Belajar dari Columbus

IMG_7537

Seorang nelayan tradisional yang sedang mencari ikan dilaut

Jika seratus orang dikumpulkan dan masing-masing harus menyebutkan sepuluh barang berbeda yang terbuat dari plastik, niscaya tidak ada yang kehabisan ide. Namun, hal ini akan lain berbeda jika harus menyebutkan bagaimana budaya maritim Indonesia. Sejak dulu Indonesia dikenal sebagi negara yang memiliki potensi maritim yang hebat. Hal ini dikarenakan adanya 17 ribu pulau dan wilayah laut yang mencapai 70 persen dari luas wilayah NKRI. Tidak hanya itu, lokasi Indonesia yang berada di wilayah geografis yang menguntungkan, yaitu di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Jalur yang menghubungkan dua samudera itu disebut-sebut sebagai jalur yang penting bagi lalu lintas perdagangan dunia. Tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) juga menjadi faktor pendukung lain dalam kesuksesan maritim Indonesia. ALKI merupakan alur yang dapat digunakan pelayaran kapal dan penerbangan pesawat internasional secara normal dan damai.

Saya jadi teringat seorang sosok pelaut yang tangguh sekitar abad ke 7. Seorang pelaut yang tangguh mengangkat layarnya menyebrangi lautan. Tujuannya adalah tanah subur di timur nun jauh dari daratan tempat tinggalnya, menjelajahi dunia dari keingintahuan yang tinggi. Proposalnya dibawa kemana-mana. Setelah ditolak oleh raja portugis dan inggris, pria ini akhirnya berhasil mendapatkan kepercayaan ratu spanyol. Pada kemudian hari setelah menjelajahi samudra berbulan-bulan, ia mendarat disebuah tempat. “India!”, ia berseru kepada semua awak kapalnya. “kita telah mendarat di India.”

Anda mungkin sudah bisa tau siapa yang saya maksud. Ya, ia adalah Christopher Columbus. Alih-alih mendarat di India seperti yang diharapan ratu Isabel yang membiayai misi perjalanannya, Columbus justru mendarat di sebuah benua yang kelak dinamai Amerika. Ini tentu di luar harapannya. Ia sendiri tak pernah sampai ke tanah India, melainkan kesasar di benua lain. Namun, alih-alih dihukum karena tersasar, Columbus justru diberi penghargaan raja Ferdinand dan ratu Isabel.bahkan hingga hari ini kita mengenalnya sebagai penemu benua Amerika. Ketika dicemooh itulah Columbus bekata, “kalau saya tak pernah mau kesasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.”

Saya kira Columbus seratus persen benar. Kita semua tahu tidaklah penting apa yang kita capai hari ini, atau saat ini. Yang lebih penting sesungguhnya adalah apa yang bisa kita pelajari dari sebuah perjalanan itu sendiri dan apa yang bisa kita lakukan didepan. Apalagi perjalanan itu adalah sebuah proses, bukan perhentian akhir. orang-orang besar itu adalah the Climbers, bukan the campers, apalagi the quitters, sebetulnya hal ini tidak jauh berbeda dengan pelaut-pelaut di tanah air kita Indonesia. Sayangnya hari ini, jutaan manusia Indonesia sagat takut “menjelajahi” dunia baru terutama lautan. Sudah banyak dari generasi muda kita yang tanpa kita sadari sebenarnya kita terperangkap dalam kenyamanan yang sesungguhnya mencerminkan kemalasan berpikir belaka. Dan otak kita dibajak oleh autopilot yang programernya ya siapa lagi, kalau bukan kita sendiri

IMG_7535

kapal nelayan yang bersandar di pelabuhan

If you really want to do something, you’ll find a way. If you don’t, you will find an excuse – Jim Rohn.

Lidah itu Raja

Kita selalu pandai melihat kesalahan orang lain, menegur dan mengingatkannya. Namun, kita tidak selalu pandai melihat kebaikan mereka dan sulit menyadari kebenaran yang mereka lakukan untuk dipuji. Seni memikat hati orang lain teramat banyak. Sebagian dengan melakukan sesuatu, sebagian dengan meninggalkannya. Senyum bisa mengikat hati. Sebaliknya, muka masam juga bisa begitu. Perbincangan yang mengasyikkan dan kelakar ringan bisa memikat hati. Sebaliknya, mendengarkan dengan seksama juga bisa demikian.

Selama bisa menyampaikan gagasan dengan cara yang baik, mengapa kita memakai cara yang tidak baik?! Betapa banyak pertengkaran yang meletus diantara sesama saudara, teman, dan sebagainya dikarenakan caci-maki, gunjingan, serta kata-kata kotor.

Aku jadi teringat sebuah cerita semasa kecil dulu, begini ceritanya.

Konon, seorang raja yang diagungkan bermimpi giginya rontok. Esok harinya ia memanggil seorang penafsir mimpi untuk menanyakan artinya. Mendengar penuturan sang raja, mendadak wajah sang penafsir berubah. Berkali-kali ia mengucapkan “a’udzubilah….a’udzubilah”

“Ada apa dengan mimpiku ?” Tanya sang raja kaget.

