Menyelam = Minum Alkohol?

Menyelam adalah kegiatan yang “memabukkan”. Anda yang pernah merasakan pasti tahu kalau ungkapan ini bukan sekedar kiasan belaka. Saat berada di kedalaman tertentu, diver bisa mengalami “nitrogen narcosis” yang efeknya mirip seperti menenggak minuman beralkohol. Untuk lebih lengkapnya, mari kita lihat penjelasan berikut.

Picture5

ilustrasi berdasarkan kedalaman.

Apa itu “nitrogen narcosis”?

Udara yang kita hirup sehari-hari mengandung nitrogen sebanyak 78%, oksigen 21%, dan campuran gas-gas lain sekitar 1%. Meski proporsinya paling besar, selama di darat nitrogen tidak memberi pengaruh apa-apa untuk tubuh. Berbeda dengan di air. Saat kita berada di kedalaman laut, tekanan gas nitrogen dalam badan bisa meningkat dan memberi semacam efek bius pada otak. Inilah yang disebut nitrogen narcosis.

Seperti apa gejalanya?

Menurut teori Meyer-Overton, ahli farmakologi dari Jerman, dalam tekanan air laut, gas nitrogen di badan penyelam bisa mengembang hingga menembus lapisan lemak otak dan menganggu sistem saraf. Begitu saraf otak terganggu, seseorang bisa mengalami kecemasan tanpa alasan, kehilangan memori jangka pendek, disorientasi, hilang fokus, gangguan koordinasi tubuh, halusinasi, dan bahkan euphoria atau rasa senang yang tak terkendali. Kalau dilihat dari gejalanya, orang yang terkena narcosis mirip seperti orang mabuk alkohol. Karena itu, ada juga kalangan diver mancanegara yang menyebut nitrogen narcosis sebagai martini effect, minuman keras yang terkenal sebagai koktail favorit James Bond.

Di kedalaman berapa orang bisa terkena nitrogen narcosis?

Ada sebuah anekdot yang mengatakan bahwa setiap penyelaman 10 meter sama dengan minum 1 gelas Martini. Tapi hal itu tidak sepenuhnya benar. Umumnya martini effect terjadi mulai di kedalaman 30 meter, dimana tekanan air laut sudah mencapai 2 ATM. Sekalipun begitu, penyelam di perairan yang lebih dangkal juga bisa mengalami gangguan serupa. Pasalnya, selain dipengaruhi oleh kedalaman dan tekanan air laut, nitrogen narcosis juga dipicu oleh kondisi badan yang tidak fit, kelelahan fisik dan mental, atau pengaruh alkohol serta obat-obatan yang diminum penyelam sebelum turun ke laut.

Apa bahayanya?

Pada dasarnya, nitrogen narcosis tidak membahayakan jiwa penyelam secara langsung. Namun demikian, gangguan ini tetap perlu diwaspadai karena bisa memunculkan foolish behaviour atau perilaku-perilaku yang tidak aman. Seperti sudah disebut di atas, penyelam yang mengalami narcosis bisa mengalami disorientasi, gangguan motorik, sampai halusinasi. Dalam kondisi seperti itu, penyelam sangat mungkin melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri ataupun buddy-nya. Bisa diibaratkan, penyelam yang terkena narcosis seperti orang mabuk yang menyetir mobil. Risiko dari setiap tindakannya bisa meningkat hingga beberapa kali lipat.

Bagaimana cara mengatasi/mencegah nitrogen narcosis?

Saat penyelam merasa seperti mabuk, bingung dan kehilangan fokus, langkah pertama yang harus diambil adalah ascending dan safety stop. Dengan berenang ke perairan yang lebih dangkal, narcosis akan berkurang dengan sendirinya sampai hilang sama sekali. Tapi mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, dan cara terbaik mencegah narcosis adalah membatasi kedalaman penyelaman. Kalaupun ingin mengeksplor lautan dalam, pastikan Anda sudah mempelajari skill penyelaman tingkat lanjut seperti Nitrox Diving, Deep Diving, atau Technical Diving di bawah pengawasan instruktur berpengalaman. Selain itu, Anda juga bisa mencegah nitrogen narcosis dengan menjaga kesehatan tubuh. Mulai dengan makan makanan bernutrisi bagus, olahraga teratur, serta menghindari konsumsi alkohol berlebihan. Dengan fisik yang prima, setiap penyelaman kita tentu bisa berjalan dengan aman dan nyaman.

