Menyelam = Minum Alkohol?

Menyelam adalah kegiatan yang “memabukkan”. Anda yang pernah merasakan pasti tahu kalau ungkapan ini bukan sekedar kiasan belaka. Saat berada di kedalaman tertentu, diver bisa mengalami “nitrogen narcosis” yang efeknya mirip seperti menenggak minuman beralkohol. Untuk lebih lengkapnya, mari kita lihat penjelasan berikut.

Picture5

ilustrasi berdasarkan kedalaman.

Apa itu “nitrogen narcosis”?

Udara yang kita hirup sehari-hari mengandung nitrogen sebanyak 78%, oksigen 21%, dan campuran gas-gas lain sekitar 1%. Meski proporsinya paling besar, selama di darat nitrogen tidak memberi pengaruh apa-apa untuk tubuh. Berbeda dengan di air. Saat kita berada di kedalaman laut, tekanan gas nitrogen dalam badan bisa meningkat dan memberi semacam efek bius pada otak. Inilah yang disebut nitrogen narcosis.

Seperti apa gejalanya?

Menurut teori Meyer-Overton, ahli farmakologi dari Jerman, dalam tekanan air laut, gas nitrogen di badan penyelam bisa mengembang hingga menembus lapisan lemak otak dan menganggu sistem saraf. Begitu saraf otak terganggu, seseorang bisa mengalami kecemasan tanpa alasan, kehilangan memori jangka pendek, disorientasi, hilang fokus, gangguan koordinasi tubuh, halusinasi, dan bahkan euphoria atau rasa senang yang tak terkendali. Kalau dilihat dari gejalanya, orang yang terkena narcosis mirip seperti orang mabuk alkohol. Karena itu, ada juga kalangan diver mancanegara yang menyebut nitrogen narcosis sebagai martini effect, minuman keras yang terkenal sebagai koktail favorit James Bond.

Di kedalaman berapa orang bisa terkena nitrogen narcosis?

Ada sebuah anekdot yang mengatakan bahwa setiap penyelaman 10 meter sama dengan minum 1 gelas Martini. Tapi hal itu tidak sepenuhnya benar. Umumnya martini effect terjadi mulai di kedalaman 30 meter, dimana tekanan air laut sudah mencapai 2 ATM. Sekalipun begitu, penyelam di perairan yang lebih dangkal juga bisa mengalami gangguan serupa. Pasalnya, selain dipengaruhi oleh kedalaman dan tekanan air laut, nitrogen narcosis juga dipicu oleh kondisi badan yang tidak fit, kelelahan fisik dan mental, atau pengaruh alkohol serta obat-obatan yang diminum penyelam sebelum turun ke laut.

Apa bahayanya?

Pada dasarnya, nitrogen narcosis tidak membahayakan jiwa penyelam secara langsung. Namun demikian, gangguan ini tetap perlu diwaspadai karena bisa memunculkan foolish behaviour atau perilaku-perilaku yang tidak aman. Seperti sudah disebut di atas, penyelam yang mengalami narcosis bisa mengalami disorientasi, gangguan motorik, sampai halusinasi. Dalam kondisi seperti itu, penyelam sangat mungkin melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri ataupun buddy-nya. Bisa diibaratkan, penyelam yang terkena narcosis seperti orang mabuk yang menyetir mobil. Risiko dari setiap tindakannya bisa meningkat hingga beberapa kali lipat.

Bagaimana cara mengatasi/mencegah nitrogen narcosis?

Saat penyelam merasa seperti mabuk, bingung dan kehilangan fokus, langkah pertama yang harus diambil adalah ascending dan safety stop. Dengan berenang ke perairan yang lebih dangkal, narcosis akan berkurang dengan sendirinya sampai hilang sama sekali. Tapi mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, dan cara terbaik mencegah narcosis adalah membatasi kedalaman penyelaman. Kalaupun ingin mengeksplor lautan dalam, pastikan Anda sudah mempelajari skill penyelaman tingkat lanjut seperti Nitrox Diving, Deep Diving, atau Technical Diving di bawah pengawasan instruktur berpengalaman. Selain itu, Anda juga bisa mencegah nitrogen narcosis dengan menjaga kesehatan tubuh. Mulai dengan makan makanan bernutrisi bagus, olahraga teratur, serta menghindari konsumsi alkohol berlebihan. Dengan fisik yang prima, setiap penyelaman kita tentu bisa berjalan dengan aman dan nyaman.

