Seberapa kenal kamu dengan keluargamu? #PartIBU

Sosok yang bisa dibilang saya belum mengenal secara dalam betul. Karena waktu almarhumah meninggal saya bisa dibilang bocah ingusan(SMP). So, saya belum mengenal banget. Tapi saya akan mencoba menuliskan kesan yang pernah saya tangkap dan saya rasakan langsung.

DSC00035

Ibu.

ibu lahir di padang, bulan april. Sama dengan ayah (kalo tanggal dan bulannya benar). Ibu dibesarkan di keluarga pedagang waktu jaman penjajahan. Ibu orang yang sederhana dan bisa dibilang wanita tangguh. 10-11 dengan ayah, ibu punya saudara kandung jumlahnya 10 dan ibu merupakan salah satu anak tertua. Kadang saya suka binggung kenapa orang yang hidup jaman penjajahan itu anaknya banyak banget, beda seperti zaman sekarang 2 anak cukup. Ha…ha…ha…

Ibu keturunan darah murni padang jadi kamu bisa bayangin gimana karakteristiknya. Sebagaimana karakteristik umum orang padang, ibu itu pinter secara intelektual maupun masakan serta pelayanan kepada suami. Menurut saya sejauh ini sosok ideal  buat calon istri. Ha…ha…ha… tapi sayang kebanyakan orang Sumatra itu wataknya keras dan perasa, tak terkecuali ibu. Alhasil sifat perasanya itu turun ke anak-anaknya. Ibu dulu selalu cerita jika keluarga ibu punya rumah gadang di kampung (padang)  yang sekarang dijadikan sebagai cagar budaya di padang. Ibu pula yang menurunkan marga chaniago kepada saya. Kata beliau marga bangsawan.

Ibu ini sosok ibu penyabar, setia, pemalu, kuat dan sayang dengan keluarga. Dibesarkan di dalam keluarga tanpa sosok seorang ayah ataupun ibu sejak kecil tidak membuatnya kehilangan arah akan kehidupan. Dari sekian banyak kenangan yang ada antara saya dan ibu ada beberapa yang paling berkesan. Diantaranya adalah sosok pemalunya, masakannya, kelembutan dan kehangatan seorang ibu yang mungkin sudah lama sekali tidak pernah saya rasakan semenjak beliau meninggal. Dan diantara itu semua saya paling kangen sama bau badannya. Entah kenapa khas dan saya kangen banget sama itu.

DSC01028

Ibu pasca operasi terakhir, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kesabaran dan ketangguhan ibu sudah tidak diragukan lagi, mengidap penyakit kanker kronis selama belasan tahun tidak membuatnya menyerah hingga titik darah penghabisan. Beliau adalah sosok yang sangat pemalu, saking pemalunya seumur hidup saya tidak pernah mendengar dia bernyanyi dan bahkan saat mengaji/tadarus pun beliau sampai mengunci pintu kamarnya karena tidak ingin didengar oleh orang lain bahkan oleh anaknya sendiri. Ibu itu sosok yang tangguh, walaupun beliau sakit-sakitan tetapi tetap mampu bekerja, mengurus rumah dan anak. Katanya untuk menjaga izzah-nya, walaupun beliau perempuan. Jika menurut saya mungkin karena beliau adalah sosok panutan bagi adik-adiknya waktu itu, jadi harus menjadi sosok yang tangguh dan contoh untuk adik-adiknya.

DSC00155

Makam almarhum ibu.

Kata orang meninggal itu tidak melihat umur, awalnya saya tidak percaya tapi ternyata Ibu meninggal disaat usianya masih terbilang muda dan produktif sekali, sekitar umur 40’an. Sebetulnya ada banyak penyesalan dalam diri saya karena belum sempat membahagiakannya. But waktu tidak bisa diputar dan hidup selalu berjalan semestinya, yang bisa saya lakukan adalah berbuat yang terbaik untuk sekarang dan kedepannya buat orang tua.

