Kamu pemuda? #Keresahan

Jalan-jalan itu nggak harus selalu tentang tempat wisata atau tempat hits, karena terkadang kamu cukup jalan ke lingkungan baru disekitarmu dan coba deh berhenti beberapa saat sambil melihat sekeliling. Simple sih kelihatannya, bahkan mungkin kurang kerjaan. Tapi darisana saya jadi mengerti bahwa Negara ini sedang sakit, sakit parah dan kronis!. Kenapa saya bilang sakit? Karena pemuda sekarang pada sakit, bukan sakit fisik yang saya maksud tapi lebih parah. MENTAL!. Sungguh gelisah hati ini mengetahui betapa sakitnya Negara ini, bukan hanya dari korupsi yang sudah mendarah daging dan sistematis, bukan juga tentang impor garam di Negara maritime, tapi lebih dari itu. Padahal Indonesia itu Negara besar dan mempunyai generasi pemuda terbanyak di dunia, tapi jujur saya sebagai pemuda ikut miris melihatnya, karena itu kali ini saya ingin menulis opini tentang salah satu keresahan yang saya lihat, rasakan dan dengar.

Jika kita membicarakan dan menuliskan tentang Indonesia tidak akan terlepas dari yang namanya permasalahan masyarakat dan problematika sosial. Terlebih lagi diera digital seperti sekarang ini, tidak hanya terbatas dengan usia. Baik muda ataupun tua semuanya bermasalah. Sejarah berbagai bangsa di dunia ini telah membuktikan bahwa pergerakan kaum muda-lah yang mengawali setiap perjuangan kemerdekaan, setiap perubahan serta setiap pembangunan arah sebuah bangsa ditentukan oleh pemuda bangsa tersebut. Bahkan sang proklamator Indonesia sendiri berucap “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Hal ini menandakan bahwa peran pemuda sangat besar untuk kemajuan suatu bangsa.

Screenshot_2015-12-24-10-31-51

Sayangnya kenyataan sekarang ini sangat jauh dari kategori ideal seorang pemuda. Kini pemuda pemudi kita lebih suka peranan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Lebih suka nge Facebook, instagram, twitter, dan intinya lebih suka aktif di media sosial, lebih suka di forum ketimbang duduk mufakat untuk kemajuan RT, RW, Kecamatan, Provinsi bahkan di tingkat lebih tinggi adalah Negara. Selaku Pemuda kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak.

Hal ini sangat tercermin dari prilaku pemuda zaman sekarang yang notabene lebih suka yang serba instan dan malas serta kurang menghargai proses. Mungkin ini merupakan efek domino, dimana sejak pendidikan dini kita terbiasa didikte. Di era moderen sekarang Pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan bangsa ini. Peranan pemuda dalam sosialisasi bermasyarakat sungguh menurun dratis, dulu biasanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah pemuda sekitar. Namun pemuda sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu. Hal ini dapat menyebabkan dampak negatif seperti berkurangnya rasa peduli pemuda dan meningkatnya pengangguran dikalangan pemuda. Sungguh ironis.

Apa arti pemuda? Menurut saya pemuda adalah sosok individu yang masih berproduktif yang mempunyai jiwa optimis, berfikir maju, dan berintelektual. Dan hal yang paling menonjol dari pemuda ialah semangatnya untuk berinovasi mencari solusi permasalahan yang ada. Dari beberapa permasalahan diatas salah satu solusinya adalah Membuka lapangan kerja, walaupun itu sifatnya kecil seperti industry rumah tangga. So, degan demikian kita sebagai generasi muda bangsa Indonesia, diharapkan bisa berkarya, walaupun itu hanya hal kecil sekalipun. Bukankah itu tujuan pendidikan selama ini?.

Mungkin itu salah satu kegelisahan yang berhasil saya tangkap lewat melihat, merasakan dan mendengar. Mendengarkan disini bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan jiwa.

Pendidikan itu semacam hati yang rindu untuk selalu menjadi lebih baik.

Leprosy?