Sumber : http://scubadiver.co.id/current-news/tips-and-trick/menyelam-minum-alkohol

Advertisements

Belajar dari lari

Seperti layaknya berlari, kehidupan adalah rangkaian perjalanan. rencanakan ia sebaik mungkin, lalu nikmati perjalanan dan berbagai kejutan di dalamnya.

Beberapa tahun belakangan ini saya mulai menyukai olahraga lari, karena menurut saya lari itu olahraga semua kalangan, baik  kaya ataupun miskin, baik sempurna ataupun “difabel”, baik jomblo ataupun “taken”, baik laki-laki ataupun perempuan. Lari itu ada seni-nya, nggak asal. Mungkin bagi sebagian orang lari hanyalah sebuah lari, tidak ada yang spesial. Tapi tidak untuk saya pribadi. Di tahun ini saya mulai menuntaskan salah bucket list saya, yaitu mengikuti lari 10k/half marathon/marathon dengan 2 kondisi waktu yang berbeda pagi dan malam hari. Akhirnya kemarin bucket list saya yang satu ini pun resmi selesai. Ya, selesai. Setelah sebelumnya saya pernah merasakan lari 10km pagi hari, kemarin sayapun baru menuntaskan lari 10km malam hari. Ya, tepat tengah malam.

IMG20170226070612

10k pertama saya.

Ternyata beda banget loh lari pagi dan malam hari itu. Jika 10km sebelumnya saya lari di pagi hari kali ini terasa sangat berbeda, selain waktunya yang tepat tengah malam, lari kali ini juga dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda dan ditambah lagi saya berlari bersama “difabel”, lebih tepatnya tuna netra (tidak bisa melihat). Berawal dari sebuah film yang dulu sempat saya tonton berjudul “my blind brother”. Singkatnya film ini berkisah tentang 2 bersaudara yang satunya “normal/awas” dan satunya “difabel” tuna netra, nah si saudara tuna netranya itu suka men-challange dirinya sendiri dan dalam film itu dia men-challange dirinya untuk mengikuti lomba lari marathon padahal dia tidak bisa melihat, alhasil saudaranya yang “awas” ikut terlibat lari marathon tersebut, padahal dia tidak suka dan berniat ikut begituan.

MV5BMTAzNjQ4OTEzNzdeQTJeQWpwZ15BbWU4MDAyMjE0ODkx._V1_UX477_CR0,0,477,268_AL_

Salah satu scene film my blind brother.

Berawal dari film tersebut saya penasaran, tertarik dan ingin merasakan “gimana sih ya rasanya kalo ikut lomba lari jarak jauh bareng difabel tuna netra, kaya di film itu”. hingga akhirnya, setiap ada event lomba lari, tidak lupa saya selalu menawarkan kepada teman-teman tuna netra yang saya kenal untuk mencoba ikut event lari. Hingga akhirnya kesempatan itupun datang, tepat kemarin ketika hari sumpah pemuda. Awalnya salah seorang teman difabel saya sempat ragu dan khawatir tapi saya selalu meyakinkan bahwa saya selalu siap sedia lari bersama mereka sepanjang event tersebut. Karena skill marketing dan hasutan saya sudah level “pro”, alhasil, salah seorang teman tuna netra sayapun terjebak mengikuti event lari ini. Ya, menurut saya lebih tepatnya terjebak daripada mengikuti dengan kesadaran penuh ketika itu. ha…ha…ha…

IMG-20171029-WA0004

Suasana lomba sesaat sebelum di mulai.