DSC00030

Ibu dan ayah.

Namanya Herry Fitri (Alm), sosok ibu dan istri idaman buat saya. Role model pertama dalam mendidik anak saya kelak. Entah kenapa saya berharap calon istri saya adalah orang berdarah Sumatra, khususnya Padang. Ha…ha..ha…

Advertisements

Sekufu?

Apa itu sekufu??. Kenapa diusahakan sekufu??. Pemahaman orang awam kebanyakan sekufu itu lebih condong ke pasangan yang akan diajak menikah. Mungkin 2 pertanyaan mendasar itu yang awalnya muncul dibenakku. Dulu saya golongan orang yang bisa dibilang paling menentang pemahaman sekufu, sampai akhirnya setelah membaca, mencari tahu, dan mentelaah dari segala aspek ternyata selama ini saya salah besar. Terutama tentang menikah, yang seharusnya diusahakan sekufu. Dulu, menurut saya nikah sekufu itu buat apa sih? Rasis banget!.  Jika di tinjau dari asal dan makna katanya Kafaah atau sekufu adalah kesetaraan antara laki-laki atau perempuan dalam beberapa ketentuan dan perkara khusus. Syarat sekufu itu ada lima dan telah ditetapkan dan tersurat dalam suatu syair tunggal yaitu nasab, agama, profesi, atau pekerjaan, kemerdekaan, tidak ada cacat atau cela.

            Awal mula saya tahu istilah sekufu adalah ketika dulu dialog singkat dengan kakak saya yang akan menikah. Beliau salah satu orang yang menjunjung tinggi asas ke kufuan.

Saya: kak kenapa sih ngebet banget nikah sama dia (calon kakak ipar)?

Kakak: kakak udah kenal dia dan menurut kakak dia sekufu sama kakak dian.

Saya: halah, rasis banget sih. Taulah emang kalian dulu sama-sama 1 kader di ….

Kakak: bukan rasis ji, menikah itu banyak pertimbangannya, kenapa kakak mencari yang sekufu? Itu karena menurut kakak menikah itu ibadah yang paling lama selama kita hidup.

Kakak: sekufu itu hanya salah satu jalan yang menurut kakak mempermudah ibadah kita sama Allah.

Kakak: kalo sekufu setidaknya kita sudah mempunyai visi dan misi yang sama dalam hidup ini.

Saya: emang visi dan misi kak dian hidup itu apasih?

Kakak: menurut kakak, kita sebagai muslim bertanggung jawab untuk melahirkan generasi islam yang unggul, bagaimana caranya? Salah satunya dengan menikah yang sekufu sama kita, karena dengan begitu nantinya dasar-dasar pendidikan untuk anak kita udah nggak ribet lagi berdebat sana-sini. Nikah itu menyatukan 2 pikiran orang yang berbeda, kalo beda kufu pasti beda juga cara padangnya. Kalo beda cara pandangnya adanya ribet kedepannya, padahal nikah itu ibadah. Kenapa dibuat ribet kalo bisa dibuat simple?

Saya: halal pancen rasis kak awakmu, kader garis keras!

Setelah obrolan singkat tersebut akhirnya saya penasaran sendiri, hingga akhirnya setelah banyak membaca, melihat, mendengar, dan berdiskusi, sekarang saya bisa menerima dan memahami alasan dibalik itu semua. Karena setiap muslim itu ikut bertanggung jawab untuk melahirkan generasi penerus terbaik untuk umat islam. Seperti cerita idris dan ruqayyah yang melahirkan ulama besar sepanjang sejarah bernama syafi’i atau najmuddin dengan seorang gadis yang akhirnya melahirkan seorang pahlawan yang mengembalikan kaum muslimin ke baitul maqdis di palestina yang bernama shalahuddin al-ayyubi. Jika ditelaah kembali ternyata awalnya mereka menikah itu selain atas izin Allah tentunya, mereka juga mempertimbangkan sekufuan pasangannya. Dari  situ saya belajar bahwa nikah sekufu itu menurut saya pribadi penting. Tapi bukan wajib juga ya, diusahakan sebisa mungkin sekufu, kalau pun tidak bisa. Yaudahlah ya, sambil jalan pelan-pelan aja di sekufu kan gapapa, karena menurut saya dengan mencari pasangan yang sekufu kedepannya kita akan lebih mudah fokus beribadah dan mencetak generasi-generasi unggul.

