Surat untuk saya di masa depan.

IMG_20150421_092436[1]

pergantian usia saat 20 ke 21 di puncak gunung rinjani.

Tulisan ini saya buat untuk saya di masa yang akan datang, dimana saat usia 23 tahun ada banyak hal dipikiranku yang tidak bisa kuceritakan pada siapapun. Tapi jika kuceritakan dalam tulisan untuk diriku dimasa depan, aku percaya bahwa aku bisa melangkah maju kedepan dan mengungkapkan semuanya. Aku merasa putus asa, aku merasa ingin menangis dan aku merasa ingin menghilang.

Untuk diriku dimasa depan, hidup memang tidak selalu berjalan mulus bak kereta yang sedang melaju, terkadang hidup menemui kerikil kecil yang menghadang. Dan hidup tak melulu selalu berjalan datar terkadang menanjak hingga lutut ini seakan tidak mampu lagi untuk menopang beban yang sudah lama terpikul. Berbagai cobaan telah kita lalui bersama tertawa, sedih, bahagia, senang dan segala rasa yang telah aku rasakan dalam mengarungi hidup ini telah membawa hidup kita ke level yang membentukmu seperti sekarang. Diriku kau telah menjadi saksi atas segala yang telah aku lewati, maka izinkan aku untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang telah terjadi selama ini dan juga telah menemaniku hingga aku berada di fase yang dapat disebut sebagai dewasa.

Untuk diriku dimasa depan, aku yang dulu bukanlah seseorang yang sempurna, terkadang akupun merasa terpuruk dan menjadi manusia yang paling tidak berguna, namun berkat sokongan dari diriku sendiri dan tentu Tuhan sebagai sokongan terbesarku mampu membuatku untuk kembali bangkit dan menyongsong hari esok yang lebih baik lagi.

Kenangan buruk yang kita lewati bersama, biarlah berlalu bak kereta yang berlalu dengan cepat, yang hanya kita perlu lakukan adalah belajar dari apa yang telah kita perbuat. Hei diriku jangan ingat-ingat lagi yang telah lalu, kau sering mengajaku untuk melupakan sakitnya ambil pelajarannya, sekarang aku tahu apa yang benar-benar disebut sebagai belajar dari pengalaman. Untuk diriku dimasa depan kita pernah mendiskusikan hal serupa, kita sepakat untuk selalu berpikiran positif dan mengucap syukur atas apa yang terjadi hari demi hari bukan?

Dulu aku pernah bermimpi ingin menjadi seorang jurnalis. Entah kelak terwujud atau tidak, tapi yang pasti aku tau dan kita semua tau bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana. Kadang, hanya kadang, bisa jadi lebih baik. Aku rasa ada alasan kenapa aku bisa menjadi seperti sekarang ini, karena memang aku seharusnya berada disini, dalam hidupku dengan seorang perempuan yang sekarang menjadi bagian dari hidupku.

Untuk diriku dimasa depan, hatiku ini, hatiku yang cuman satu-satunya telah hancur berkali-kali. Kepada diriku yang berumur 23 tahun terimakasih, aku punya banyak hal untuk disampaikan. Sedangkan untuk diriku dimasa depan, jika kau terus mencari kau akan menemukan jawabannya tentang tempat dan tujuan yang harus diraih. Semua hal dalam hidup mempunyai tujuannya masing-masing, jadi kau harus berjuang dan meraih mimpimu. Janganlah menyerah dan janganlah menangis ketika kau merasa ingin menghilang, percayalah selalu dengan suara hatimu yang bisa menuntunmu.

Untuk diriku dimasa depan, entah bagaimana kita menjalani hidup, kita tidak dapat menghindarinya. Jadi hanya tersenyumlah dan hidup dengan sepenuh hati. Tulisan ini saya buat untuk saya di masa yang akan datang, dimana ketika saya sudah tersenyum mengingat kembali proses belajar yang sudah saya tempuh. Betapa kehidupan merupakan proses menjadi kupu-kupu.

1458122826139[1]

Perpisahan bersama teman-teman angkatan Ilmu Kelautan 2012.

