Coban tundo, coban terindah!

Di penghujung tahun 2017, saya dan anak kontrakan berencana main bareng, awalnya kami merencanakan untuk main ke sumber maron/sumber sirah (sejenis tempat pemandian umum yang sumber airnya dari mata air langsung) untuk mandi-mandi melepas penat sehabis minggu penuh ujian kuliah. Tepatnya hari selasa tanggal 26 desember 2017 saya dan anak kontrakan yang lainnya (berjumlah 4 orang) akhirnya berangkat menuju sumber maron tapi singkat cerita di tengah perjalanan kami memutuskan untuk berganti tujuan dikarenakan setelah melihat gambar di google ternyata tempatnya biasa-biasa saja. Binggung memutuskan tujuan kemana akhirnya salah seorang dari kami ada yang memberikan usul “coban tundo aja yuh”. Tanpa pikir panjang kamipun search di google dan GPS ke lokasi, dan ternyata tidak terlalu jauh hanya sekitar 2 jam perjalanan. Alhasil jadilah kami merubah destinasi ke coban tundo, coban yang saya sendiri asing dan baru mendengarnya pertama kali ketika itu. bermodal koneksi internet, niat, GPS, dan motor kamipun meluncur ke coban yang satu ini. Letak coban tundo ini di antara perbukitan kopi dan salak, tepatnya di daerah perbatasan antara kabupaten malang (dampit) dan lumajang. Nama tundo diambil karena coban ini terdiri dari 3 tingkatan coban yang kalo menurut bahasa warga lokal tundo itu artinya bertingkat-tingkat.

This photo is taken with Brica B-PRO5 Alpha Edition mk.¢ò

foto bersama kami di coban ke-2 dari rangkaian coban tundo.

Perjalanan bermodal GPS menempuh waktu 3 jam (+nyasar diputer-puter karena ngikutin GPS), padahal jika sudah tau lokasinya, untuk ke coban tundo ini hanya memerlukan waktu 2 jam. Disitu saya belajar bahwa jangan percaya 100% dengan GPS!. Pepatah malu bertanya sesat dijalan masih berlaku ternyata. Setelah lelah nyasar sampai ke jalan tanah ditengah hutan, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada akamsi (anak kampung sini/warga lokal). Kali ini saya belajar lagi ternyata walaupun tanya dengan warga lokal tetap jangan percaya 100% dengan hanya 1 sumber informasi dari warga lokal, bisa jadi mereka juga buta arah alias nggak tau dan asal ngasih arahan. Buktinya kemarin waktu nanya sama warga lokal pertama, bukannya ketemu jalannya kamipun makin masuk kedalam jalan hutan dan pedesaan (nyasar). Hingga akhirnya kamipun tanya kembali ke seorang warga yang sedang panen salak (ketika itu memang sedang musim salak) arah menuju ke coban tundo.

IMG20171226110628

Letak coban ke 3 dari 3 rangkaian coban tundo ±30 menit turun ke bawah.

Niatnya bertanya eh malah dikasih salak 1 plastik besar (sekitar 5 kg) sama yang sedang panen, disana saya belajar bahwa ketika dalam perjalanan jangan sungkan berbaur dengan warga lokal, sebisa mungkin hilangkan stigma negatif yang ada dibenak kita. Warga lokal itu baik dengan kearifannya masing-masing. Ketika kami puas memakan salak kamipun tanya arah ke coban tundo, awalnya mereka tidak yakin bahwa kami akan ke coban tundo. Tak disangka ternyata salah seorang warga lokal malah menawarkan dirinya untuk menemani kami ke coban tundo, karena beberapa hal. Pesan dari setiap warga lokal yang kami tanyai jalan ke coban tundo ketika itu, “hati-hati ya main disana, disana angker, banyak ular, licin, dan sejuta stigma negatif lainnya”. Berhubung kami tidak tau cerita dibalik coban itu, akhirnya untuk mempersingkat waktu kami hanya berkata “ iya, makasih bu infonya”.

IMG20171226132311

Salak hasil pemberian dari warga lokal.

Singkat cerita kamipun melanjutkan perjalanan dengan dipandu oleh warga lokal ke coban yang satu ini, awalnya saya pikir jalannya pasti tidak terlalu buruk. Tapi ternyata, semua diluar dugaan dan nalar akal sehat saya, kami melewati jalan hutan yang hanya bisa dilewati satu motor dan kanan-kiri langsung berbatasan dengan jurang dan ternyata itu masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan menggunakan motor untuk mencapai coban tundo ini. Ketika melewati jalan hutan ini (naik-turun) tiba-tiba rem speda motor saya blong, iya blong karena cakram kepanasan digunakan tanpa henti untuk mengerem sepanjang perjalanan diperbukitan. Sayapun sedikit panik, karena hampir saja nyawa melayang karena terjatuh ke jurang.