1 bulan lamanya waktu yang kami rencanakan untuk mempersiapkan event lari ini, tapi ternyata rencana hanya sebatas rencana saja, persiapan itupun tidak berjalan lancar, kami tidak pernah persiapan latihan bersama selama satu bulan itu. That’s worst. Ketika hari H, jujur sayapun sedikit ragu dan tidak pede. Ternyata sinyal itupun ditangkap oleh teman saya ini,

Dia bilang “mas nat, nggak yakin ya lari kali ini?”

saya, “hah? Kok kamu bisa ngomong gitu? Kenapa?”.

Dia, “iya, dari nada suaranya mas nata, kayanya  tidak yakin dan pede”.

Saya, “nggak kok, yakin pasti finish dan selamat”.

Saya, “shit, kok dia tau aja ya… (expresi suram)” (dalam hati”)

Bodohnya saya, saya lupa jika tuna netra itu peka sekali dengan perubahan nada/ intonasi lawan bicara dan darisanalah mereka menduga expresi lawan bicaranya apakah dia bohong, senang, sedih, galau, dll. Ketika itu saya belajar bahwa harus lebih hati-hati dalam berucap dengan lawan bicara, siapapun itu. Karena itu bisa menunjukkan kondisi kita ke lawan bicara kita. ketika saya di todong pertanyaan seperti itu, sayapun menyangkal praduga yang sebetul benar, dengan omongan-omongan dan pembelaan prositif karena jika mental saya saja sudah kalah sebelum berperang bagaimana nanti dengan teman saya ini selama lomba? Alhasil selama perjalanan menuju lokasi start sayapun selalu berbicara positif bahwa kita pasti bisa sampai garis finish dengan selamat dan menyelesaikan tantangan ini bersama-sama.

IMG-20171029-WA0006

Foto selfie sesaat sebelum lomba di mulai.

Lomba pun dimulai. Di 2 kilometer awal, lari kami masih stabil dan masih masuk rombongan terdepan hingga lewat kilometer ke dua pun masalah pertama muncul, ternyata penyakit tuna netra pada umumnya (stamina fisik lemah) muncul, setiap 100m kita harus berjalan 300m, jujur that’s annoying me. Tapi, mau bagaimana lagi, sayapun mengalah mengikuti irama dia sambil terus memotivasi bahwa dia pasti bisa sampai garis finish, “slow but sure” kata saya ketika itu untuk menyemangati dia. Hingga akhirnya, kami berhasil sampai pada pertengahan lomba. Saya lihat dia pun sudah lari seperti zombi dan sudah sampai pada limitnya tapi masih terus bersemangat walaupun sudah seperti zombie larinya. Hingga pada kilometer 7,

dia bilang, “udah mas aku nggak kuat, mas nata duluan saja, aku tinggal aja gapapa”.

Saya, “….” (diam, pura-pura tuli)

Saya, “what the hell, are you kidding me? Ngomong coro a awakmu? Masa aku ninggalin kamu ditengah jalan sendiri, tengah malam pula (dalam hati)

Sayapun terus berjalan disampingnya sambil memotivasi dia bahwa dia pasti bisa, ini hanya 10 km, di depan ada water station, ayo sedikit lagi, dan segudang kalimat motivasi bullshit lainnya. Hingga km 8, ketika itu waktu perlombaan sudah lewat 1 jam dan jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari yang berarti waktu lari tinggal 1 1/2 jam lagi sampai batas akhir lomba, di km 8,5 dia berbicara dan meminta maaf bahwa karena dia saya jadi tertinggal dibarisan belakang. Ketika itu jujur tujuan saya berubah 100% bukan lagi tentang menuntaskan rasa penasaran saya lagi dan bukan tentang saya, perlombaan, dan finish, tapi lebih dari itu. Ini untuk kita, apapun yang terjadi kita harus menyelesaikan lomba ini apapun yang terjadi finish / tidak yang penting menyelesaikan apa yang sudah kita mulai bersama-sama. Dan benar saja, pelan tapi pasti kami terus melaju hingga akhirnya tepat 1 jam 30 menit kami pun berhasil sampai garis finish bersama. Ya, bersama. Puas banget rasanya ketika itu.