Tulisan ini saya buat untuk saya di masa depan, dimana saya melihat perjuangan, tantangan, kemalasan dan sekaligus juga semangat menggebu dalam mempelajari hal baru.

Tulisan ini saya buat untuk saya di masa depan, bahwasanya sesuatu akan berlalu dan tidak ada yang tidak mungkin hingga semuanya sudah selesai dilaksanakan.

Tulisan ini saya buat untuk saya di masa depan, dimana yang akan lebih menguatkan saya terhadap tantangan apapun, karena malu jika mulai mengeluh, malu dengan perjuangan yang sungguh luar biasa hingga tahap ini.

Tulisan ini saya buat untuk saya di masa depan, ketika ada orang bertanya bagaimana perjalanan menggapai mimpi saya. Aku tahu mimpi itu tak terbatas. Namun aku hanya memilih segelintir dari sekian, fokus mengerjakan yang ada didepan mata dan berharap sampai  pada tujuan.

Tulisan ini saya buat untuk saya di masa depan, apa jadinya manusia tanpa keinginan? Jika berkeinginan saja tak mampu, apakah mereka mampu berbuat sesuatu? Ini yang selalu kukatakan kepada diri sendiri; berkeinginanlah! Berbuatlah! Berdoalah! Bersabarlah! Percayalah!

Tulisan ini saya buat untuk saya di masa depan, daratan eropa menunggumu  untuk kamu jajaki. Tulisan ini saya buat untuk saya di masa depan!

Izinkan di sini aku hentikan tulisan. Saat titik terakhir pada kalimat disurat masa depan ini, aku berdoa semoga setitik fantasi di benakmu akan membawamu melangkah jauh, melihat dunia luas di luar Sana. Lalu dia juga akan mengantarkanmu pulang, menghadapkanmu pada realitas diri, mengajarkanmu untuk mengenali dirimu sendiri- yang begitu dekat dan lekat, tapi belum tentu kau kenali.

IMG_9061[1]

berkontemplasi di rumah pohon, Batu.

Kepada diriku dimasa depan yang membaca surat ini, aku harap kamu mendapatkan kebahagiaan melebihi saat aku berumur 23 tahun.

Selamat melangkah.

Advertisements

Coban tundo, coban terindah!

Di penghujung tahun 2017, saya dan anak kontrakan berencana main bareng, awalnya kami merencanakan untuk main ke sumber maron/sumber sirah (sejenis tempat pemandian umum yang sumber airnya dari mata air langsung) untuk mandi-mandi melepas penat sehabis minggu penuh ujian kuliah. Tepatnya hari selasa tanggal 26 desember 2017 saya dan anak kontrakan yang lainnya (berjumlah 4 orang) akhirnya berangkat menuju sumber maron tapi singkat cerita di tengah perjalanan kami memutuskan untuk berganti tujuan dikarenakan setelah melihat gambar di google ternyata tempatnya biasa-biasa saja. Binggung memutuskan tujuan kemana akhirnya salah seorang dari kami ada yang memberikan usul “coban tundo aja yuh”. Tanpa pikir panjang kamipun search di google dan GPS ke lokasi, dan ternyata tidak terlalu jauh hanya sekitar 2 jam perjalanan. Alhasil jadilah kami merubah destinasi ke coban tundo, coban yang saya sendiri asing dan baru mendengarnya pertama kali ketika itu. bermodal koneksi internet, niat, GPS, dan motor kamipun meluncur ke coban yang satu ini. Letak coban tundo ini di antara perbukitan kopi dan salak, tepatnya di daerah perbatasan antara kabupaten malang (dampit) dan lumajang. Nama tundo diambil karena coban ini terdiri dari 3 tingkatan coban yang kalo menurut bahasa warga lokal tundo itu artinya bertingkat-tingkat.

This photo is taken with Brica B-PRO5 Alpha Edition mk.¢ò

foto bersama kami di coban ke-2 dari rangkaian coban tundo.