Sumber : http://scubadiver.co.id/current-news/tips-and-trick/menyelam-minum-alkohol

Advertisements

Trumbu karang, zooxanthella, dan perubahan iklim global

Banyak karang mengandalkan alga simbiotik mereka untuk bertahan hidup. Di bawah tekanan (seperti suhu yang lebih tinggi) hal ini dapat membuat alga simbiotik keluar dari karang dan terjadi pemutihan pada karang. Sebelumnya telah dilaporkan bahwa karang dapat pulih dari pemutihan karang dengan mengubah jenis ganggang mereka. Namun, sebuah studi penelitian baru menunjukkan bahwa kurang dari seperempat dari spesies karang bisa melakukan ini.

Karang yang telah teridentifikasi untuk bertahan hidup ketika suhu dinaikkan adalah mereka yang menjadi tempat dari beberapa jenis alga simbiotik. Tapi karang jenis tersebut merupakan yang minoritas. Sebuah tinjauan data yang diterbitkan, oleh Tamar L. Goulet dari University of Mississippi, menunjukkan bahwa hanya 23% dari karang termasuk dalam kategori ini. Dia melihat 43 studi dari 442 spesies karang. Jika perubahan iklim global terus terjadi, dia menyimpulkan bahwa banyak spesies karang simbiosis tidak dapat bertahan hidup.

Sejumlah penelitian baru pada genotipe zooxanthella dikarang telah berfokus pada pergantian zooxanthella. Para peneliti telah menyarankan bahwa karang dapat bertahan hidup dari perubahan iklim global dengan cara beralih dari alga simbiotik mereka. Sejak 15 tahun pembagian clade dari zooxanthellae pertama kali diperkenalkan, banyak peneliti melaporkan identitas clade dari zooxanthellae di 442 spesies karang dari berbagai lokasi geografis. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan dataset guna melihat kemungkinan dari pergantian simbion jika terjadi perubahan iklim global.

Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan analisis data yang dilakukan ditingkat cladal dengan perbandingan lebih lanjut di tingkta clade. Untuk menentukan pola geografis, data dimasukkan dalam format tabel dalam GIS (Sistem Informasi Geografis) peta menggunakan ArcMap (V8.3, ESRI). Data diplot untuk mengungkapkan pola spasial dalam distribusi karang terhadap spesies hosting yang tunggal atau dari beberapa clades zooxanthella.

1
Data saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar spesies karang mungkin tidak dapat untuk mengubah populasi zooxanthella mereka. Hal tersebut didukung dengan bukti yaitu sebagai berikut :

  • Sebagian besar karang tuan rumah zooxanthella clade tunggal.
  • Spesies karang yang menjadi rumah tunggal dari clade zooxanthella tidak menunjukkan pergantian alga bahkan pada clade dengan tingkat yang sama.
  • Tidak ada studi yang telah menunjukkan bahwa spesies karang dengan hosting zooxanthella clade tunggal membentuk kombinasi simbiosis baru dengan ‘zooxanthellae cryptic’.

Mengingat data yang tersedia saat ini, mayoritas karang bersimbiosis dengan zooxanthella clade tunggal. Mungkin ada beberapa jenis karang yang dapat bersimbiosis lebih dari satu clade pada satu tempat tetapi koloni karang individu tidak beralih jenisnya dari waktu ke waktu, ketika ditransplantasikan ke lingkungan yang berbeda atau ketika mengalami stres seperti penyakit atau meningkat suhu. Dalam konteks perubahan iklim global, mayoritas spesies karang mungkin tidak dapat beralih simbion dan mungkin dalam bahaya besar. Bagaimana sisanya 23% spesies karang mampu bersimbiosis dengan beberapa clades zooxanthella. Namun bagi sebagian besar karang, pertanyaannya adalah bukan apakah perubahan simbion adalah mungkin, tetapi bagaimana dengan kondisi simbiosis yang ada dapat bertahan hidup. Jika perubahan iklim global terus terjadi, terumbu karang mungkin mengalami perubahan yang signifikan dalam keanekaragaman hayati, karena hanya subset kecil dari spesies simbion hard coral dan octocoral yang dapat bertahan hidup.

PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR SECARA TERPADU DENGAN EKOWISATA BERBASIS EDUKASI DI PULAU SEMPU

PENDAHULUAN

Pulau Sempu adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan pulau jawa secara administratif berada di desa tambakrejo, kecamatan sumber manjing wetan , kabupaten Malang, jawa timur. Pulau yang ditumbuhi pepohonan tropis seluas 877 hektar ini adalah cagar alam yang di kelola oleh Balai konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA) dan Departemen Kehutanan Indonesia. Secara resmi tempat ini diakui sebagai cagar alam sejak 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan dasar undang-undangnya adalah UU nomer 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sehingga perlu dilakukannya pengelolaan untuk wilayah pesisir, termasuk pulau sempu.

ISI

Pulau sempu merupakan sebuah cagar alam, dimana bersadarkan peraturan pemerintah dibutuhkan SIMAKSI ( Surat Izin Masuk Wilayah Konservasi ) untuk masuk ke tempat tersebut, dengan proses yang panjang dan ketat. Pada umumnya, para penelitilah yang melakukan ini. namun kebingungan muncul saat website resmi pariwisata Indonesia mempromosikannya sebagai salah satu destinasi andalan Indonesia. Begitu pula website Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur pun menyebutkan Pulau Sempu sebagai salah satu potensi wisata. Media-media besar tak mau kalah mengeksposnya sebagai ‘salah satu surga tersembunyi Indonesia yang wajib dikunjungi’. Hingga pada akhirnya, masyarakat umumpun berpikiran bahwa wisata ke Pulau Sempu adalah hal wajar. Terlepas dari polemik boleh tidaknya Pulau Sempu dimanfaatkan sebagai tempat wisata, setiap yang datang tetap wajib menjaga kelestarian dan kebersihan tempat tersebut. Hal itulah yang saya takutkan dan disayangkan. Ketika hal yang sebenarnya ‘salah’ tapi dilakukan orang banyak, hal tersebut akan dianggap ‘benar’.

Namun pada kenyataanya, dilapangan, pengunjung yang tidak memiliki SIMAKSI tetap dapat memasuki pulau tersebut dengan membayar sejumlah uang ke petugas yang berjaga. Setelah membayar, pengunjung akan mendapatkan kertas yang menerangkan bahwa “kertas tersebut bukanlah surat izin masuk kawasan”, melainkan surat keterangan bahwa yang bersangkutan telah melapor sebelum memasuki pulau tersebut. Bagi penulis, hal seperti ini menjadi rancuh dan menimbulkan presepsi negatif terhadap petugas dilokasi, karena terkesan petugas mengambil keuntungan pribadi dengan cara  mewajibkan pengunjung melapor dan membayar sejumlah uang sebelum mengunjungi pulau sempu, tanpa memberikan SIMAKSI secara legal kepada pengunjung.

Tentang peraturan boleh berkunjung tidaknya memang belum jelas. Hingga sekarang saya tak menemukan kepastian tentang hal tersebut. Disini saya tidak bermaksud melakukan privatisasi Pulau Sempu yang seperti banyak disalahartikan hanya dapat ‘dinikmati’ oleh sebagian orang. Kembali ke UU no 5 tahun 1999 Bab 1 pasal 3 dimana konservasi Sumber daya alam bertujuan untuk mengusahakan keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu tersebut setidaknya memiliki sekitar 223 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 144 marga dan 60 suku. Dari 60 suku tersebut, telah diketahui lima suku yang memiliki jumlah individu, jenis dan marga yang relatif dominan. Kelima suku tersebut adalah Moraceae, Euphorbiaeceae, Anacardiaceae, Annonaceae, dan Sterculiaceae. Sedangkan untuk jenis fauna ada sekitar 51 jenis yang terdiri dari 36 jenis aves, 12 jenis mamalia dan tiga jenis reptil. Adapun yang paling sering dijumpai diantaranya babi hutan (Sus scrofa), kera hitam (Presbytis cristata), belibis (Dendrosyqna sp) dan burung rangkong atau Buceros undulates (Ayu, 2015).

Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu yang dimaksud adalah pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan (envorenmental services) yang terdapat di kawasan pesisir; dengan cara melakukan penilaian meenyeluruh ( comprehens  assessment) tentang kawasan pesisir beserta sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan saran pemamfaatan, dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya; guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Proses pengelolaan ini di lakukan secara kontinu dan dinamis dengan mempertimbangkan segenap aspek sosial ekonomi budaya dan aspirasi masyarakat pengguna kawasan pesisir (stakeholders) serta konflik kepentingan dan konflik pemanfaatan kawasan pesisir yang mungkin ada (Pengertianilmu, 2015).

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu Pertama dengan melakukan resource assessment atau inventarisasi data tentang sumberdaya di kawasan pesisir (fisika, biologi, sosekbud, penggunaan lahan.). kemudian Impact assessment: analisis kerentanan kawasan pesisir terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan, sebagai alat bantu dalam perancangan kegiatan mitigasi dan manajemen adaptif (analisis SIG). Selanjutnya Policy and regulatory framework: pembuatan kerangka kebijakan dan aturan pengelolaan, berdasarkan analisis peraturan perundangan yang berlaku untuk menanggulangsi ancaman (analisis UU). Socio-cultural & Economic assessment: pemahaman kondisi sosial ekonomi sampai dengan level lokal untuk menentukan kegiatan mata pencaharian alternatif untuk memperkuat kapasitas masyarakat setempat. Implementation: bagaimana penerapan dan pengembangan sains dalam kegiatan manajemen kawasan pesisir, berdasarkan ketentuan dasar yang ditentukan (misal: pedoman kawasan budidaya, kawasan pemukiman). Monitoring and evaluation: penilaian terhadap keberhasilan program dan melakukan manajemen adaptif.

Untuk menunjang edukasi-nya dilakukan dengan cara pendidikan bagi masyarakat lokal dimana diharapkan masyarakat lokal yang sekaligus sebagai guide nantinya dapat menjelaskan dan mengedukasi wisatawan yang datang ke pulau sempu. Untuk selanjutnya diharapkan bisa dilakukan briefing dan pelatihan kader ekowisata. Sedangkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dipulau sempu bisa dilakukan dengan cara pembatasan pengunjung pada bulan-bulan tertentu dan ditutup total pada bulan-bulan tertentu dimana diharapkan akan terjadi pemulihan ekosistem pulau sempu saat penutupan total. Untuk menunjang pemulihan ekosistem pulau sempu bisa menggunakan beberapa cara yaitu Mengidentifikasi dan melindungi daerah-daerah kritis yang secara alami bertahan dari perubahan, Menetapkan zona penyangga dan greenbelts,  Mengembalikan daerah yang rusak, yang mana daerah tersebut telah menunjukkan resistensi atau kelentingan terhadap perubahan, Melaksanakan strategi adaptif untuk mengkompensasi perubahan/pergeseran lokasi hidup tiap spesies dan kondisi lingkungan,  Mengembangkan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat,  Membangun kemitraan dengan berbagai stakeholders untuk menghasilkan dana dan dukungan yang diperlukan untuk merespon dampak perubahan iklim,

KESIMPULAN

Untuk mengembangkan Pengelolaan Pulau Sempu tidak hanya terpaku pada cagar alam saja, untuk itu diperlukan sebuah manajemen dan koordinasi terkait untuk melaksanakan rencana oleh berbagai pihak yang terlibat didalamnya.

REFERENSI

Damastuti, Ayu Sri. 2015. Penerapan Ekowisata di Sebuah Cagar Alam?. http://www.kompasiana.com/ayusri/penerapan-ekowisata-di-sebuah-cagar-alam_551c10f581331155019de1a0. Diakses pada 28 September 2015.