Sang penafsir berkata, “sanak keluarga anda akan meninggal semua dan anda akan hidup bertahun-tahun. Andapun akan tinggal sendiri dalam istana anda.”

Rajapun marah dan sumpah serapah terlontar. Sang penafsir dihukum dan rajapun memanggil penafsir lain. Rajapun melakukan hal yang sama, menceritakan mimpinya dan menanyakan artinya kepada penafsir kedua ini. Mendengar cerita raja tersebut wajah penafsir itu ceria. Senyumnya merekah. Ia berkata, “berbahagialah. Baik, sungguh baik, wahai raja.”

“Apa arti mimpiku?” Tanya raja penasaran.

“mimpi anda punya arti anda panjang umur. Andalah orang terakhir dari keluarga anda yang akan meninggal dunia. Dan, anda akan menjadi raja sepanjang umur.”

Rajapun tersenyum dan memberikan hadiah kepada penafsir itu. Ia senang kepadanya dan tidak suka pada penafsir pertama. Padahal jika dipikir-pikir, dua penafsir itu tidaklah berbeda. Yang berbeda adalah cara penuturannya.

Dari cerita singkat diatas dapat ditarik sedikit hikmah bahwa lidah itu ibarat raja. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Ahmad dan al-Turmudzi, Rasulullah bersabdah,”jika pagi datang pada anak keturunan adam, semua anggota tubuh menyelubungi lidah dan berkata, “bertakwalah kepada Allah terhadap kami. Kami ini bergantung padamu. Jika engkau lurus, kami lurus. Dan, jika engkau bengkok, kami bengkok.

Umumnya, penyebab gembira atau sedih itu sama. Memang, manis-pahit datang silih berganti. Begitulah sunnah kehidupan. Mengapa kita harus menyiksa diri? Yang terjadi disekitarmu tidak harus membuatmu senang 100%. Tujuan kita bukan bagaimana bisa sepakat, melainkan bagaimana tidak bertikai dan berselisih.

-End, 23.55-

Interaksi

IMG_20160205_190548

Suatu hari ada orang yang bernama Abdullah, dia punya semangat tinggi tapi tidak mempunyai kecakapan. Suatu hari, ia pergi untuk sholat zuhur ke masjid. Langkah kakinya didorong oleh semangat memelihara sholat dan memuliakan agama. Tempo langkah kakinya dipercepat karena khawatir terlambat. Namun, ditengah jalan ia melihat pohon kurma. Diatas pohon itu ada seseorang yang tengah kerja memperbaiki pohon kurma. Abdullah merasa heran karena melihat orang yang tidak mengindahkan shalat itu, tampk tidak mendengar suara azan.

‘Abdullah berteriak, “hei, turun sholat dulu!”

“baiklah-baiklah.” Kata orang itu dingin.

‘Abdullah berkata lagi, “cepatlah, shalat dulu, wahai keledai!”

“AKu keledai?!” kata orang itu dengan nada tinggi karena tersinggung. Orang itu mengambil pelepah kurma, lalu turun bermaksud untuk menggampar kepala Abdullah. Karena merasa terancam Abdullah berlari kencang sambil menutupi wajahnya agar tidak dikenali orang itu. Orang tersebutpun turun sambil marah-marah. Kemudian ia pulang dan sholat. Emosinya kini berangsur membaik. Setelah itu ia kembali bekerja.

Memasuki waktu asar. Abdullah kembali pergi kemasjid. Saat melintasi pohon yang sama orang itu masih diatas. Abdullah-pun mencoba mengubah cara berinteraksinya.

“Assalamualaikum, apa kabar?” sapa Abdullah

“Alhamdulillah, baik,” jawabnya

“Tuan bagaimana buahnya tahun ini?”

“Alhamdulillah!”

“Semoga Allah membantumu dan memberi rezeki. Semoga dia melapangkan hidupmu dab melimpahkan pahala atas kerja kerja kerasmu untuk anak-anakmu.”

Wajah orang tersebut terlihat gembira mendengar sapaan ini. Ia pun mengamini dan berterima kasih.

Saat itulah Abdullah berkata, “tetapi karena teramat sibuk, anda sepertinya tidak mendengar azan. Azan asar sudah dikumandangkan dan sebentar lagi akan ikamah. Sebaiknya anda turun dulu beristirahat dan shalat. Setelah itu, lanjutkan lagi pekerjaanmu, semoga Allah senantiasa menjaga kesehatanmu.”

“Insya Allah,” kata orang tersebut. “insya Allah”

Ia pun turun pelan-pelan. Setelah menginjak tanah, ia menghampiri Abdullah dan menjabat tangannya dengan hangat. “terima kasih atas perlakuanmu yang luar biasa ini.” Katanya. “berbeda dengan orang yang kujumpai waktu zuhur tadi. Andaikata aku melihatnya, aku akan meneriakinya keledai”.

Kesimpulannya kecakapan berinteraksi dengan orang lain pada dasarnya menentukan cara orang lain berinteraksi denganmu.

-End, 19.20-