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu? #PartAYAH

Kalo di keluarga lain mungkin ada yang memanggilnya dengan sebutan bapak, bokap, dady, dll but untuk di keluarga saya manggilnya AYAH. Diantara anggota keluarga, ayah ini orang yang paling agamis pake banget, mungkin karena basic keluarga besar ayah yang merupakan keturunan Kyai a.k.a ustad jadi tidak dipungkiri kalo akhirnya kebawa ke anak-anaknya tak terkecuali ayah saya. Keluarga besar ayah, bisa dibilang keluarga besar layaknya keluarga jaman penjajahan, saudara ayah ini jumlahnya belasan dan ayah saya merupakan anak bontot dari jumlah saudara belasan itu. Jadi kamu bisa bayangin bagiamana kucelnya ayah saya, hidup di jaman penjajahan dengan jumlah saudara belasan yang mana secara tidak langsung membuat sosok ayah bisa dikatakan kurang gizi. Alhasil ayah jadi bantet alias lebih pendek dari pada saya. Eits bukan maksud menghina atau merendahkan tapi ya kenyataannya gitu. Tapi kalo masalah wibawa 100% saya kalah telak, mungkin kita hidup di masa yang berbeda. Sehingga wibawanya berbeda jauh. Ha..ha…ha…

MelatiPurple3397

Ayah.

Ayah ini lahir di cilacap tahun 1959 bulan dan tanggalnya sampai sekarang masih jadi misteri antara bulan april atau September dan tanggalnya juga sama antara 6 atau belasan. Kenapa? mungkin karena ayah kebanyakan saudara sampai-sampai kakek-nenek saya lupa buat akte kelahiran untuk ayah. Ha…ha…ha… lahir di keluarga yang sederhana tapi amat sangat terpandang di desanya. Majenang A.K.A pahonjean sebuah desa kecil di perbatasan antara jawa tengah dan jawa barat, masuknya sih kabupaten cilacap tapi bahasa yang dipakai disana ada 2, sunda dan jawa.

Menurut saya Ayah ini bisa dibilang suami ideal idaman para wanita, ha…ha…ha…ha…ha…. Kenapa? karena beliau merupakan sosok pekerja keras, rajin ibadah, ganteng, pinter masak, dan sederhana. Kalo kebanyakan orang semakin tua itu semakin jelek tapi hal itu nggak berlaku untuk ayah, karena semakin tua ayah malah semakin ganteng. Oh, iya hal yang paling berkesan buat saya adalah hobi ayah yang cukup unik. ‘KENTUT alias BUANG GAS’, ya sebetulnya bukan hanya ayah saja sih, tapi hampir semua keluarga besarnya suka kentut sembarangan dan suaranya merdu alias gede dan kenceng tapi anehnya nggak bau. Mungkin kalo diukur nadanya bisa tembus 11 oktaf tingginya. Ha…ha…ha…

Ayah sering bercerita dulu setelah lulus STM/SMK ayah binggung ingin melanjutkan kuliah tapi tidak ada biaya karena mbah putri waktu itu tidak bekerja dan mbah putra sudah meninggal. Walaupun begitu ayah tidak menyerah meraih mimpi mendapatkan pendidikan yang tinggi, alhasil ayah berhasil menjadi sarjana di antara saudara-saudara kandungnya yang notabene waktu itu untuk menjadi sarjana sangat susah banget ya, beda seperti jaman sekarang. Menurut saya ayah ini sosok inspiratif banget, dengan keterbatasan tapi tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk meraih mimpinya. Selain itu juga beliau merupakakan sosok yang demokrasi dan paling terbuka untuk seorang kepala rumah tangga.