IMG20171029013718

2nd medal.

Saya pribadi belajar banyak hal dari event lari 10 km kali ini dan teringat sebuah perkataan seorang teman dahulu yang berkata “apabila kamu ingin berjalan cepat berjalanlah sendiri, tapi jika ingin menempuh perjalanan dengan jarak yang jauh berjalanlah bersama-sama”. That’s so true. Berawal dari efek menonton film hingga ide gila itupun muncul, sampai akhirnya mencoba merealisasikannya saya belajar banyak hal tentang hidup dan bagaimana harus menyikapi secara bijak kehidupan ini. Satu bucket list saya resmi dicoret, thank’s god dan untuk teman saya yang satu ini, saya ucapkan terimakasih untuk pelajaran berharga tentang hidup ini yang sudah kamu ajarkan baik sadar maupun tidak. Terimakasih. Sumpah pemuda kali ini terasa istimewa, tidak seperti sumpah pemuda biasanya untuk saya. Berkesan sekali, kamu luar biasa my friend!.

img20171029170643.jpg

BIB dari dua lari yang berbeda.

-End, 21.53-

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu? #PartKAKAKPERTAMA

Namanya Nur Diana Eka Oktavia, kakak pertama saya. Saya biasa memanggil beliau dengan sebutan “kak dian / big bos / kompeni”. Kakak yang paling otoriter dan dictator menurut saya, egois tapi tidak dipungkiri kangenin. Kakak yang sudah melanjutkan kejenjang kehidupan selanjutnya (berkeluarga). Sudah menjadi seorang ibu dari satu anak yang bernama umar hafiz amrullah. Kakak ini juga yang membuat saya menjadi semakin berasa tua karena sudah menjadi “om” secara tidak langsung. Kakak yang paling bodoh tapi paling ulet dan rajin diantara saudara yang lainnya. Kenapa saya bisa bilang paling bodoh?? Karena coba bayangin saja sewaktu SD dia hampir tidak naik kelas karena saking bodohnya. Mungkin karena trauma masa SD tersebut menjadikannya salah satu siswa terbaik menginjak SMP, SMA, dan bahkan kuliah. Orang yang paling rajin diantara saudara lainnya, soal ulet dan rajinnya jangan ditanya, tidak ada yang bisa menandinginya, kemungkinan turunan dari almarhum bunda. Orang pertama yang mengenalkan saya pada jalan tarbiyah, sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang. seorang penganut garis geras tarbiyah di antara keluarga yang lainnya. Sosok kakak idaman, baik, bodoh, jahat, tapi bisa diandelin kalo kepepet. Ha…ha…ha… lahir pada tanggal 10 oktober 1989 menjadikannya penganut bintang libra. Pecinta warna hijau, ketika ditanya kenapa? Katanya sedap dipandang, lambing dari kehidupan. Terlahir menjadi anak pertama membuatnya jadi penguasa dan tertua diantara saudara kandung lainnya, hal ini pula yang membuat dia bisa semena-mena dengan adik-adiknya yang imut-imut. Hal yang saya kangenin dari sosok kakak adalah kebodohannya dan ke inosenannya. Mungkin dia hanya diberkahi oleh ¼ kemampuan otak dari ayah dan ibu sehingga jatuhnya sedikit bodoh dan lama loading. Ha…ha…ha…