Bahasa kerennya leprosy, sebuah istilah untuk penyakit yang baru saya ketahui beberapa hari belakangan, karena saya belum tau banyak tentang istilah leprosy akhirnya saya kepo lebih dalam lagi tentang istilah yang satu ini. Yap, akhirnya setelah browsing kesana-kemari sayapun menyimpulkan leprosy itu adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, biasanya menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. kalau orang awam biasa menyebutnya ‘Kusta’. Tanda-tanda kemungkinan terkena Leprosy / Kusta antara lain dapat dilihat pada kulit yaitu kelainan pada kulit berupa bercak kemerahan, keputihan atau benjolan, kulit mengkilap, bercak yang tidak gatal, adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat dan tidak berambut, lepuh dan tidak nyeri. Dan fakta mengejutkannya ternyata Indonesia sendiri merupakan negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak dengan peringkat ketiga di dunia setelah India dan Brazil, dengan jumlah penderita terbanyak di Jawa Timur, Papua, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Parahnya lagi, sering kali seorang yang telah terkena kusta walaupun sudah dinyatakan sembuh dari kusta tetap menyandang predikat penderita kusta dan terkadang bahkan dikategorikan sebagai penyandang disabilitas. Menurut pendapat saya, Masih banyak yang mendefinisikan hal yang mereka alami sehari-hari sebagai kewajaran padahal itu ketidakadilan. Gangguan fisik seharusnya tidak lantas menjadi judgment bahwa seseorang itu tidak mampu melakukan tugas atau bahkan diasingkan. Sebagai contoh lain difabel netra mampu “melihat” tetapi dengan cara lain, yaitu dengan meraba huruf braille. Baik difabel maupun nondifabel adalah manusia normal yang mempunyai rasional berpikir. Menjadi difabel bukanlah sebuah pilihan. Jadi bukan zamannya lagi untuk mendiskriminasi para penderita kusta, khususnya di Indonesia. Kita sebagai orang “normal” hanya perlu merubah sudut pandang kita dengan edukasi yang lebih banyak tentang kusta dan terakhir menurut saya, tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa dan masyarakat dapat diukur antara lain dari bagaimana bangsa dan masyarakat tersebut memperlakukan para difabel atau penyandang kusta. Mungkin itu sedikit tulisan singkat tentang istilah yang baru saja saya ketahui. No offense, just share my opinion.

Kuncinya BERSYUKUR!

Malang, 22 Juli 2017.

Terkadang kenikmatan tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan, namun rasa syukurlah yang selalu menjadi kunci seberapa besar nikmat itu ada.

1

Selama 2 tahun terakhir ini saya baru saja menyadari sebuah nikmat, membantu orang-orang difabel. Banyak hikmah yang bisa saya ambil, terutama terkait rasa bersyukur yang mungkin lebih daripada orang lain yang belum pernah melihat dan kontak langsung dengan kaum difabel. Ada salah satu difabel yang saya ingat dia menderita CP (Cerebal palsy), semacam kelainan yang menyerang otak kecil di kepala dan menyebabkan terganggunya system motorik tubuh. Waktu itu saya melihat dan membantu dia secara langsung. Sebagai contoh salah satu nikmat yang paling saya ingat adalah nikmat bernafas, betapa tidak ketika saya membantu dia, saya menyaksikan sendiri betapa kesulitannya dia untuk sekedar bernafas.

Saya itu tipikal orang yang skeptisnya tinggi, karena itu untuk lebih meyakinkan diri, waktu itu saya juga iseng-iseng mencari tahu dan menghitung berapa sih nikmat Allah hanya untuk bernafas, dan ternyata diluar dugaan saya betapa Allah maha pemberi. Jadi, hasil kepo saya menyimpulkan bahwa untuk seorang manusia sehat dewasa dalam keadaan normal dalam satu menit kurang lebih 20x bernafas. 1x bernafas kurang lebih 2 liter udara ke dalam rongga-rongga pernapasan masuk. Ini berarti dalam 1 menit kurang lebih menghirup 40 liter udara. Kalau 1×24 jam kita mengkonsumsi 57.600 liter udara. Dengan kata lain, kita telah menggunakan gas oksigen murni (100%) sebanyak 20% dari 57.600 liter udara adalah 11.520 liter oksigen murni dalam sehari. Berapa besar nilai ekonominya?