Pengertianilmu. 2015. Konsep dan Definisi pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut. http://www.pengertianilmu.com/2014/12/konsep-dan-definisi-pengelolaan-wilayah.html. Diakses pada 28 September 2015.

PEMODELAN DALAM METEOROLOGI KELAUTAN UNTUK DUNIA PERIKANAN DAN KELAUTAN

PENDAHULUAN

Sejarah pengamatan meteorologi di Indonesia dimulai pada tahun 1841 diawali dengan pengamatan yang dilakukan secara perorangan oleh Dr. Onnen, Kpl Rumah Sakit Bogor. Tahun demi tahun kegiatannya berkembang sesuai dengan semakin diperlukannya data hasil pengamatan cuaca dan geofisika. Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut oleh Pemerintah Hindia Belanda diresmikan menjadi instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi yg dikepalai Oleh Dr. Bergsma
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, instansi tersebut dibagi menjadi dua yaitu: Di Yogyakarta dibentuk Biro Meteorologi yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus untuk melayani kepentingan AL. Di Jakarta dibentuk sebuah Jawatan Meteorologi dan Geofisika, dibawah Kementerian Pekerjaan Umum & Tenaga(Heru, 2013).

Pada tahun 1972, Direktorat Meteorologi & Geofisika diganti namanya menjadi Pusat Meteorologi & Geofisika, suatu instansi setingkat eselon II di bawah Departemen Perhubungan, & pada tahun 1980 statusnya dinaikkan menjadi suatu instansi setingkat eselon I dengan nama Badan Meteorologi & Geofisika, dengan kedudukan tetap berada di bawah Departemen Perhubungan. Dari pemahaman iklim Indonesia dapat kita lihat Proses interaksi laut atmosfir yang spesifik terjadi di Indonesia Proses interaksi laut atmosfir dalam ilmu kebumian merupakan hal terpenting yang sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia terutama di daerah pesisir. Ilmu meteorology di Indonesia merupakan ilmu dasar yang kurang diminati sehingga perkembangannya dibandingkan ilmu kebumian lainnya seperti geofisika, geologi dan kelautan sangat jauh tertinggal. Pemahaman atas proses fisis kebumian atmosfir Indonesia masih terbilang jauh tertinggal dibandingkan bidang ilmu kebumian lainnya. Kurangnya minat mempelajari meteorology karena sering dihubungkan dengan salah satu pekerjaan meteorology, untuk meramal cuaca atau iklim. Padahal pengkajian ilmu meteorology cukup luas meliputi berbagai aspek. Di Negara maju yang terbilang tinggi dengan empat musim masalah kebumian lain selalu dihubungkan dengan perubahan fisis meteorologi yang terjadi. Hal ini karena pada dasarnya hamper semua aspek kehidupan manusia dipengaruhi oleh keempat musim tersebut dan variasinya. Variasi iklim utama di Indonesia adalah faktor musiman yang dikenal dengan istilah monsoon. Oleh karena itu penting untuk mempelajari meteorologi laut secara umum dan khusus.

ISI

Keberadaan variasi cuaca dan iklim membawa dampak yang terkadang cukup serius bagi kehidupan manusia, hal ini karena terlalu ekstrimnya fluktuasi tersebut. Meskipun demikian karakteristik cuaca regional juga ditentukan selain faktor orografis, juga letak lintangnya. Pentingnya interaksi laut atmosfir di Indonesia dapat dilihat paling tidak diwilayah yang paling berperan ekonomis yaitu disekitar garis pantai. Proses-proses kecil ini terjadi seantero nusantara dan berperan penting bagi sifat iklim regional. Perubahan akibat variasi ekstrim bersifat sesaat, sedangkan ada lagi faktir perubahan laten lainnya yang terjadi pada iklim global yang sedang dialami bumi. Akibat faktor natural dan antropogenik cuaca dan iklim berubah secara perlahan dari kestabilan normal tertentu menuju kestabilan yang baru. Artinya apabila dahulu kondisi yang sama berada pada bagian ekstrim, maka kejadian tersebut akan lebih sering terjadi sehingga merubah rata-rata statistic cuaca pada umumnya. Kondisi ini terjadi secara global meskipun tanda-tandanya sangat sukar dideteksi karena perubahan yang terjadi berlangsung dalam rentang waktu yang sagat lambat dan lama. Perubahan ini dikenal dengan isttilah perubahan iklim global(Asep, 2015).