IMG_8928

Saya bersama kakak setelah kakak nikah #sengajablur

Seorang kader aktivis dakwah dan berorientasi tarbiyah garis keras membuatnya beberapa kali berdebat keras dengan ayah tentang pandangan islam, but everything is ok !. oh iya bagi yang nggak tau dalam keluarga saya itu berdebat dan berdiskusi adalah hal  yang wajar dan biasa. Berdebatnya sendiri tidak harus hal yang penting. Terkadang dan mungkin lebih banyak hal yang nggak penting contohnya kentut, makan, tv,dll. Sejak kecil kita sudah dilatih dan dibiasakan berdiskusi dan menyampaikan isi pikiran kita kepada anggota keluarga yang lain baik itu lebih muda ataupun lebih tua, tapi tetap bertanggung jawab dan sopan ya. Jadi jangan kaget, kalo orang lain main ke rumah mungkin berfikiran kurang sopan karena anak berpendapat lain dengan  omongan orang tua, dan berujung perdebatan karena bisa dibilang keluarga saya itu tipikal keluarga demokratis. Hal ini terbukti dengan keyakinan golongan yang berbeda-beda antar anggota keluarga. Dimana ayah lebih cenderung ke NU, almarhum ibu ke Muhammadiyah, kakak pertama ke tarbiyah, kakak kedua ke salaf, dan hasilnya saya sendiri nggak jelas. Ha…ha…ha…

IMG_6960

Saya bersama big bos.

Dari beliau saya betul-betul belajar efek mengucapkan “ah” dan “menyakiti hati orang tua” akan memancing kemurkaan Allah. Seorang kakak yang cengeng, panikan, tapi berjiwa empati paling tinggi diantara saudara lainnya. Kakak yang paling jago masak diantara saudara lainnya. Kakak yang selalu menjadi momok buat saya pribadi, karena beliau terlalu lebih baik daripada saya, entah dari segi ilmu atau keteladanan. Kakak yang selalu mengingatkan kepada jalan kebaikan. Kakak yang selalu menentang ketika saya ingin menjadi gamer ketika SMA. Kakak juga yang mengajarkan saya untuk menulis di blog. Iya, beliau yang mengenalkan saya tentang blog, sebelum saya menulis di wordpresss, awalnya blog saya di multiply, karena multiply tutup akhirnya saya berpindah ke wordpress.

21072012002.jpg

Sedikit kebahagian yang haqiqi #bercanda.

Kakak yang lebih suka nyuruh ketimbang dilakuin sendiri, mungkin dia punya prinsip, kalo bisa orang lain yang melakukan kenapa harus saya, alhasil ketika dulu masih 1 rumah saya sering jadi bulan-bulanan di suruh oleh beliau (berasa pembantu). Kakak yang titah-nya absolute 100% (egois). Kakak juga yang mengajarkan kepada saya keloyalan dan bagaimana cara menikmati uang dan hidup kita. Setelah menikah, kakak yang secara tidak langsung mengajarkan saya bahwa bukan kekayaanlah yang membuat orang atau keluarga bahagia. tetapi dari berkumpul dan saling menyayangi, bisa membuat sebuah keluarga itu bahagia. Kakak yang membuat saya berani bermimpi tinggi. Kakak yang, jujur membuat saya sedikit mupeng jika kelak membangun keluarga minimal mirip dengan keluarga dia sekarang (dalam hal baiknya). Dari kakak yang satu ini juga aku belajar dan membuat mataku terbuka lebar-lebar bahwa berkeluarga bukan hanya tentang mencari materi agar kebutuhan terjaga, ternyata lebih dari itu. Kakak…oh kakak…, Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah dan kita bisa dipertemukan bersama-sama kelak di surga-Nya.