Perjalanan bermodal GPS menempuh waktu 3 jam (+nyasar diputer-puter karena ngikutin GPS), padahal jika sudah tau lokasinya, untuk ke coban tundo ini hanya memerlukan waktu 2 jam. Disitu saya belajar bahwa jangan percaya 100% dengan GPS!. Pepatah malu bertanya sesat dijalan masih berlaku ternyata. Setelah lelah nyasar sampai ke jalan tanah ditengah hutan, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada akamsi (anak kampung sini/warga lokal). Kali ini saya belajar lagi ternyata walaupun tanya dengan warga lokal tetap jangan percaya 100% dengan hanya 1 sumber informasi dari warga lokal, bisa jadi mereka juga buta arah alias nggak tau dan asal ngasih arahan. Buktinya kemarin waktu nanya sama warga lokal pertama, bukannya ketemu jalannya kamipun makin masuk kedalam jalan hutan dan pedesaan (nyasar). Hingga akhirnya kamipun tanya kembali ke seorang warga yang sedang panen salak (ketika itu memang sedang musim salak) arah menuju ke coban tundo.

IMG20171226110628

Letak coban ke 3 dari 3 rangkaian coban tundo ±30 menit turun ke bawah.

Niatnya bertanya eh malah dikasih salak 1 plastik besar (sekitar 5 kg) sama yang sedang panen, disana saya belajar bahwa ketika dalam perjalanan jangan sungkan berbaur dengan warga lokal, sebisa mungkin hilangkan stigma negatif yang ada dibenak kita. Warga lokal itu baik dengan kearifannya masing-masing. Ketika kami puas memakan salak kamipun tanya arah ke coban tundo, awalnya mereka tidak yakin bahwa kami akan ke coban tundo. Tak disangka ternyata salah seorang warga lokal malah menawarkan dirinya untuk menemani kami ke coban tundo, karena beberapa hal. Pesan dari setiap warga lokal yang kami tanyai jalan ke coban tundo ketika itu, “hati-hati ya main disana, disana angker, banyak ular, licin, dan sejuta stigma negatif lainnya”. Berhubung kami tidak tau cerita dibalik coban itu, akhirnya untuk mempersingkat waktu kami hanya berkata “ iya, makasih bu infonya”.

IMG20171226132311

Salak hasil pemberian dari warga lokal.

Singkat cerita kamipun melanjutkan perjalanan dengan dipandu oleh warga lokal ke coban yang satu ini, awalnya saya pikir jalannya pasti tidak terlalu buruk. Tapi ternyata, semua diluar dugaan dan nalar akal sehat saya, kami melewati jalan hutan yang hanya bisa dilewati satu motor dan kanan-kiri langsung berbatasan dengan jurang dan ternyata itu masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan menggunakan motor untuk mencapai coban tundo ini. Ketika melewati jalan hutan ini (naik-turun) tiba-tiba rem speda motor saya blong, iya blong karena cakram kepanasan digunakan tanpa henti untuk mengerem sepanjang perjalanan diperbukitan. Sayapun sedikit panik, karena hampir saja nyawa melayang karena terjatuh ke jurang.

IMG20171226105103

Akses jalan menuju ke coban tundo.

Ketika itu saya berfikir, “gila mau ke coban aja jalannya susah banget gini, awas aja kalo ternyata cobannya nggak bagus!”. Singkat cerita setelah menunggu rem normal (tidak blong) sayapun melanjutkan perjalanan ke coban lagi, sepanjang perjalanan pemandangannya sungguh indah, mulai dari perkebunan kopi hingga view pantai perawan dan samudra yang membentang luas bisa kita jumpai sebelum akhirnya sampai di coban tundo. Dan 1 kata buat coban ini, indah!!. Coban terindah yang pernah saya datangi selama di jawa timur. Rasa lelah dan mental yang terkuras terbayar lunas sudah dan ditambah bonus, ternyata ketika itu orang yang ada dicoban itu hanya kami, jadi berasa coban pribadi. Hahahah.

IMG20171226104854

View pantai perawan dan perkebunan kopi saat perjalanan menuju coban tundo.