Saat ini, harga satu tabung oksigen 40.000 untuk isi 6.600 liter yang kadar oksigennya antara 97-99%, berarti nilai tiap liternya adalah 40.000:6.000 = 6.600/liter. Ini berarti setiap manusia sehat diberikan secara telah menghabiskan oksigen sehari dengan nilai 11.520 x 6.600 = 760.000, kalau 1 bulan jadi 22.800.000. kalau ingin mendalaminya lagi seberapa nikmat Allah hanya dari oksigen gratis itu coba kita kalikan dengan berapa umur kita saat ini, misalnya 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, atau 50 tahun rata-rata yang sekarang hidup. Jika ditukar dengan nilai rupiah saat ini lebih dari 1 miliar. Begitu besarnya nikmat Allah kepada hambanya dan itupun tidak mampu kita hitung secara akurat.

Saya jadi teringat pada ayat Al-Qur’an, tepatnya surat ar-rahman ada satu ayat yang diulang-ulang sebanyak 31x sebagai peringatan kepada umat manusia yang sering tidak bersyukur. Marilah kita bersama-sama meluangkan waktu untuk merenung sejenak ditengah aktivitas-aktivitas kehidupan kita tentang betapa besar karunia Allah kepada diri kita, keluarga kita, kerabat kita, tetangga kita, rekan kerja kita, bangsa kita. sebagaimana yang telah saya ceritakan diatas dan kita rasakan itu hanya sisi-sisi kecil atas nikmat Allah. Diluar itu masih banyak nikmat-nikmat yang lainnya berupa nikmat kelapangan rezeki, nikmat berkeluarga, nikmat persahabatan, nikmat pekerjaan, nikmat kesehatan, nikmat keimanan, nikmat kebahagiaan, dan setumpuk nikmat lainnya, baik yang bersifat lahir maupun batin.

Bersyukur bukan berarti hanya mengingat nikmat yang telah diberikan kepada kita. kesyukuran ini tidaklah punya arti sama sekali jika hanya dalam bentuk lisan semata. Mensyukuri karunia Allah harus diimplementasikan dengan pengakuan hati kepada kebesaran dan keagungan Allah dalam sikap dan tindakan nyata. Realisasi rasa syukur tersebut bukanlah suatu perbuatan yang sia-sia, tapi akan mempertebal keimanan, keislaman, keihsanan, ketauhidan, dan ketakwaan kita kepada maha pencipta. Saya jadi teringat surat Al-An’am ayat 46 dan Ibrahim ayat 7.

Manusia itu jangankan saat kurang, saat berlebih saja tetap merasa kurang. Bukankah dalam surat Ibrahim sudah dijelaskan bahwa Allah sendiri yang akan menambahkan nikmat jika kita bersyukur? Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, dia menjadikan hamba itu mampu melihat dengan jelas kekurangan dirinya sendiri. Orang yang telah dikaruniai bashirah (penglihatan dengan mata hati) yang tajam, akan mampu melihat berbagai kekurangan dirinya sendiri. Jika telah mengetahui kekurangan itu, ia akan berusaha merubahnya. Tetapi, kebanyakan manusia enggan mengetahui segala kekurangan dirinya. Ibarat kata seseorang dapat melihat jelas kotoran kecil dimata saudaranya tetapi tidak melihat seekor hewan besar di matanya sendiri. Kata pepatah, gajah didepan mata tidak tampak sedangkan semut di seberang lautan tampak jelas terlihat.

-End, 13.13-

Kenapa saya menulis?

A: “nat kenapa kamu suka baca?”

B: “karena aku suka menulis.”

A: “terus kenapa kamu menulis?”

B: “…..”