Kisah Tahu Telor #SocialExperiment1

Suatu hari ada seorang asing yang membutuhkan uang dan bermaksud ingin meminjam sejumlah uang kepada seseorang dan akan mengembalikannya sesuai dengan kesepakatan, ketika ditanya oleh orang yang meminjamkan, “jaminannya apa?” Orang asing tersebut hanya berucap, “cukuplah Allah sebagai jaminanku”. Singkat cerita orang tersebut mendapatkan pinjaman tersebut tanpa meninggalkan jaminan benda atau hal apapun kepada orang yang meminjam tersebut selain ucapannya itu. Atau seperti kisah abu dzar al-ghifari yang diminta menjadi jaminan untuk orang yang tidak dikenal sebelumnya hanya bermodal “cukuplah Allah sebagai jaminannya”. Dari kedua kisah tersebut hasilnya menakjubkan, keduanya amanah dengan berbagai caranya tersendiri atas izin Allah tentunya. Jujur saya merasa takjub. Saya ingin mengalaminya dan membuktikan secara langsung. Bermodal rasa penasaran, apakah benar dizaman yang modern seperti sekarang masih ada dan berlaku hal seperti itu? Karena, menurut saya kita hidup di sebuah masa yang berbeda dari masa dulu. sekarang kita hidup di era terbuka yang serba bebas. kita akan menghadapi beban yang lebih berat dan fitnah disana-sini. alhasil, fitnah pun banyak terjadi. jika kamu tidak berhati-hati, kamu akan terjerumus ke dalam fitnah. Bahkan mungkin kita hidup di masa orang tidak saling percaya, senang berbantah-bantahan, lebih mendahulukan akal daripada hati, dan mengecilkan perintah tuhannya.

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu saya membeli makan di penjual makanan tahu telor keliling, bedanya disini saya mencoba membeli dengan nominal uang yang besar, alhasil mas penjualnya pun tidak punya kembalian. Seketika dalam benak saya terbersit ingin membuktikan sebuah tulisan kisah klasik di dalam buku tentang cukuplah Allah sebagai saksi dan jaminan saat transaksi dan sosial eksperimen, dimana saya ingin menguji tingkat kejujuran dan amanah orang yang sebelumnya sama sekali tidak saya kenal serta apakah tingkat kejujuran orang berbanding lurus dengan tingkat intelektualitas seseorang? Dimana semakin berintelek seseorang seharnya semakin jujur orang tersebut, karena berpendidikan. Waktu itu pilihannya hanya ada 2, masnya mempercayakan saya membawa dagangannya tanpa membayar terlebih dahulu dan berharap besoknya ketika bertemu saya akan membayarnya atau saya yang mempercayakan kelebihan uang pembayaran saya untuk dikembalikan oleh mas penjual itu besoknya atau ketika lewat lagi.

IMG20171022192854

Tahu telor buatan masnya.

Melihat dari gelagat mas penjualnya, saya menyimpulkan beliau tidak ikhlas jika dagangannya dibawa tanpa dibayar, alhasil saya berinisiatif untuk membiarkan uang kembalian saya dibawa masnya dulu dan dikembalikan besok atau ketika ketemu kembali, batas waktunya tidak ada, toh saya tidak terburu-buru waktu itu. Tapi ternyata beliau bersikukuh akan kembali lagi ketempat saya ketika sudah selesai keliling berjualan dan mengembalikan uang kembalian hari itu juga. Sayapun hanya mengiyakan dan memberikan alamat rumah saya kepada beliau, tanpa memberi tahu nama saya berharap ketika selesai berkeliling beliau akan menepati janji dan bisa menemukan rumah dimana saya tinggal. Setelah beliau menyanggupi, detik itu juga sosial eksperimen saya dimulai.

Setelah saya sampai di kontrakan, sayapun ceritakan kejadian tersebut kepada anak-anak kontrakan dikarenakan ketika itu saya ada keperluan keluar dan kemungkinan belum tau pulang kapan. Sayapun menitipkan kepada anak-anak jika nanti ada penjual tahu telor didepan kontrakan datang mau mengembalikan uang kembalian saya, tolong diambil dulu. Ketika urusan diluar saya selesai, saya pulang ke kontrakan dan menanyakan anak kontrakan apakah ada tukang tahu telor yang mengembalikan uang saya? jujur saya sedikit shock ketika mendapatkan respon yang cenderung negatif dari anak-anak kontrakan. Seperti, “ji kamu bodoh banget dah, itu uang kembalian lumayan loh kalo nggak dibalikin terus gimana?” atau “gimana penjual tahu telornya? (menggunakan nada nyinyir). Saya pun hanya menjawab singkat “ya, kalo nggak balik lagi mungkin si bapaknya lebih membutuhkan uang kembalian itu, santai aja…”.

