Apakah saya gila?

Coba sesekali, dirimu berjalan dan berhenti secara acak, terus coba lihat orang-orang disekelilingmu, niscaya kamu akan mendapati banyak orang gila dan bodoh disekitarmu. Di zaman sekarang definisi gila sudah bergeser dan multitafsir. Menurut orang-orang ahli hakikat dalam berbagai riwayat, orang gila adalah orang yang hidupnya berfondasikan pada dunia, bekerja keras untuk dunia dan berfoya-foya dengan dunia. Ada yang berpendapat, “orang gila adalah orang yang mencari keridhaan manusia dengan meniti kemurkaan Tuhan. Dan menurut saya pribadi gila itu adalah ketika orang yang tidak dapat membedakan antara ketidakwarasan dan kewarasannya baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Sebagian orang ada yang pura-pura bodoh untuk menyelamatkan diri dari cobaan dan ujian. Sebagian orang ada yang pura-pura bodoh untuk memperoleh kesempatan dan memperbaiki hidup. Diantara mereka ada yang pura-pura bodoh untuk mendapatkan kekayaan. Adapula orang yang berpura-pura gila padahal sehat akalnya. Kegilaan semacam ini punya banyak macam. Salah satunya seperti cerita dibawah ini dan semoga relevan.

Ada seorang lelaki bersumpah untuk tidak menikah sampai dia berkonsultasi dengan seratus orang. Dia telah berkonsultasi dengan 99 orang secara acak. Tinggal satu orang lagi yang perlu dia mintai pendapat. Dia keluar rumah untuk bertanya kepada orang yang pertama kali ditemuinya.

Pada saat itu, dia melihat orang gila yang memakai kalung dari tulang, mukanya hitam, menaiki  rotan seolah menaiki kuda dan membawa tombak. Lelaki tadi menyalami orang gila itu lalu menyatakan ingin bertanya. Orang gila itu berkata, “tanyakan apa yang penting. Tinggalkan pertanyaan yang tak perlu. Dan usah kau hiraukan tombok di ‘Kuda’ ini.”

Lelaki itu berkata, “demi Tuhan, dia gila.” Lalu dia berkata kepada orang gila itu, “aku lelaki yang beranggapan bahwa perempuan itu hanya menyulitkan. Makannya, aku bersumpah untuk tidak menikah, kecuali aku berkonsultasi dengan seratus orang dan engkau adalah orang yang keseratus.” Orang gila itu berkata, “ketahuilah! Perempuan itu ada tiga macam: pertama, baik untukmu (laka). Kedua, berbahaya bagimu (‘alaika). Ketiga, tidak baik untukmu dan juga tidak berbahaya bagimu.

Perempuan yang baik untukmu adalah perempuan terpuji yang tidak pernah disentuh pria. Dia perempuan baik untukmu dan tidak berbahaya buatmu. Jika perempuan itu lihat lelaki baik, dia memuji. Jika dia melihat lelaki buruk, dia berkata, ‘lelaki memang semacam itu.’

Adapun perempuan yang berbahaya bagimu dan tidak baik untukmu adalah perempuan yang punya anak dari selainmu. Dia perempuan yang membuka pakaian untuk lelaki lain dan bersetubuh untuk mendapatkan anak dari lelaki lain pula.

Adapun perempuan yang tidak baik untukmu dan tidak berbhaya bagimu adalah seorang janda. Jika dia melihat lelaki baik, dia mengatakan, ‘demikianlah seharusnya.’ Jika dia melihat lelaki buruk, dia merindukan suaminya yang pertama.

Lelaki itu lantas berkata, “engkaulah orang yang kucari selama ini! Apa yang mengubahmu menjadi seperti yang aku lihat sekarang?” orang gila itu berkata, “bukankah aku telah memberitahumu untuk tidak menanyakan perkara yang tidak perlu?” lelaki itu lalu bersumpah untuk tidak bertanya. Si gila kemudian berkata, “aku dipaksa menjadi qadhi. Lalu aku memilih menjadi apa yang kau lihat ini daripada menjadi qadhi.” Demi Tuhan Manusia. Ada yang lebih gila dariku yakni yang membeli dunia dengan agama.