Yang paling berkesan dari coban ini selain pemandangan selama perjalanan menuju ke coban ini ya gradasi warna dari cobannya. Gradasi warnanya? Uh, bagus banget, mirip gradasi warna danau segara anakan di rinjani waktu dilihat dari plawangan. Perpaduan antara, hijau, biru, coklat, dan bening. Coban yang paling saya rekomendasikan diantara coban yang lain didaerah malang dan sekitarnya, walaupun aksesnya sulit sekali. Memang terkadang yang indah itu perlu perjuangan lebih, tapi semua perjuangan itu sebanding kok menurut saya.

IMG20171226111603

Coban ke-2 dari 3 rangkaian yang membentuk coban tundo.

Setelah puas bermain kamipun memutuskan untuk menyudahi bermain di coban tundo. Hanya bermodalkan 50rb/org, kami bisa sampai ke coban ini dan puas bermain air disana, dimana 20rb untuk bensin PP, 10 rb untuk jasa guide, karena tidak mungkin kami bisa sampai disini jika tidak ada guide (tidak ada petunjuk jalan sama sekali), 10rb untuk jasa ojek waktu pulang (tanjakannya parah abis), 10rb untuk makan waktu pulang.

This photo is taken with Brica B-PRO5 Alpha Edition mk.¢ò

Saya dan teman-teman bermain air di coban tundo.

Coban tundo yang paling indah!!!

Menyelam = Minum Alkohol?

Menyelam adalah kegiatan yang “memabukkan”. Anda yang pernah merasakan pasti tahu kalau ungkapan ini bukan sekedar kiasan belaka. Saat berada di kedalaman tertentu, diver bisa mengalami “nitrogen narcosis” yang efeknya mirip seperti menenggak minuman beralkohol. Untuk lebih lengkapnya, mari kita lihat penjelasan berikut.

Picture5

ilustrasi berdasarkan kedalaman.

Apa itu “nitrogen narcosis”?

Udara yang kita hirup sehari-hari mengandung nitrogen sebanyak 78%, oksigen 21%, dan campuran gas-gas lain sekitar 1%. Meski proporsinya paling besar, selama di darat nitrogen tidak memberi pengaruh apa-apa untuk tubuh. Berbeda dengan di air. Saat kita berada di kedalaman laut, tekanan gas nitrogen dalam badan bisa meningkat dan memberi semacam efek bius pada otak. Inilah yang disebut nitrogen narcosis.

Seperti apa gejalanya?

Menurut teori Meyer-Overton, ahli farmakologi dari Jerman, dalam tekanan air laut, gas nitrogen di badan penyelam bisa mengembang hingga menembus lapisan lemak otak dan menganggu sistem saraf. Begitu saraf otak terganggu, seseorang bisa mengalami kecemasan tanpa alasan, kehilangan memori jangka pendek, disorientasi, hilang fokus, gangguan koordinasi tubuh, halusinasi, dan bahkan euphoria atau rasa senang yang tak terkendali. Kalau dilihat dari gejalanya, orang yang terkena narcosis mirip seperti orang mabuk alkohol. Karena itu, ada juga kalangan diver mancanegara yang menyebut nitrogen narcosis sebagai martini effect, minuman keras yang terkenal sebagai koktail favorit James Bond.

Di kedalaman berapa orang bisa terkena nitrogen narcosis?

Ada sebuah anekdot yang mengatakan bahwa setiap penyelaman 10 meter sama dengan minum 1 gelas Martini. Tapi hal itu tidak sepenuhnya benar. Umumnya martini effect terjadi mulai di kedalaman 30 meter, dimana tekanan air laut sudah mencapai 2 ATM. Sekalipun begitu, penyelam di perairan yang lebih dangkal juga bisa mengalami gangguan serupa. Pasalnya, selain dipengaruhi oleh kedalaman dan tekanan air laut, nitrogen narcosis juga dipicu oleh kondisi badan yang tidak fit, kelelahan fisik dan mental, atau pengaruh alkohol serta obat-obatan yang diminum penyelam sebelum turun ke laut.

Apa bahayanya?