Haripun berganti dan tidak ada tanda-tanda mas penjual ini mampir ke rumah lagi dan anak-anak kontrakan saya semakin menjadi seakan-akan membegokan saya yang begitu naif, tapi saya pun tetap santai, toh ini bukan kali pertama saya melakukan sosial eksperimen. Sebelumnya saya sudah cukup sering melakukan sosial eksperimen yang mungkin tidak disadari oleh orang sekitar atau bahkan orang yang telibat langsung.

Besoknya ketika waktu menunjukkan jam yang sama sayapun iseng melewati rute saat saya membeli tahu telor kemarin, berharap melihat dan bertemu dengan mas penjual tahu telor tersebut. Mungkin takdi, saat itu sejujurnya saya melihat mas penjual tahu telor itu di depan saya, tapi saya hanya membiarkan pergi tanpa menegurnya, berharap beliau yang menghampiri saya karena mempunyai hutang kepada saya.

Ketika pulang dan sampai di kamar kontrakan, teman kamar saya pun bilang, “itu sepertinya penjual tahu telor yang kemarin barusan lewat deh”. Saya pun hanya menjawab “ohya?, dia ngetok pintu kesini nggak?” teman saya bilang “nggak mas”. Saya, ”oh yaudah, mungkin bukan dia”.

Tidak lama setelah obrolan itu terdengar penjual tahu telor  lewat didepan kontrakan dan tenyata beliau putar balik lagi ke depan kontrakan saya. Sayapun mencoba keluar rumah dan melihat keluar, tenyata benar beliau. Beliaupun berhenti dan kamipun saling bertatapan yang seakan mengisyaratkan adanya keterikatan diantara kami.

Sayapun keluar dan menghampiri beliau, beliaupun bertanya, “mas yang kurang kembalian kemarin ya?” saya, “iya mas”. Dia “ini mas kembaliannya, kemarin saya cariin mas tapi nggak keluar-keluar rumah”. Saya, “loh iya ta mas? Maaf ya mas kemarin saya keluar sampai pagi”. Diapun menyodorkan kembalian sesuai dengan jumlah yang seharusnya. Untuk mengapresiasi kejujuran dan amanahnya beliau sayapun membeli jualan beliau lagi. Padahal jika dilihat dari rasa dan kualitas, sebetulnya biasanya saja, bahkan mungkin tidak ada istimewanya, tapi mungkin karena kejujuran beliau jadi terasa lebih istimewa.

Sayapun menceritakan kejadian itu kepada anak-anak kontrakan saya yang nyinyir kemarin dan mereka hanya bisa terdiam tidak percaya dengan kenaifan saya yang ternyata membuahkan hasil baik. Disana saya mendapatkan sedikit hikmah kehidupan dan merasa puas, sosial eksperimen dan pembuktian kisah dalam tulisan di buku tentang cukuplah Allah terbukti benar, tenyata selama ini terkadang saya masih suka keliru, selama ini saya berperinsip ketika seseorang pinjam sesuatu pada saya harus pakai jaminan benda atau bahkan surat-surat, padahal tenyata cukup Allah lah yang menjadi saksi dan jaminan bagi orang beriman. Terus ternyata di zaman yang semoderen sekarang masih ada orang yang jujur dan amanah walaupun dari segi intelektual jauh dari kata berpendidikan, tingkat kejujuran dan amanah orang itu tidak bisa terukur dari tingkat intelektualias seseorang, karena terkadang dizaman modern seperti sekarang orang yang berintelek bahkan tidak lebih baik dalam hal kejujuran dan menjaga amanah, seperti para pejebat/petinggi dan wakil rakyat kita sekarang. Ironis!.

-End, 01.22-

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu? #PartIBU

Sosok yang bisa dibilang saya belum mengenal secara dalam betul. Karena waktu almarhumah meninggal saya bisa dibilang bocah ingusan(SMP). So, saya belum mengenal banget. Tapi saya akan mencoba menuliskan kesan yang pernah saya tangkap dan saya rasakan langsung.

