang berbeda-beda pada setiap lokasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa model-model tersebut spesifik atau hanya bisa diaplikasikan untuk lokasi tertentu saja. Model-model prediksi iklim yang berkembang saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan. Contoh-contoh pendekatan model spatio-temporalm antara lain model Space-Time AutoRegressive Moving Average (STARMA), yang merupakan pengembangan model deret waktu ARMA dari Box-Jenkins di beberapa lokasi, atau dinamakan model vektor deret waktu. Model Space-Time AutoRegressive (STAR) yang merupakan bagian dari model STARMA memiliki keterbatasan, yaitu model tersebut mengasumsikan bahwa parameter untuk semua lokasi yang tersampel bernilai sama, artinya lokasi-lokasi yang diamati bersifat serba sama atau homogendari (Pfeifer, 1980).

KESIMPULAN

Pemodelan dalam meteorologi laut untuk dunia perikanan dan kelautan di era moderen sekarang ini penting, hal ini karena sudah ada pergeseran iklim yang ekstrim dan konstan sekarang ini akibat dari iklim global. Perkembangan meteorologi laut sekarang sudah sangat pesat dibandingkan dulu.

REFERENSI

Triyanda, Heru. 2013. Meteorologi Laut. Http://Kuliahkelautan.Blogspot.Co.Id/2013/02/Meteorologi-Laut.Html.

Pfeifer, P.E dan Deutsch, S.J. 1980. Stationarity and Invertibility Regions for Low Order STARMA Models.  Communications in Statistics-Simulation and Computation 9 (5). P. 551-562.

Suhartono, Sutikno, Otok, B.W., dan Setiawan. 2009. Pengembangan model prakiraan iklim untuk pengendalian ketahanan pangan. Laporan Penelitian Strategis ITS, Surabaya

Irwan, Asep. 2015. Bahan Kuliah Meteorologi Laut (1). http://www.scribd.com/doc/46093009/Bahan-Kuliah-Meteorologi-Laut-1#scribd.

Tamamadin, Mamad. 2014. Perkembangan Model Iklim di Indonesia. https://mamadtama.wordpress.com/category/pemodelan-meteorologi/.

Kamu pemuda? #Keresahan

Jalan-jalan itu nggak harus selalu tentang tempat wisata atau tempat hits, karena terkadang kamu cukup jalan ke lingkungan baru disekitarmu dan coba deh berhenti beberapa saat sambil melihat sekeliling. Simple sih kelihatannya, bahkan mungkin kurang kerjaan. Tapi darisana saya jadi mengerti bahwa Negara ini sedang sakit, sakit parah dan kronis!. Kenapa saya bilang sakit? Karena pemuda sekarang pada sakit, bukan sakit fisik yang saya maksud tapi lebih parah. MENTAL!. Sungguh gelisah hati ini mengetahui betapa sakitnya Negara ini, bukan hanya dari korupsi yang sudah mendarah daging dan sistematis, bukan juga tentang impor garam di Negara maritime, tapi lebih dari itu. Padahal Indonesia itu Negara besar dan mempunyai generasi pemuda terbanyak di dunia, tapi jujur saya sebagai pemuda ikut miris melihatnya, karena itu kali ini saya ingin menulis opini tentang salah satu keresahan yang saya lihat, rasakan dan dengar.

Jika kita membicarakan dan menuliskan tentang Indonesia tidak akan terlepas dari yang namanya permasalahan masyarakat dan problematika sosial. Terlebih lagi diera digital seperti sekarang ini, tidak hanya terbatas dengan usia. Baik muda ataupun tua semuanya bermasalah. Sejarah berbagai bangsa di dunia ini telah membuktikan bahwa pergerakan kaum muda-lah yang mengawali setiap perjuangan kemerdekaan, setiap perubahan serta setiap pembangunan arah sebuah bangsa ditentukan oleh pemuda bangsa tersebut. Bahkan sang proklamator Indonesia sendiri berucap “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Hal ini menandakan bahwa peran pemuda sangat besar untuk kemajuan suatu bangsa.