Ayah ini orang yang paling sabar diantara anggota keluarga yang lain, kenapa begitu? Karena selama saya beranjak dewasa sampai sekarang hidupnya itu nggak pernah jauh-jauh dari ujian Allah. Mulai ngopeni sakitnya almarhumah ibu saya selama belasan tahun, terus dilanjutkan ngopeni kakak kedua saya yang mulai sakit-sakit’an setelah almarhum meninggal. Terus waktu ayah menikah lagi ternyata istri kedua’nya atau ibu sambung saya juga sakit-sakit’an. Ditambah menghadapi kakak pertama saya yang kerasnya audzubillah. Beliau juga sempat merangkap jabatan menjadi ibu rumah tangga selama 2 tahun pasca ditinggal almarhumah ibu.

DSC00028

Ayah dan ibu (alm).

Semeninggalnya almarhum mendadak ayah menjadi duren (duda keren), karena dulu ayah sempat dikejar-kejar sama 3 orang perempuan bakal calon ibu, sampai-sampai dulu ada yang ngirim surat, ngirim makanan, ngirim anaknya buat pdkt sama ayah. Tapi mungkin bukan mereka bertiga next mother buat saya, eh malah orang yang sebelumnya tidak pernah main kerumah. Dulu, ayah menikah dengan ibu tiri saya yang sekarang juga tergolong cepat dan gentel, beliau datang dikenalin sama temannya, terus main kerumah orang tuanya, bilang mau menikahinya. Dan jeng…jeng…, jadilah sekarang saya punya ibu lagi.

IMG20160221171928

Ayah dan ibu tiri.

Ayah juga merupakan sosok yang bisa dikatakan setia, walaupun terkadang suka menjengkelkan sih, tapi untungnya masih taraf wajar. Disaat logika akal sehat kebanyakan orang akan memilih untuk menyerah dan meninggalkan tapi beliau tetap memilih setia ngopeni almarhumah ibu, kakak kedua, serta istri keduanya. Dibalik kesetiannya ayah merupakan sosok yang paling amat sangat tidak romantis (bagi kebanyakan wanita), Seumur hidup ayah tidak pernah bilang cinta sama ibu. tapi dibalik itu semua mungkin menurut saya ayah mempunyai bahasa yang amat sangat berbeda dari kebanyakan laki-laki diluar sana. Ayah merupakan sosok laki-laki yang gentle, Ayah dan ibu dulu ketemu tidak pakai pacaran segala melainkan ayah langsung melamar ibu dan mengajaknya nikah.

Menurut saya, bahasa cinta ayah adalah bahasa cinta tertinggi dari mencinta itu sendiri, beliau tidak suka mengucapkan kata-kata romantis. Tapi semeninggal almarhum ibu, saat saya hanya berdua dengan beliau, saya menanyakan secara 4 mata kepada ayah ‘apakah ayah mencintai ibu?’. Beliau jawab ‘ya, ayah mencintai ibu karena Allah’. Awalnya saya sempat binggung, hingga akhirnya saya baru menyadari ternyata selama ini bahasa cinta beliau itu sangat berbeda dari sebagian besar laki-laki. Kata orang mencintai karena Allah itu artinya membawa orang yang kamu cintai kepada jalan islam yang sesungguhnya, tegak di atas manhaj salafush sholeh. Beliau mencintai ibu karena Allah dan beliau benar-benar merealisaikan cintanya itu. Kok saya bisa yakin? Karena, ayah benar-benar mengajarkan ilmu agama kepada almarhum hingga akhir hayat ibu. Dari dulu almarhum yang nggak mau dan nggak bisa ngaji sampai khatam sebelum beliau meninggal, sholat malam yang tadinya malas sampai rajin hingga akhir hayatnya, dari nggak pernah duhah jadi mau sholat duhah, dll. Dan itu waktunya tidak sebentar, bayangkan saja untuk menggerakkan hatinya agar mau melakukan itu semua dibutuhkan waktu seumur hidup pernikahannya yang puluhan tahun itu. Dari situ saya belajar banyak hal, terutama makna dari mencintai pasangan kita karena Allah.