Pada dasarnya, nitrogen narcosis tidak membahayakan jiwa penyelam secara langsung. Namun demikian, gangguan ini tetap perlu diwaspadai karena bisa memunculkan foolish behaviour atau perilaku-perilaku yang tidak aman. Seperti sudah disebut di atas, penyelam yang mengalami narcosis bisa mengalami disorientasi, gangguan motorik, sampai halusinasi. Dalam kondisi seperti itu, penyelam sangat mungkin melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri ataupun buddy-nya. Bisa diibaratkan, penyelam yang terkena narcosis seperti orang mabuk yang menyetir mobil. Risiko dari setiap tindakannya bisa meningkat hingga beberapa kali lipat.

Bagaimana cara mengatasi/mencegah nitrogen narcosis?

Saat penyelam merasa seperti mabuk, bingung dan kehilangan fokus, langkah pertama yang harus diambil adalah ascending dan safety stop. Dengan berenang ke perairan yang lebih dangkal, narcosis akan berkurang dengan sendirinya sampai hilang sama sekali. Tapi mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, dan cara terbaik mencegah narcosis adalah membatasi kedalaman penyelaman. Kalaupun ingin mengeksplor lautan dalam, pastikan Anda sudah mempelajari skill penyelaman tingkat lanjut seperti Nitrox Diving, Deep Diving, atau Technical Diving di bawah pengawasan instruktur berpengalaman. Selain itu, Anda juga bisa mencegah nitrogen narcosis dengan menjaga kesehatan tubuh. Mulai dengan makan makanan bernutrisi bagus, olahraga teratur, serta menghindari konsumsi alkohol berlebihan. Dengan fisik yang prima, setiap penyelaman kita tentu bisa berjalan dengan aman dan nyaman.

Sumber : http://scubadiver.co.id/current-news/tips-and-trick/menyelam-minum-alkohol

Belajar dari lari

Seperti layaknya berlari, kehidupan adalah rangkaian perjalanan. rencanakan ia sebaik mungkin, lalu nikmati perjalanan dan berbagai kejutan di dalamnya.

Beberapa tahun belakangan ini saya mulai menyukai olahraga lari, karena menurut saya lari itu olahraga semua kalangan, baik  kaya ataupun miskin, baik sempurna ataupun “difabel”, baik jomblo ataupun “taken”, baik laki-laki ataupun perempuan. Lari itu ada seni-nya, nggak asal. Mungkin bagi sebagian orang lari hanyalah sebuah lari, tidak ada yang spesial. Tapi tidak untuk saya pribadi. Di tahun ini saya mulai menuntaskan salah bucket list saya, yaitu mengikuti lari 10k/half marathon/marathon dengan 2 kondisi waktu yang berbeda pagi dan malam hari. Akhirnya kemarin bucket list saya yang satu ini pun resmi selesai. Ya, selesai. Setelah sebelumnya saya pernah merasakan lari 10km pagi hari, kemarin sayapun baru menuntaskan lari 10km malam hari. Ya, tepat tengah malam.

IMG20170226070612

10k pertama saya.

Ternyata beda banget loh lari pagi dan malam hari itu. Jika 10km sebelumnya saya lari di pagi hari kali ini terasa sangat berbeda, selain waktunya yang tepat tengah malam, lari kali ini juga dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda dan ditambah lagi saya berlari bersama “difabel”, lebih tepatnya tuna netra (tidak bisa melihat). Berawal dari sebuah film yang dulu sempat saya tonton berjudul “my blind brother”. Singkatnya film ini berkisah tentang 2 bersaudara yang satunya “normal/awas” dan satunya “difabel” tuna netra, nah si saudara tuna netranya itu suka men-challange dirinya sendiri dan dalam film itu dia men-challange dirinya untuk mengikuti lomba lari marathon padahal dia tidak bisa melihat, alhasil saudaranya yang “awas” ikut terlibat lari marathon tersebut, padahal dia tidak suka dan berniat ikut begituan.

MV5BMTAzNjQ4OTEzNzdeQTJeQWpwZ15BbWU4MDAyMjE0ODkx._V1_UX477_CR0,0,477,268_AL_

Salah satu scene film my blind brother.

