PEMODELAN DALAM METEOROLOGI KELAUTAN UNTUK DUNIA PERIKANAN DAN KELAUTAN

PENDAHULUAN

Sejarah pengamatan meteorologi di Indonesia dimulai pada tahun 1841 diawali dengan pengamatan yang dilakukan secara perorangan oleh Dr. Onnen, Kpl Rumah Sakit Bogor. Tahun demi tahun kegiatannya berkembang sesuai dengan semakin diperlukannya data hasil pengamatan cuaca dan geofisika. Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut oleh Pemerintah Hindia Belanda diresmikan menjadi instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi yg dikepalai Oleh Dr. Bergsma
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, instansi tersebut dibagi menjadi dua yaitu: Di Yogyakarta dibentuk Biro Meteorologi yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus untuk melayani kepentingan AL. Di Jakarta dibentuk sebuah Jawatan Meteorologi dan Geofisika, dibawah Kementerian Pekerjaan Umum & Tenaga(Heru, 2013).

Pada tahun 1972, Direktorat Meteorologi & Geofisika diganti namanya menjadi Pusat Meteorologi & Geofisika, suatu instansi setingkat eselon II di bawah Departemen Perhubungan, & pada tahun 1980 statusnya dinaikkan menjadi suatu instansi setingkat eselon I dengan nama Badan Meteorologi & Geofisika, dengan kedudukan tetap berada di bawah Departemen Perhubungan. Dari pemahaman iklim Indonesia dapat kita lihat Proses interaksi laut atmosfir yang spesifik terjadi di Indonesia Proses interaksi laut atmosfir dalam ilmu kebumian merupakan hal terpenting yang sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia terutama di daerah pesisir. Ilmu meteorology di Indonesia merupakan ilmu dasar yang kurang diminati sehingga perkembangannya dibandingkan ilmu kebumian lainnya seperti geofisika, geologi dan kelautan sangat jauh tertinggal. Pemahaman atas proses fisis kebumian atmosfir Indonesia masih terbilang jauh tertinggal dibandingkan bidang ilmu kebumian lainnya. Kurangnya minat mempelajari meteorology karena sering dihubungkan dengan salah satu pekerjaan meteorology, untuk meramal cuaca atau iklim. Padahal pengkajian ilmu meteorology cukup luas meliputi berbagai aspek. Di Negara maju yang terbilang tinggi dengan empat musim masalah kebumian lain selalu dihubungkan dengan perubahan fisis meteorologi yang terjadi. Hal ini karena pada dasarnya hamper semua aspek kehidupan manusia dipengaruhi oleh keempat musim tersebut dan variasinya. Variasi iklim utama di Indonesia adalah faktor musiman yang dikenal dengan istilah monsoon. Oleh karena itu penting untuk mempelajari meteorologi laut secara umum dan khusus.

ISI

Keberadaan variasi cuaca dan iklim membawa dampak yang terkadang cukup serius bagi kehidupan manusia, hal ini karena terlalu ekstrimnya fluktuasi tersebut. Meskipun demikian karakteristik cuaca regional juga ditentukan selain faktor orografis, juga letak lintangnya. Pentingnya interaksi laut atmosfir di Indonesia dapat dilihat paling tidak diwilayah yang paling berperan ekonomis yaitu disekitar garis pantai. Proses-proses kecil ini terjadi seantero nusantara dan berperan penting bagi sifat iklim regional. Perubahan akibat variasi ekstrim bersifat sesaat, sedangkan ada lagi faktir perubahan laten lainnya yang terjadi pada iklim global yang sedang dialami bumi. Akibat faktor natural dan antropogenik cuaca dan iklim berubah secara perlahan dari kestabilan normal tertentu menuju kestabilan yang baru. Artinya apabila dahulu kondisi yang sama berada pada bagian ekstrim, maka kejadian tersebut akan lebih sering terjadi sehingga merubah rata-rata statistic cuaca pada umumnya. Kondisi ini terjadi secara global meskipun tanda-tandanya sangat sukar dideteksi karena perubahan yang terjadi berlangsung dalam rentang waktu yang sagat lambat dan lama. Perubahan ini dikenal dengan isttilah perubahan iklim global(Asep, 2015).