Model iklim saat ini telah dapat dimasukkan dalam sebuah komputer pribadi dan dijalankan untuk menghitung secara kompregensif kondisi alam yang terjadi. Hasil dari model iklim seperti ini seringkali berhasil memberikan gambaran skala luas fenomena yang terjadi meski tidak pada skala yang terlalu detail. Hal ini karena model iklim menyediakan hasil komprehensif yang diluar imaginasi manusia sebelumnya dan tidak terbayangkan oleh teori linear dan observasi pada titik-titik tertentu dimuka bumi. Model iklim telah menjadikan ilmu meteorologi suatu ilmu dan fenomena favorit dari yang tidak terbayangkan sebelumnya(Mamad, 2014). 

a

Model dibuat untuk membuat prediksi secara kuantitatif (deterministik atau probabilistik) yangdapat digunakan baik untuk menguji dan menyempurnakan model sebelumnya, atau untuk digunakan secara praktis. Pemodelan untuk prediksi kuantitatif iklim dikelompokkan atas pendekatan deterministik dan stokastik atau kombinasi keduanya, yang disebut dengan pendekatan parametrik. Pada umumnya analisis dan pemodelan iklim untuk peramalan cuaca (iklim jangka pendek) dan berbagai pemodelan pertanian banyak didasarkan pada pendekatan deterministik, sedangkan model iklim untuk peramalan musim dan iklim (climate forcasting), seperti halnya anomali iklim akibat kejadian ENSO (El Niño/Southern Oscillation) atau hujan bulanan dan lain-lain, lebih sering menggunakan pendekatan stokastik atau model-model statistik. Namun dalam praktek, sebenarnya tidak ada analisis dan model iklim yang secara murni (mutlak) menggunakan salah satu dari kedua pendekatan tersebut, tetapi hanya berupa kecenderungan. Pendekatan deterministik atau analisis sistem dalam model dan analisis prediksi iklim didasarkan pada “proses fisis” dan/atau hubungan sebab akibat dari beberapa unsur atau komponen dalam sistem atmosfer, darat, dan lautan(Suhartono, 2009).

b

Untuk model stokastik, beberapa yang sudah dikembangkan di Indonesia di antaranya model Autoregressive Integrated Moving Average atau ARIMA, Fungsi Transfer, Adaptive Splines Threshold Autore-gression atau ASTAR. Beberapa model prediksi iklim yang sering digunakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah ARIMA, tranformasi wavelet, dan Adaptive Neuro-Fuzzy Inference Systems atau ANFIS.  Permasalahan yang sering muncul dalam hal ini adalah tidak terpenuhinya asumsi kestasioneran, dimana seringkali dijumpai kondisi yang berbeda-beda pada setiap lokasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa model-model tersebut spesifik atau hanya bisa diaplikasikan untuk lokasi tertentu saja. Model-model prediksi iklim yang berkembang saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan. Contoh-contoh pendekatan model spatio-temporalm antara lain model Space-Time AutoRegressive Moving Average (STARMA), yang merupakan pengembangan model deret waktu ARMA dari Box-Jenkins di beberapa lokasi, atau dinamakan model vektor deret waktu. Model Space-Time AutoRegressive (STAR) yang merupakan bagian dari model STARMA memiliki keterbatasan, yaitu model tersebut mengasumsikan bahwa parameter untuk semua lokasi yang tersampel bernilai sama, artinya lokasi-lokasi yang diamati bersifat serba sama atau homogendari (Pfeifer, 1980).