Berawal dari film tersebut saya penasaran, tertarik dan ingin merasakan “gimana sih ya rasanya kalo ikut lomba lari jarak jauh bareng difabel tuna netra, kaya di film itu”. hingga akhirnya, setiap ada event lomba lari, tidak lupa saya selalu menawarkan kepada teman-teman tuna netra yang saya kenal untuk mencoba ikut event lari. Hingga akhirnya kesempatan itupun datang, tepat kemarin ketika hari sumpah pemuda. Awalnya salah seorang teman difabel saya sempat ragu dan khawatir tapi saya selalu meyakinkan bahwa saya selalu siap sedia lari bersama mereka sepanjang event tersebut. Karena skill marketing dan hasutan saya sudah level “pro”, alhasil, salah seorang teman tuna netra sayapun terjebak mengikuti event lari ini. Ya, menurut saya lebih tepatnya terjebak daripada mengikuti dengan kesadaran penuh ketika itu. ha…ha…ha…

IMG-20171029-WA0004

Suasana lomba sesaat sebelum di mulai.

1 bulan lamanya waktu yang kami rencanakan untuk mempersiapkan event lari ini, tapi ternyata rencana hanya sebatas rencana saja, persiapan itupun tidak berjalan lancar, kami tidak pernah persiapan latihan bersama selama satu bulan itu. That’s worst. Ketika hari H, jujur sayapun sedikit ragu dan tidak pede. Ternyata sinyal itupun ditangkap oleh teman saya ini,

Dia bilang “mas nat, nggak yakin ya lari kali ini?”

saya, “hah? Kok kamu bisa ngomong gitu? Kenapa?”.

Dia, “iya, dari nada suaranya mas nata, kayanya  tidak yakin dan pede”.

Saya, “nggak kok, yakin pasti finish dan selamat”.

Saya, “shit, kok dia tau aja ya… (expresi suram)” (dalam hati”)

Bodohnya saya, saya lupa jika tuna netra itu peka sekali dengan perubahan nada/ intonasi lawan bicara dan darisanalah mereka menduga expresi lawan bicaranya apakah dia bohong, senang, sedih, galau, dll. Ketika itu saya belajar bahwa harus lebih hati-hati dalam berucap dengan lawan bicara, siapapun itu. Karena itu bisa menunjukkan kondisi kita ke lawan bicara kita. ketika saya di todong pertanyaan seperti itu, sayapun menyangkal praduga yang sebetul benar, dengan omongan-omongan dan pembelaan prositif karena jika mental saya saja sudah kalah sebelum berperang bagaimana nanti dengan teman saya ini selama lomba? Alhasil selama perjalanan menuju lokasi start sayapun selalu berbicara positif bahwa kita pasti bisa sampai garis finish dengan selamat dan menyelesaikan tantangan ini bersama-sama.

IMG-20171029-WA0006

Foto selfie sesaat sebelum lomba di mulai.

Lomba pun dimulai. Di 2 kilometer awal, lari kami masih stabil dan masih masuk rombongan terdepan hingga lewat kilometer ke dua pun masalah pertama muncul, ternyata penyakit tuna netra pada umumnya (stamina fisik lemah) muncul, setiap 100m kita harus berjalan 300m, jujur that’s annoying me. Tapi, mau bagaimana lagi, sayapun mengalah mengikuti irama dia sambil terus memotivasi bahwa dia pasti bisa sampai garis finish, “slow but sure” kata saya ketika itu untuk menyemangati dia. Hingga akhirnya, kami berhasil sampai pada pertengahan lomba. Saya lihat dia pun sudah lari seperti zombi dan sudah sampai pada limitnya tapi masih terus bersemangat walaupun sudah seperti zombie larinya. Hingga pada kilometer 7,

dia bilang, “udah mas aku nggak kuat, mas nata duluan saja, aku tinggal aja gapapa”.