Mungkin itu percakapan singkat antara saya dengan seorang teman beberapa hari yang lalu. Sejauh ini saya tidak pernah mempertanyakan kenapa saya menulis dan kenapa saya harus terus menulis?. Awalnya yakin, tapi semakin kesini semakin meragukan dan banyak pertanyaan-pertanyaan seperti diatas. “kenapa saya menulis?.” Pertanyaan yang sediikit filosofis sih tapi ada benarnya juga, karena sejauh ini jika boleh jujur saya belum menemukan alasan yang tepat kenapa saya menulis?. Sampai akhirnya saya merenungkan selama beberapa hari dan akhirnya saya menemukan jawaban atas pertanyaan itu dari lubuk hati saya yang paling dalam. Cieee…ciee….

MelatiPurple6485

Ada yang yang suka menulis karena dia merasakan kegelisahan dalam dirinya sehingga menyalurkan kegelisahannya dalam tulisan. Ada yang menulis karena alasan tuntutan profesi seperti wartawan atau jurnalis. Ada yang menulis karena ingin memperpanjang ingatannya atas hal-hal apa yang ditemuinya selama perjalanan. Ada yang menulis karena hobi. Ada yang menulis juga karena kurang kerjaan.

Sedangkan saya?. Alasan pribadi kenapa saya menulis mungkin sedikit filosofis, karena menurut saya hidup ini seperti buku dengan banyak lembar halaman yang berbeda. Sehingga harus saya tulis dan buku yang tidak pernah lelah saya baca dan tulis adalah buku kehidupan. Di buku kehidupan ini pula saya membuat sejarah hidup saya. Di buku ini pula saya mencatat banyak peristiwa, pemikiran, dan perasaan. Di buku ini pula ada lembar kehidupan yang bercerita tentang kesedihan, kesulitan, kekecewaan, kemarahan, kegagalan, ketakukan, dan kepedihan. Tapi, disini pula ada lembar kehidupan yang mencatat cerita tentang kesenangan, kemudahan, keberhasilan, kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Ada lembar kehidupan yang berisi tangisan, juga ada lembar yang diisi dengan tawa riang. Ada lembar hidup yang terasa menjengkelkan, menjemukan, membosankan, dan mungkin biasa-biasa saja tanpa kesan, sedangkan lembar kehidupan yang lainnya sangat berkesan dan menyenangkan.

Menulis sendiri juga berkaitan dengan salah satu perinsip hidup saya, yaitu hidup cuman sekali karena itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dan jangan pernah jadi generasi dinosaurus, maksudnya hidup disatu masa, berkuasa tapi setelah itu punah tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Oleh karena itu saya menulis, sebelum cerita kehidupanku benar-benar usai oleh kematian.

So, kamu sendiri kenapa menulis?

-End, 10.46-

Bullying?.

Bullying?. Beberapa minggu ini pemberitaan dihebohkan dengan beredarnya video seorang mahasiswa difabel yang di “bully” dikampusnya. Satu hal yang menurut saya amat disayangkan bahwa sekelas universitas yang notabene sebuah institusi pendidikan terakhir dimana menyebut siswanya bukan lagi siswa melainkan “MAHAsiswa” tapi ternyata masih bertolak belakang dengan title yang disandangnya. Mungkin itulah Ironisnya bangsa ini!

Entahlah, rasanya otak dan hati ini merasakan kegelisahan. Mungkin karena 2 tahun lamanya saya berkecimpung di dunia difabel ini menjadikan saya mempunyai respond dan sudut pandang yang berbeda dibandingkan orang lain yang belum pernah bersentuhan langsung seperti saya. Saya jadi ingin menulis sebuah pengalaman waktu masih aktif secara langsung di dunia difabel.

Awalnya saya tidak terlalu kaget, karena sebetulnya itu bukan kali pertama saja sebuah bullying terjadi di kampus. Bahkan bullying pun sebetulnya juga terjadi di kampus yang notabene sudah mengembel-embeli diri dengan “kampus inklusi”. Menurut saya sebuah bullying tidak hanya sebatas fisik saja seperti yang sedang heboh belakangan ini, bullying pun bisa dalam bentuk kata-kata, peraturan ataupun yang lainnya. Jika kampus sebelah heboh oleh video bullying fisik, disinipun sebetulnya terjadi bullying, bedanya disana terekam video disini tidak ada yang merekam. Bullying disini lebih kepada peraturan dan bullying verbal (lebih sakit).

bullying aturan

Salah satu contoh peraturan di kampus.