Model iklim saat ini telah dapat dimasukkan dalam sebuah komputer pribadi dan dijalankan untuk menghitung secara kompregensif kondisi alam yang terjadi. Hasil dari model iklim seperti ini seringkali berhasil memberikan gambaran skala luas fenomena yang terjadi meski tidak pada skala yang terlalu detail. Hal ini karena model iklim menyediakan hasil komprehensif yang diluar imaginasi manusia sebelumnya dan tidak terbayangkan oleh teori linear dan observasi pada titik-titik tertentu dimuka bumi. Model iklim telah menjadikan ilmu meteorologi suatu ilmu dan fenomena favorit dari yang tidak terbayangkan sebelumnya(Mamad, 2014). 

a

Model dibuat untuk membuat prediksi secara kuantitatif (deterministik atau probabilistik) yangdapat digunakan baik untuk menguji dan menyempurnakan model sebelumnya, atau untuk digunakan secara praktis. Pemodelan untuk prediksi kuantitatif iklim dikelompokkan atas pendekatan deterministik dan stokastik atau kombinasi keduanya, yang disebut dengan pendekatan parametrik. Pada umumnya analisis dan pemodelan iklim untuk peramalan cuaca (iklim jangka pendek) dan berbagai pemodelan pertanian banyak didasarkan pada pendekatan deterministik, sedangkan model iklim untuk peramalan musim dan iklim (climate forcasting), seperti halnya anomali iklim akibat kejadian ENSO (El Niño/Southern Oscillation) atau hujan bulanan dan lain-lain, lebih sering menggunakan pendekatan stokastik atau model-model statistik. Namun dalam praktek, sebenarnya tidak ada analisis dan model iklim yang secara murni (mutlak) menggunakan salah satu dari kedua pendekatan tersebut, tetapi hanya berupa kecenderungan. Pendekatan deterministik atau analisis sistem dalam model dan analisis prediksi iklim didasarkan pada “proses fisis” dan/atau hubungan sebab akibat dari beberapa unsur atau komponen dalam sistem atmosfer, darat, dan lautan(Suhartono, 2009).

b

Untuk model stokastik, beberapa yang sudah dikembangkan di Indonesia di antaranya model Autoregressive Integrated Moving Average atau ARIMA, Fungsi Transfer, Adaptive Splines Threshold Autore-gression atau ASTAR. Beberapa model prediksi iklim yang sering digunakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah ARIMA, tranformasi wavelet, dan Adaptive Neuro-Fuzzy Inference Systems atau ANFIS.  Permasalahan yang sering muncul dalam hal ini adalah tidak terpenuhinya asumsi kestasioneran, dimana seringkali dijumpai kondisi yang berbeda-beda pada setiap lokasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa model-model tersebut spesifik atau hanya bisa diaplikasikan untuk lokasi tertentu saja. Model-model prediksi iklim yang berkembang saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan. Contoh-contoh pendekatan model spatio-temporalm antara lain model Space-Time AutoRegressive Moving Average (STARMA), yang merupakan pengembangan model deret waktu ARMA dari Box-Jenkins di beberapa lokasi, atau dinamakan model vektor deret waktu. Model Space-Time AutoRegressive (STAR) yang merupakan bagian dari model STARMA memiliki keterbatasan, yaitu model tersebut mengasumsikan bahwa parameter untuk semua lokasi yang tersampel bernilai sama, artinya lokasi-lokasi yang diamati bersifat serba sama atau homogendari (Pfeifer, 1980).

KESIMPULAN

Pemodelan dalam meteorologi laut untuk dunia perikanan dan kelautan di era moderen sekarang ini penting, hal ini karena sudah ada pergeseran iklim yang ekstrim dan konstan sekarang ini akibat dari iklim global. Perkembangan meteorologi laut sekarang sudah sangat pesat dibandingkan dulu.

REFERENSI

Triyanda, Heru. 2013. Meteorologi Laut. Http://Kuliahkelautan.Blogspot.Co.Id/2013/02/Meteorologi-Laut.Html.

Pfeifer, P.E dan Deutsch, S.J. 1980. Stationarity and Invertibility Regions for Low Order STARMA Models.  Communications in Statistics-Simulation and Computation 9 (5). P. 551-562.

Suhartono, Sutikno, Otok, B.W., dan Setiawan. 2009. Pengembangan model prakiraan iklim untuk pengendalian ketahanan pangan. Laporan Penelitian Strategis ITS, Surabaya

Irwan, Asep. 2015. Bahan Kuliah Meteorologi Laut (1). http://www.scribd.com/doc/46093009/Bahan-Kuliah-Meteorologi-Laut-1#scribd.

Tamamadin, Mamad. 2014. Perkembangan Model Iklim di Indonesia. https://mamadtama.wordpress.com/category/pemodelan-meteorologi/.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s