Dari kisah diatas, saya jadi sedikit teringat perkataan dari Wahb bin Munabbih, beliau berkata jika “ anak adam itu diciptakan dalam kondisi bodoh. Seandainya bukan karena kebodohannya, niscaya dunia ini takkan membuatnya gembira.” Allah telah mengundamu ke negeri yang penuh kedamaian (surga), sedangkan engkau lebih memilih menetap di duniamu. Allah telah memperingatkanmu tentang musuhmu yang bernama setan, tapi engkau justru bersekutu dengannya sepanjang waktu. Allah memerintahkanmu melawan hawa nafsumu, tapi engkau malah merangkulnya sepanjang pagi dan sore. Maka kedunguan itu tidak lain adalah sifat yang ada dalam dirimu itu. Kita diciptakan untuk suatu amar. Jika kita tidak mempercayainya, berarti kita pandir. Jika kita mempercayainya saja tanpa takut (mendustainya), maka kita akan hancur.

-End, 11.11; Purwokerto, 9 Mei 2018 di Kamar tidurku-

Advertisements

Belajar dari Columbus

IMG_7537

Seorang nelayan tradisional yang sedang mencari ikan dilaut

Jika seratus orang dikumpulkan dan masing-masing harus menyebutkan sepuluh barang berbeda yang terbuat dari plastik, niscaya tidak ada yang kehabisan ide. Namun, hal ini akan lain berbeda jika harus menyebutkan bagaimana budaya maritim Indonesia. Sejak dulu Indonesia dikenal sebagi negara yang memiliki potensi maritim yang hebat. Hal ini dikarenakan adanya 17 ribu pulau dan wilayah laut yang mencapai 70 persen dari luas wilayah NKRI. Tidak hanya itu, lokasi Indonesia yang berada di wilayah geografis yang menguntungkan, yaitu di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Jalur yang menghubungkan dua samudera itu disebut-sebut sebagai jalur yang penting bagi lalu lintas perdagangan dunia. Tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) juga menjadi faktor pendukung lain dalam kesuksesan maritim Indonesia. ALKI merupakan alur yang dapat digunakan pelayaran kapal dan penerbangan pesawat internasional secara normal dan damai.

Saya jadi teringat seorang sosok pelaut yang tangguh sekitar abad ke 7. Seorang pelaut yang tangguh mengangkat layarnya menyebrangi lautan. Tujuannya adalah tanah subur di timur nun jauh dari daratan tempat tinggalnya, menjelajahi dunia dari keingintahuan yang tinggi. Proposalnya dibawa kemana-mana. Setelah ditolak oleh raja portugis dan inggris, pria ini akhirnya berhasil mendapatkan kepercayaan ratu spanyol. Pada kemudian hari setelah menjelajahi samudra berbulan-bulan, ia mendarat disebuah tempat. “India!”, ia berseru kepada semua awak kapalnya. “kita telah mendarat di India.”

Anda mungkin sudah bisa tau siapa yang saya maksud. Ya, ia adalah Christopher Columbus. Alih-alih mendarat di India seperti yang diharapan ratu Isabel yang membiayai misi perjalanannya, Columbus justru mendarat di sebuah benua yang kelak dinamai Amerika. Ini tentu di luar harapannya. Ia sendiri tak pernah sampai ke tanah India, melainkan kesasar di benua lain. Namun, alih-alih dihukum karena tersasar, Columbus justru diberi penghargaan raja Ferdinand dan ratu Isabel.bahkan hingga hari ini kita mengenalnya sebagai penemu benua Amerika. Ketika dicemooh itulah Columbus bekata, “kalau saya tak pernah mau kesasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.”