Ayah dari segi agama sudah tidak diragukan lagi. Beliau amat sangat ketat dalam hal pendidikan agama. Baginya, agama itu nomor satu, oleh karena itu sejak kecil saya sudah dibiasakan untuk menjalankan syariat islam yang baik dan benar. Sebagai contoh jika tidak sholat atau telat sholat jama’ah pilihannya hanya 1, dipukul/disabet. Waktu awal digitukan sempat kesal banget sih, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya saya menyadari betul manfaatnya. Thank’s ayah.

Ayah berprofesi sebagai guru-PNS SMK, jurusan bangunan. Ayah itu orangnya pendiam, tapi enak untuk diajak diskusi dan bertukar pikiran. Kata murid-murid ayah di sekolah ayah itu guru yang galak dan tegas. Mungkin darisanalah wibawa ayah berasal. Beberapa malam pasca meninggalnya ibu, saya sering terbangun tengah malam dan disana saya baru menyadarinya ternyata dibalik sosok tangguhnya, ayah merupakan laki-laki yang berhati lembut. Menurut saya ayah merupakan sosok ayah yang paling suka ilhah, atau bahasa gampangnya merengek kepada Allah. karena beliau bisa menangis sesenggukan sejadi-jadinya ditengah malam yang gelap gulita.

IMG_5234

Saya bersama ayah.

Ayah selalu mengajarkan setiap anaknya “jangan terlalu suka menuntut, kalau kamu ingin sesuatu berusaha sendiri dulu sampai maksimal”. Bagi ayah hidup itu ibarat seorang pengembara. Seseorang yang memposisikan dirinya sebagai pengembara, akan menyadari bahwa hidupnya didunia hanya sementara dan membuatnya tak bisa berleha-leha. Pengembara tak akan sempat berfikir untuk bermain-main, karena perjalannya begitu tak tertebak.

Namanya SAEFUDIN sosok teman, ayah, suami dan kepala keluarga idaman yang mungkin dizaman yang modern sekarang ini sulit dijumpai. Beliau merupakan role model pertama saya ketika kelak menjadi kepala rumah tangga, baik dari segi kesabaran, kesetiaan, agama, dll.

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu?

Kali ini saya ingin mencoba menulis tentang keluarga inti saya. Cekidot!!!. “Seberapa kenal  kamu dengan keluargamu?”. Berawal dari pertanyaan kepada diri sendiri. Dan akhirnya terus kepikiran hingga berlanjut untuk buat tulisan tentang keluarga saya. Sedikit gambaran, keluarga saya adalah keluarga kecil yang terdiri dari 5 anggota keluarga. Saya merupakan anak terakhir dan saya mempunyai 2 orang kakak perempuan. Masing-masing dari kami, umurnya berjarak 2 tahun. Keluarga saya merupakan keluarga padang-jawa. Oh, iya saya punya ibu tiri/ibu sambung. Nantinya tulisan berikutnya akan membahas opini saya tentang masing-masing anggota keluarga saya. Urut dari ayah, ibu, ibu tiri, dan kakak-kakak saya.

IMG_9300

Kiri-kanan (Suami kakak 1, kakak 1, ayah, ibu tiri, kakak 2, saya).