Saya, “….” (diam, pura-pura tuli)

Saya, “what the hell, are you kidding me? Ngomong coro a awakmu? Masa aku ninggalin kamu ditengah jalan sendiri, tengah malam pula (dalam hati)

Sayapun terus berjalan disampingnya sambil memotivasi dia bahwa dia pasti bisa, ini hanya 10 km, di depan ada water station, ayo sedikit lagi, dan segudang kalimat motivasi bullshit lainnya. Hingga km 8, ketika itu waktu perlombaan sudah lewat 1 jam dan jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari yang berarti waktu lari tinggal 1 1/2 jam lagi sampai batas akhir lomba, di km 8,5 dia berbicara dan meminta maaf bahwa karena dia saya jadi tertinggal dibarisan belakang. Ketika itu jujur tujuan saya berubah 100% bukan lagi tentang menuntaskan rasa penasaran saya lagi dan bukan tentang saya, perlombaan, dan finish, tapi lebih dari itu. Ini untuk kita, apapun yang terjadi kita harus menyelesaikan lomba ini apapun yang terjadi finish / tidak yang penting menyelesaikan apa yang sudah kita mulai bersama-sama. Dan benar saja, pelan tapi pasti kami terus melaju hingga akhirnya tepat 1 jam 30 menit kami pun berhasil sampai garis finish bersama. Ya, bersama. Puas banget rasanya ketika itu.

IMG20171029013718

2nd medal.

Saya pribadi belajar banyak hal dari event lari 10 km kali ini dan teringat sebuah perkataan seorang teman dahulu yang berkata “apabila kamu ingin berjalan cepat berjalanlah sendiri, tapi jika ingin menempuh perjalanan dengan jarak yang jauh berjalanlah bersama-sama”. That’s so true. Berawal dari efek menonton film hingga ide gila itupun muncul, sampai akhirnya mencoba merealisasikannya saya belajar banyak hal tentang hidup dan bagaimana harus menyikapi secara bijak kehidupan ini. Satu bucket list saya resmi dicoret, thank’s god dan untuk teman saya yang satu ini, saya ucapkan terimakasih untuk pelajaran berharga tentang hidup ini yang sudah kamu ajarkan baik sadar maupun tidak. Terimakasih. Sumpah pemuda kali ini terasa istimewa, tidak seperti sumpah pemuda biasanya untuk saya. Berkesan sekali, kamu luar biasa my friend!.

img20171029170643.jpg

BIB dari dua lari yang berbeda.

-End, 21.53-

Seberapa kenal kamu dengan keluargamu? #PartKAKAKPERTAMA

Namanya Nur Diana Eka Oktavia, kakak pertama saya. Saya biasa memanggil beliau dengan sebutan “kak dian / big bos / kompeni”. Kakak yang paling otoriter dan dictator menurut saya, egois tapi tidak dipungkiri kangenin. Kakak yang sudah melanjutkan kejenjang kehidupan selanjutnya (berkeluarga). Sudah menjadi seorang ibu dari satu anak yang bernama umar hafiz amrullah. Kakak ini juga yang membuat saya menjadi semakin berasa tua karena sudah menjadi “om” secara tidak langsung. Kakak yang paling bodoh tapi paling ulet dan rajin diantara saudara yang lainnya. Kenapa saya bisa bilang paling bodoh?? Karena coba bayangin saja sewaktu SD dia hampir tidak naik kelas karena saking bodohnya. Mungkin karena trauma masa SD tersebut menjadikannya salah satu siswa terbaik menginjak SMP, SMA, dan bahkan kuliah. Orang yang paling rajin diantara saudara lainnya, soal ulet dan rajinnya jangan ditanya, tidak ada yang bisa menandinginya, kemungkinan turunan dari almarhum bunda. Orang pertama yang mengenalkan saya pada jalan tarbiyah, sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang. seorang penganut garis geras tarbiyah di antara keluarga yang lainnya. Sosok kakak idaman, baik, bodoh, jahat, tapi bisa diandelin kalo kepepet. Ha…ha…ha… lahir pada tanggal 10 oktober 1989 menjadikannya penganut bintang libra. Pecinta warna hijau, ketika ditanya kenapa? Katanya sedap dipandang, lambing dari kehidupan. Terlahir menjadi anak pertama membuatnya jadi penguasa dan tertua diantara saudara kandung lainnya, hal ini pula yang membuat dia bisa semena-mena dengan adik-adiknya yang imut-imut. Hal yang saya kangenin dari sosok kakak adalah kebodohannya dan ke inosenannya. Mungkin dia hanya diberkahi oleh ¼ kemampuan otak dari ayah dan ibu sehingga jatuhnya sedikit bodoh dan lama loading. Ha…ha…ha…