Saya kira Columbus seratus persen benar. Kita semua tahu tidaklah penting apa yang kita capai hari ini, atau saat ini. Yang lebih penting sesungguhnya adalah apa yang bisa kita pelajari dari sebuah perjalanan itu sendiri dan apa yang bisa kita lakukan didepan. Apalagi perjalanan itu adalah sebuah proses, bukan perhentian akhir. orang-orang besar itu adalah the Climbers, bukan the campers, apalagi the quitters, sebetulnya hal ini tidak jauh berbeda dengan pelaut-pelaut di tanah air kita Indonesia. Sayangnya hari ini, jutaan manusia Indonesia sagat takut “menjelajahi” dunia baru terutama lautan. Sudah banyak dari generasi muda kita yang tanpa kita sadari sebenarnya kita terperangkap dalam kenyamanan yang sesungguhnya mencerminkan kemalasan berpikir belaka. Dan otak kita dibajak oleh autopilot yang programernya ya siapa lagi, kalau bukan kita sendiri

IMG_7535

kapal nelayan yang bersandar di pelabuhan

If you really want to do something, you’ll find a way. If you don’t, you will find an excuse – Jim Rohn.

Lidah itu Raja

Kita selalu pandai melihat kesalahan orang lain, menegur dan mengingatkannya. Namun, kita tidak selalu pandai melihat kebaikan mereka dan sulit menyadari kebenaran yang mereka lakukan untuk dipuji. Seni memikat hati orang lain teramat banyak. Sebagian dengan melakukan sesuatu, sebagian dengan meninggalkannya. Senyum bisa mengikat hati. Sebaliknya, muka masam juga bisa begitu. Perbincangan yang mengasyikkan dan kelakar ringan bisa memikat hati. Sebaliknya, mendengarkan dengan seksama juga bisa demikian.

Selama bisa menyampaikan gagasan dengan cara yang baik, mengapa kita memakai cara yang tidak baik?! Betapa banyak pertengkaran yang meletus diantara sesama saudara, teman, dan sebagainya dikarenakan caci-maki, gunjingan, serta kata-kata kotor.

Aku jadi teringat sebuah cerita semasa kecil dulu, begini ceritanya.

Konon, seorang raja yang diagungkan bermimpi giginya rontok. Esok harinya ia memanggil seorang penafsir mimpi untuk menanyakan artinya. Mendengar penuturan sang raja, mendadak wajah sang penafsir berubah. Berkali-kali ia mengucapkan “a’udzubilah….a’udzubilah”

“Ada apa dengan mimpiku ?” Tanya sang raja kaget.

Sang penafsir berkata, “sanak keluarga anda akan meninggal semua dan anda akan hidup bertahun-tahun. Andapun akan tinggal sendiri dalam istana anda.”

Rajapun marah dan sumpah serapah terlontar. Sang penafsir dihukum dan rajapun memanggil penafsir lain. Rajapun melakukan hal yang sama, menceritakan mimpinya dan menanyakan artinya kepada penafsir kedua ini. Mendengar cerita raja tersebut wajah penafsir itu ceria. Senyumnya merekah. Ia berkata, “berbahagialah. Baik, sungguh baik, wahai raja.”

“Apa arti mimpiku?” Tanya raja penasaran.

“mimpi anda punya arti anda panjang umur. Andalah orang terakhir dari keluarga anda yang akan meninggal dunia. Dan, anda akan menjadi raja sepanjang umur.”

Rajapun tersenyum dan memberikan hadiah kepada penafsir itu. Ia senang kepadanya dan tidak suka pada penafsir pertama. Padahal jika dipikir-pikir, dua penafsir itu tidaklah berbeda. Yang berbeda adalah cara penuturannya.

Dari cerita singkat diatas dapat ditarik sedikit hikmah bahwa lidah itu ibarat raja. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Ahmad dan al-Turmudzi, Rasulullah bersabdah,”jika pagi datang pada anak keturunan adam, semua anggota tubuh menyelubungi lidah dan berkata, “bertakwalah kepada Allah terhadap kami. Kami ini bergantung padamu. Jika engkau lurus, kami lurus. Dan, jika engkau bengkok, kami bengkok.

Umumnya, penyebab gembira atau sedih itu sama. Memang, manis-pahit datang silih berganti. Begitulah sunnah kehidupan. Mengapa kita harus menyiksa diri? Yang terjadi disekitarmu tidak harus membuatmu senang 100%. Tujuan kita bukan bagaimana bisa sepakat, melainkan bagaimana tidak bertikai dan berselisih.

-End, 23.55-