DSC00035

Ibu.

ibu lahir di padang, bulan april. Sama dengan ayah (kalo tanggal dan bulannya benar). Ibu dibesarkan di keluarga pedagang waktu jaman penjajahan. Ibu orang yang sederhana dan bisa dibilang wanita tangguh. 10-11 dengan ayah, ibu punya saudara kandung jumlahnya 10 dan ibu merupakan salah satu anak tertua. Kadang saya suka binggung kenapa orang yang hidup jaman penjajahan itu anaknya banyak banget, beda seperti zaman sekarang 2 anak cukup. Ha…ha…ha…

Ibu keturunan darah murni padang jadi kamu bisa bayangin gimana karakteristiknya. Sebagaimana karakteristik umum orang padang, ibu itu pinter secara intelektual maupun masakan serta pelayanan kepada suami. Menurut saya sejauh ini sosok ideal  buat calon istri. Ha…ha…ha… tapi sayang kebanyakan orang Sumatra itu wataknya keras dan perasa, tak terkecuali ibu. Alhasil sifat perasanya itu turun ke anak-anaknya. Ibu dulu selalu cerita jika keluarga ibu punya rumah gadang di kampung (padang)  yang sekarang dijadikan sebagai cagar budaya di padang. Ibu pula yang menurunkan marga chaniago kepada saya. Kata beliau marga bangsawan.

Ibu ini sosok ibu penyabar, setia, pemalu, kuat dan sayang dengan keluarga. Dibesarkan di dalam keluarga tanpa sosok seorang ayah ataupun ibu sejak kecil tidak membuatnya kehilangan arah akan kehidupan. Dari sekian banyak kenangan yang ada antara saya dan ibu ada beberapa yang paling berkesan. Diantaranya adalah sosok pemalunya, masakannya, kelembutan dan kehangatan seorang ibu yang mungkin sudah lama sekali tidak pernah saya rasakan semenjak beliau meninggal. Dan diantara itu semua saya paling kangen sama bau badannya. Entah kenapa khas dan saya kangen banget sama itu.

DSC01028

Ibu pasca operasi terakhir, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kesabaran dan ketangguhan ibu sudah tidak diragukan lagi, mengidap penyakit kanker kronis selama belasan tahun tidak membuatnya menyerah hingga titik darah penghabisan. Beliau adalah sosok yang sangat pemalu, saking pemalunya seumur hidup saya tidak pernah mendengar dia bernyanyi dan bahkan saat mengaji/tadarus pun beliau sampai mengunci pintu kamarnya karena tidak ingin didengar oleh orang lain bahkan oleh anaknya sendiri. Ibu itu sosok yang tangguh, walaupun beliau sakit-sakitan tetapi tetap mampu bekerja, mengurus rumah dan anak. Katanya untuk menjaga izzah-nya, walaupun beliau perempuan. Jika menurut saya mungkin karena beliau adalah sosok panutan bagi adik-adiknya waktu itu, jadi harus menjadi sosok yang tangguh dan contoh untuk adik-adiknya.

DSC00155

Makam almarhum ibu.

Kata orang meninggal itu tidak melihat umur, awalnya saya tidak percaya tapi ternyata Ibu meninggal disaat usianya masih terbilang muda dan produktif sekali, sekitar umur 40’an. Sebetulnya ada banyak penyesalan dalam diri saya karena belum sempat membahagiakannya. But waktu tidak bisa diputar dan hidup selalu berjalan semestinya, yang bisa saya lakukan adalah berbuat yang terbaik untuk sekarang dan kedepannya buat orang tua.

DSC00030

Ibu dan ayah.

Namanya Herry Fitri (Alm), sosok ibu dan istri idaman buat saya. Role model pertama dalam mendidik anak saya kelak. Entah kenapa saya berharap calon istri saya adalah orang berdarah Sumatra, khususnya Padang. Ha…ha..ha…