KESIMPULAN

Pemodelan dalam meteorologi laut untuk dunia perikanan dan kelautan di era moderen sekarang ini penting, hal ini karena sudah ada pergeseran iklim yang ekstrim dan konstan sekarang ini akibat dari iklim global. Perkembangan meteorologi laut sekarang sudah sangat pesat dibandingkan dulu.

REFERENSI

Triyanda, Heru. 2013. Meteorologi Laut. Http://Kuliahkelautan.Blogspot.Co.Id/2013/02/Meteorologi-Laut.Html.

Pfeifer, P.E dan Deutsch, S.J. 1980. Stationarity and Invertibility Regions for Low Order STARMA Models.  Communications in Statistics-Simulation and Computation 9 (5). P. 551-562.

Suhartono, Sutikno, Otok, B.W., dan Setiawan. 2009. Pengembangan model prakiraan iklim untuk pengendalian ketahanan pangan. Laporan Penelitian Strategis ITS, Surabaya

Irwan, Asep. 2015. Bahan Kuliah Meteorologi Laut (1). http://www.scribd.com/doc/46093009/Bahan-Kuliah-Meteorologi-Laut-1#scribd.

Tamamadin, Mamad. 2014. Perkembangan Model Iklim di Indonesia. https://mamadtama.wordpress.com/category/pemodelan-meteorologi/.

Dampak Penyelam Terhadap Terumbu Karang

Terumbu karang masih menjadi tempat menyelam favorit untuk penyelam. Tetapi suka atau tidak, penyelam menyebabkan kerusakan substansial untuk terumbu karang dunia. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa penyelam secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan kerusakan terhadap kehidupan karang. Menyelam di terumbu karang merupakan satu tantangan tersendiri dibandingkan dengan menyelam dengan tujuan lain. Penyelam harus memiliki dorongan dan perhatian terhadap alam ketika menyelam di terumbu karang. Terumbu karang bukanlah batu yang berwarna-warni di laut, namun mereka adalah organisme hidup yang membutuhkan perhatian khusus.

DAMPAK SEPERTI APA YANG TERJADI PADA TERUMBU KARANG?

This photo is taken with Brica B-PRO5 Alpha Edition mk.¢ò

Penyelam mungkin tidak menyadari bahwa kegiatan menyelam mereka di terumbu karang memiliki dampak yang buruk.

Kerusakan terumbu karang yang terjadi sangat berkala dan kecil sehingga dampaknya pada karang dan ekosistem laut relatif rendah. Penelitian selama beberapa tahun menunjukkan bahwa dampaknya sangat kecil.

Tetapi ketika degradasi terumbu karang terus berlangsung, akan ada dampak jangka panjang yang terjadi pada ekosistem laut. Perubahan yang kecil dapat memicu perubahan yang sangat drastis terhadap perubahan struktur.

MENJADI PENYELAM YANG IDEAL

This photo is taken with Brica B-PRO5 Alpha Edition mk.¢ò

Untuk menjadi penyelam karang yang sensitif dan peka tidak menjadi masalah besar. Kemauan yang tinggi untuk menyelamatkan dan mempertahankan alam saja sudah cukup. Tapi sekalin itu butuh Kontrol bouyancy, pergerakan di dalam air, pengaturan pernafasan yang baik, adalah hal teknis yang dibutuhkan untuk menjadi penyelam karang yang baik. Menjadi kebanggaan tersendiri ketika setiap orang dapat mengusung nilai-nilai perlindungan dan konservasi.

APA YANG STATISTIK KATAKAN?

IMG_3297

  • Fakta yang menyedihkan adalah mengetahui bahwa terumbu karang sekarang dalam bahaya
  • Studi menunjukkan bahwa 1/4 dari total karang di seluruh dunia sudah hilang
  • Terumbu karang di Asia Selatan dapat punah jika tidak dijaga dengan baik
  • Pemanasan global juga menjadi hal yang berbahaya bagi kelangsungan hidup terumbu karang
  • Penyelam menjadi agen penyelamat terumbu karang yang paling penting

Sumber: http://reefcheck.or.id/2016/06/20/dampak-penyelam-terhadap-terumbu-karang/