Saya jadi teringat pada sebuah kasus yang dulu sempat membuat heboh beberapa volunteer dikarena menurut skala kami itu merupakan diskriminasi yang berlebihan. Singkat cerita dulu waktu saya masih aktif menjadi volunteer mabel (mahasiswa difabel), ada sebuah kasus dimana salah satu mabel merasakan di hina oleh seorang civitas academica di kampus saya sampai mabel ini pun menangis tersedu-sedu karena 1 kelas menertawakan dia (ceritanya di waktu perkuliahan). Nah setelah kejadian itu diapun cerita ke teman volunteer (hearing) terdekatnya dan kebetulan volunteer yang dekat dengan dia merupakan teman dekat saya juga sehingga dia menceritakan masalah itu kepada saya dan meminta tolong kepada saya untuk mendampingi dia di kelas yang sama di pertemuan selanjutnya sekaligus untuk klarifikasi apakah betul atau tidak apa yang diceritakan dan dirasakan oleh mabel ini. Nah, disini masalah pertama muncul karena ternyata yang menghina secara verbal disini adalah seorang professor. Iya, setingkat professor saja masih bisa melakukan bullying loh yang seharusnya jika dilihat dari tingkat intelektualitas seharusnya tidak mungkin. But, that’s people, segala sesuatu bisa saja terjadi.

Setelah saya mengikuti kelasnya ternyata beberapa kali sang professor ini bisa dibilang melakukan bullying secara verbal. Contohnya dia melempar pertanyaan kepada mahasiswa secara acak dan kebetulan yang ditanya waktu itu adalah si mabel, setelah tau professor ini bahwa yang ditanya adalah mabel dia malah bilang “oh, tuli ya. Udah nggak usah jawab, paling nggak bisa”. Sedetik kemudian seluruh kelas tertawa. Somehow sebetulnya saya marah banget waktu itu, orang belum mencoba jawab tapi sudah di judge tidak mampu. Sungguh pola pikir sang professor ini kerdil sekali. Itu baru salah satu pegalaman saja dan sebetulnya masih banyak pengalaman yang lainnya. Seperti ketika ada tugas kelompok, para mabel cenderung tidak dapat kelompok dan ketika mereka mendapatkan kelompok mereka cenderung dijadikan beban oleh anggota kelompoknya. picik!. Satu kata yang menurut saya cocok untuk orang-orang seperti mereka. Dan lagi-lagi saya terjebak oleh sebuah birokrasi yang menjemukkan karena Jika saya jumpai hal seperti ini, saya hanya bisa melaporkan ke pihak kantor tempat saya mengabdi, untuk ditindak lanjuti seperti dosen tersebut dipanggil oleh kantor atau di kasih surat cinta, you know what I mean.

Kejadian seperti itu sering sekali terjadi di lingkungan kampus yang bahkan mengaku inklusi. Jadi, saya tidak begitu kaget ketika tahu ada bullying di kampus sebelah yang bahkan tidak memakai embel-embel “inklusi”. Wong disini yang pakai embel-embel inklusi saja sering dijumpai tindakan bullying, mungkin bedanya disini sudah ada aksi nyata untuk meminimalisir bullying tersebut dengan cara mendirikan sebuah kantor khusus untuk pelayanan difabel. Mungkin semua butuh proses pembelajaran kembali, tidak peduli siapa kamu. Saya tidak menyalahkan 100% mahasiswa yang melakukan bullying tapi disisi lain saya sangat menyayangkan seorang yang terdidik melakukan tindakan seperti itu. Mungkin itulah pentingnya diajarkan disability awareness sejak dini.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa setiap orang punya cara berjuangnya sendiri-sendiri. Setiap orang pasti pernah mengalami masalah yang membuatnya merasa jatuh. Mungkin Kamu pun pernah mengalaminya. Berat memang, tapi ingatlah, kehidupan itu bukan tentang hidup tanpa masalah, namun bagaimana cara kita menghadapi dan kemudian bangkit dari masalah. Ya, begitulah seharusnya hidup.

-End, 22.22-