Kamu pemuda? #Keresahan

Jalan-jalan itu nggak harus selalu tentang tempat wisata atau tempat hits, karena terkadang kamu cukup jalan ke lingkungan baru disekitarmu dan coba deh berhenti beberapa saat sambil melihat sekeliling. Simple sih kelihatannya, bahkan mungkin kurang kerjaan. Tapi darisana saya jadi mengerti bahwa Negara ini sedang sakit, sakit parah dan kronis!. Kenapa saya bilang sakit? Karena pemuda sekarang pada sakit, bukan sakit fisik yang saya maksud tapi lebih parah. MENTAL!. Sungguh gelisah hati ini mengetahui betapa sakitnya Negara ini, bukan hanya dari korupsi yang sudah mendarah daging dan sistematis, bukan juga tentang impor garam di Negara maritime, tapi lebih dari itu. Padahal Indonesia itu Negara besar dan mempunyai generasi pemuda terbanyak di dunia, tapi jujur saya sebagai pemuda ikut miris melihatnya, karena itu kali ini saya ingin menulis opini tentang salah satu keresahan yang saya lihat, rasakan dan dengar.

Jika kita membicarakan dan menuliskan tentang Indonesia tidak akan terlepas dari yang namanya permasalahan masyarakat dan problematika sosial. Terlebih lagi diera digital seperti sekarang ini, tidak hanya terbatas dengan usia. Baik muda ataupun tua semuanya bermasalah. Sejarah berbagai bangsa di dunia ini telah membuktikan bahwa pergerakan kaum muda-lah yang mengawali setiap perjuangan kemerdekaan, setiap perubahan serta setiap pembangunan arah sebuah bangsa ditentukan oleh pemuda bangsa tersebut. Bahkan sang proklamator Indonesia sendiri berucap “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Hal ini menandakan bahwa peran pemuda sangat besar untuk kemajuan suatu bangsa.

Screenshot_2015-12-24-10-31-51

Sayangnya kenyataan sekarang ini sangat jauh dari kategori ideal seorang pemuda. Kini pemuda pemudi kita lebih suka peranan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Lebih suka nge Facebook, instagram, twitter, dan intinya lebih suka aktif di media sosial, lebih suka di forum ketimbang duduk mufakat untuk kemajuan RT, RW, Kecamatan, Provinsi bahkan di tingkat lebih tinggi adalah Negara. Selaku Pemuda kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak.

Hal ini sangat tercermin dari prilaku pemuda zaman sekarang yang notabene lebih suka yang serba instan dan malas serta kurang menghargai proses. Mungkin ini merupakan efek domino, dimana sejak pendidikan dini kita terbiasa didikte. Di era moderen sekarang Pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan bangsa ini. Peranan pemuda dalam sosialisasi bermasyarakat sungguh menurun dratis, dulu biasanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah pemuda sekitar. Namun pemuda sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu. Hal ini dapat menyebabkan dampak negatif seperti berkurangnya rasa peduli pemuda dan meningkatnya pengangguran dikalangan pemuda. Sungguh ironis.

Apa arti pemuda? Menurut saya pemuda adalah sosok individu yang masih berproduktif yang mempunyai jiwa optimis, berfikir maju, dan berintelektual. Dan hal yang paling menonjol dari pemuda ialah semangatnya untuk berinovasi mencari solusi permasalahan yang ada. Dari beberapa permasalahan diatas salah satu solusinya adalah Membuka lapangan kerja, walaupun itu sifatnya kecil seperti industry rumah tangga. So, degan demikian kita sebagai generasi muda bangsa Indonesia, diharapkan bisa berkarya, walaupun itu hanya hal kecil sekalipun. Bukankah itu tujuan pendidikan selama ini?.

Mungkin itu salah satu kegelisahan yang berhasil saya tangkap lewat melihat, merasakan dan mendengar. Mendengarkan disini bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan jiwa.

Pendidikan itu semacam hati yang rindu untuk selalu menjadi lebih baik.