IMG20171226105103

Akses jalan menuju ke coban tundo.

Ketika itu saya berfikir, “gila mau ke coban aja jalannya susah banget gini, awas aja kalo ternyata cobannya nggak bagus!”. Singkat cerita setelah menunggu rem normal (tidak blong) sayapun melanjutkan perjalanan ke coban lagi, sepanjang perjalanan pemandangannya sungguh indah, mulai dari perkebunan kopi hingga view pantai perawan dan samudra yang membentang luas bisa kita jumpai sebelum akhirnya sampai di coban tundo. Dan 1 kata buat coban ini, indah!!. Coban terindah yang pernah saya datangi selama di jawa timur. Rasa lelah dan mental yang terkuras terbayar lunas sudah dan ditambah bonus, ternyata ketika itu orang yang ada dicoban itu hanya kami, jadi berasa coban pribadi. Hahahah.

IMG20171226104854

View pantai perawan dan perkebunan kopi saat perjalanan menuju coban tundo.

Yang paling berkesan dari coban ini selain pemandangan selama perjalanan menuju ke coban ini ya gradasi warna dari cobannya. Gradasi warnanya? Uh, bagus banget, mirip gradasi warna danau segara anakan di rinjani waktu dilihat dari plawangan. Perpaduan antara, hijau, biru, coklat, dan bening. Coban yang paling saya rekomendasikan diantara coban yang lain didaerah malang dan sekitarnya, walaupun aksesnya sulit sekali. Memang terkadang yang indah itu perlu perjuangan lebih, tapi semua perjuangan itu sebanding kok menurut saya.

IMG20171226111603

Coban ke-2 dari 3 rangkaian yang membentuk coban tundo.

Setelah puas bermain kamipun memutuskan untuk menyudahi bermain di coban tundo. Hanya bermodalkan 50rb/org, kami bisa sampai ke coban ini dan puas bermain air disana, dimana 20rb untuk bensin PP, 10 rb untuk jasa guide, karena tidak mungkin kami bisa sampai disini jika tidak ada guide (tidak ada petunjuk jalan sama sekali), 10rb untuk jasa ojek waktu pulang (tanjakannya parah abis), 10rb untuk makan waktu pulang.

This photo is taken with Brica B-PRO5 Alpha Edition mk.¢ò

Saya dan teman-teman bermain air di coban tundo.

Coban tundo yang paling indah!!!

Advertisements

My little traveling ^_^

senin-selasa,16-17 mei 2011.Widih hari ini saya traveling kecil”an,yaitu go to jogja by train.Perjalanan saya di mulai hari senin pagi jam 6 pagi tepat (soalnya pakai kereta jdi tepat waktu).Saya menggunakan kereta ekonomi “Logawa”,walau ekonomi ttp enjoy .Itu cuman sekilas cerita pembukaan,oke mulai aja.Semua berawal ketika saya punya keinginan ingin beli sepatu buat latihan parkour,cuman berhubung harganya mahal jdi saya berfirik untuk mencari sepatu yg agak mirip ( sepatu” imitasi”) di jogja.eh,ternyata kebetulan pas”an sama perpisahan kk ke-2 saya yang di jogja ya sudah akhirnya saya memutuskan untuk sekalian pergi jalan” aja ke sana pas kebetulan juga waktu itu saya libur 2 hari.Perjalanan dimulai pada senin jam 6 pagi menggunakan kereta “Logawa”,kenapa milih naik kereta??alesan pertama aku mau merasakan sensasi yang sudah lama tidak saya rasakan semenjak pindah ke purwokerto yaitu menggunakan kereta,terus alesan kedua lebih cepat dan juga pas waktu itu sedang mengejar waktu untuk perpisahan kk saya yang ke-2.o,iya saya pergi ke jogja bersama ayah saya..suasananya ya biasalah namanya kereta ekonomi banyak pengamen,orang jualan,pengemis,dan juga yg rada” bikin ketawa bencong & ayam..rame banget tuh gerbong.o,iya penggalaman pertama waktu naik kereta setelah lama gk naik,ada sesuatu hal yang membuat saya rada terkagum saat mau nyampe di jogja ada pengamen cewe loh dia main gitar akustik persis ama idola saya “YUI”,pengamen yang beda dari yang lain dia cewe tpi gk dekil kya kebanyakan pengamen.

JAM 9.30 akhirnya sampe juga di stasiun “Lempuyangan”…
Welcome to “Ngayogyakarta”

to be continue’s….