IMG_8928

Saya bersama kakak setelah kakak nikah #sengajablur

Seorang kader aktivis dakwah dan berorientasi tarbiyah garis keras membuatnya beberapa kali berdebat keras dengan ayah tentang pandangan islam, but everything is ok !. oh iya bagi yang nggak tau dalam keluarga saya itu berdebat dan berdiskusi adalah hal  yang wajar dan biasa. Berdebatnya sendiri tidak harus hal yang penting. Terkadang dan mungkin lebih banyak hal yang nggak penting contohnya kentut, makan, tv,dll. Sejak kecil kita sudah dilatih dan dibiasakan berdiskusi dan menyampaikan isi pikiran kita kepada anggota keluarga yang lain baik itu lebih muda ataupun lebih tua, tapi tetap bertanggung jawab dan sopan ya. Jadi jangan kaget, kalo orang lain main ke rumah mungkin berfikiran kurang sopan karena anak berpendapat lain dengan  omongan orang tua, dan berujung perdebatan karena bisa dibilang keluarga saya itu tipikal keluarga demokratis. Hal ini terbukti dengan keyakinan golongan yang berbeda-beda antar anggota keluarga. Dimana ayah lebih cenderung ke NU, almarhum ibu ke Muhammadiyah, kakak pertama ke tarbiyah, kakak kedua ke salaf, dan hasilnya saya sendiri nggak jelas. Ha…ha…ha…

IMG_6960

Saya bersama big bos.

Dari beliau saya betul-betul belajar efek mengucapkan “ah” dan “menyakiti hati orang tua” akan memancing kemurkaan Allah. Seorang kakak yang cengeng, panikan, tapi berjiwa empati paling tinggi diantara saudara lainnya. Kakak yang paling jago masak diantara saudara lainnya. Kakak yang selalu menjadi momok buat saya pribadi, karena beliau terlalu lebih baik daripada saya, entah dari segi ilmu atau keteladanan. Kakak yang selalu mengingatkan kepada jalan kebaikan. Kakak yang selalu menentang ketika saya ingin menjadi gamer ketika SMA. Kakak juga yang mengajarkan saya untuk menulis di blog. Iya, beliau yang mengenalkan saya tentang blog, sebelum saya menulis di wordpresss, awalnya blog saya di multiply, karena multiply tutup akhirnya saya berpindah ke wordpress.

21072012002.jpg

Sedikit kebahagian yang haqiqi #bercanda.

Kakak yang lebih suka nyuruh ketimbang dilakuin sendiri, mungkin dia punya prinsip, kalo bisa orang lain yang melakukan kenapa harus saya, alhasil ketika dulu masih 1 rumah saya sering jadi bulan-bulanan di suruh oleh beliau (berasa pembantu). Kakak yang titah-nya absolute 100% (egois). Kakak juga yang mengajarkan kepada saya keloyalan dan bagaimana cara menikmati uang dan hidup kita. Setelah menikah, kakak yang secara tidak langsung mengajarkan saya bahwa bukan kekayaanlah yang membuat orang atau keluarga bahagia. tetapi dari berkumpul dan saling menyayangi, bisa membuat sebuah keluarga itu bahagia. Kakak yang membuat saya berani bermimpi tinggi. Kakak yang, jujur membuat saya sedikit mupeng jika kelak membangun keluarga minimal mirip dengan keluarga dia sekarang (dalam hal baiknya). Dari kakak yang satu ini juga aku belajar dan membuat mataku terbuka lebar-lebar bahwa berkeluarga bukan hanya tentang mencari materi agar kebutuhan terjaga, ternyata lebih dari itu. Kakak…oh kakak…, Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah dan kita bisa dipertemukan bersama-sama kelak di surga-Nya.