Screenshot_2015-12-24-10-31-51

Sayangnya kenyataan sekarang ini sangat jauh dari kategori ideal seorang pemuda. Kini pemuda pemudi kita lebih suka peranan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Lebih suka nge Facebook, instagram, twitter, dan intinya lebih suka aktif di media sosial, lebih suka di forum ketimbang duduk mufakat untuk kemajuan RT, RW, Kecamatan, Provinsi bahkan di tingkat lebih tinggi adalah Negara. Selaku Pemuda kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak.

Hal ini sangat tercermin dari prilaku pemuda zaman sekarang yang notabene lebih suka yang serba instan dan malas serta kurang menghargai proses. Mungkin ini merupakan efek domino, dimana sejak pendidikan dini kita terbiasa didikte. Di era moderen sekarang Pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan bangsa ini. Peranan pemuda dalam sosialisasi bermasyarakat sungguh menurun dratis, dulu biasanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah pemuda sekitar. Namun pemuda sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu. Hal ini dapat menyebabkan dampak negatif seperti berkurangnya rasa peduli pemuda dan meningkatnya pengangguran dikalangan pemuda. Sungguh ironis.

Apa arti pemuda? Menurut saya pemuda adalah sosok individu yang masih berproduktif yang mempunyai jiwa optimis, berfikir maju, dan berintelektual. Dan hal yang paling menonjol dari pemuda ialah semangatnya untuk berinovasi mencari solusi permasalahan yang ada. Dari beberapa permasalahan diatas salah satu solusinya adalah Membuka lapangan kerja, walaupun itu sifatnya kecil seperti industry rumah tangga. So, degan demikian kita sebagai generasi muda bangsa Indonesia, diharapkan bisa berkarya, walaupun itu hanya hal kecil sekalipun. Bukankah itu tujuan pendidikan selama ini?.

Mungkin itu salah satu kegelisahan yang berhasil saya tangkap lewat melihat, merasakan dan mendengar. Mendengarkan disini bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan jiwa.

Pendidikan itu semacam hati yang rindu untuk selalu menjadi lebih baik.

Leprosy?

Bahasa kerennya leprosy, sebuah istilah untuk penyakit yang baru saya ketahui beberapa hari belakangan, karena saya belum tau banyak tentang istilah leprosy akhirnya saya kepo lebih dalam lagi tentang istilah yang satu ini. Yap, akhirnya setelah browsing kesana-kemari sayapun menyimpulkan leprosy itu adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, biasanya menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. kalau orang awam biasa menyebutnya ‘Kusta’. Tanda-tanda kemungkinan terkena Leprosy / Kusta antara lain dapat dilihat pada kulit yaitu kelainan pada kulit berupa bercak kemerahan, keputihan atau benjolan, kulit mengkilap, bercak yang tidak gatal, adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat dan tidak berambut, lepuh dan tidak nyeri. Dan fakta mengejutkannya ternyata Indonesia sendiri merupakan negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak dengan peringkat ketiga di dunia setelah India dan Brazil, dengan jumlah penderita terbanyak di Jawa Timur, Papua, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Parahnya lagi, sering kali seorang yang telah terkena kusta walaupun sudah dinyatakan sembuh dari kusta tetap menyandang predikat penderita kusta dan terkadang bahkan dikategorikan sebagai penyandang disabilitas. Menurut pendapat saya, Masih banyak yang mendefinisikan hal yang mereka alami sehari-hari sebagai kewajaran padahal itu ketidakadilan. Gangguan fisik seharusnya tidak lantas menjadi judgment bahwa seseorang itu tidak mampu melakukan tugas atau bahkan diasingkan. Sebagai contoh lain difabel netra mampu “melihat” tetapi dengan cara lain, yaitu dengan meraba huruf braille. Baik difabel maupun nondifabel adalah manusia normal yang mempunyai rasional berpikir. Menjadi difabel bukanlah sebuah pilihan. Jadi bukan zamannya lagi untuk mendiskriminasi para penderita kusta, khususnya di Indonesia. Kita sebagai orang “normal” hanya perlu merubah sudut pandang kita dengan edukasi yang lebih banyak tentang kusta dan terakhir menurut saya, tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa dan masyarakat dapat diukur antara lain dari bagaimana bangsa dan masyarakat tersebut memperlakukan para difabel atau penyandang kusta. Mungkin itu sedikit tulisan singkat tentang istilah yang baru saja saya ketahui. No offense, just share my opinion.