Kuncinya BERSYUKUR!

Malang, 22 Juli 2017.

Terkadang kenikmatan tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan, namun rasa syukurlah yang selalu menjadi kunci seberapa besar nikmat itu ada.

1

Selama 2 tahun terakhir ini saya baru saja menyadari sebuah nikmat, membantu orang-orang difabel. Banyak hikmah yang bisa saya ambil, terutama terkait rasa bersyukur yang mungkin lebih daripada orang lain yang belum pernah melihat dan kontak langsung dengan kaum difabel. Ada salah satu difabel yang saya ingat dia menderita CP (Cerebal palsy), semacam kelainan yang menyerang otak kecil di kepala dan menyebabkan terganggunya system motorik tubuh. Waktu itu saya melihat dan membantu dia secara langsung. Sebagai contoh salah satu nikmat yang paling saya ingat adalah nikmat bernafas, betapa tidak ketika saya membantu dia, saya menyaksikan sendiri betapa kesulitannya dia untuk sekedar bernafas.

Saya itu tipikal orang yang skeptisnya tinggi, karena itu untuk lebih meyakinkan diri, waktu itu saya juga iseng-iseng mencari tahu dan menghitung berapa sih nikmat Allah hanya untuk bernafas, dan ternyata diluar dugaan saya betapa Allah maha pemberi. Jadi, hasil kepo saya menyimpulkan bahwa untuk seorang manusia sehat dewasa dalam keadaan normal dalam satu menit kurang lebih 20x bernafas. 1x bernafas kurang lebih 2 liter udara ke dalam rongga-rongga pernapasan masuk. Ini berarti dalam 1 menit kurang lebih menghirup 40 liter udara. Kalau 1×24 jam kita mengkonsumsi 57.600 liter udara. Dengan kata lain, kita telah menggunakan gas oksigen murni (100%) sebanyak 20% dari 57.600 liter udara adalah 11.520 liter oksigen murni dalam sehari. Berapa besar nilai ekonominya?

Saat ini, harga satu tabung oksigen 40.000 untuk isi 6.600 liter yang kadar oksigennya antara 97-99%, berarti nilai tiap liternya adalah 40.000:6.000 = 6.600/liter. Ini berarti setiap manusia sehat diberikan secara telah menghabiskan oksigen sehari dengan nilai 11.520 x 6.600 = 760.000, kalau 1 bulan jadi 22.800.000. kalau ingin mendalaminya lagi seberapa nikmat Allah hanya dari oksigen gratis itu coba kita kalikan dengan berapa umur kita saat ini, misalnya 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, atau 50 tahun rata-rata yang sekarang hidup. Jika ditukar dengan nilai rupiah saat ini lebih dari 1 miliar. Begitu besarnya nikmat Allah kepada hambanya dan itupun tidak mampu kita hitung secara akurat.

Saya jadi teringat pada ayat Al-Qur’an, tepatnya surat ar-rahman ada satu ayat yang diulang-ulang sebanyak 31x sebagai peringatan kepada umat manusia yang sering tidak bersyukur. Marilah kita bersama-sama meluangkan waktu untuk merenung sejenak ditengah aktivitas-aktivitas kehidupan kita tentang betapa besar karunia Allah kepada diri kita, keluarga kita, kerabat kita, tetangga kita, rekan kerja kita, bangsa kita. sebagaimana yang telah saya ceritakan diatas dan kita rasakan itu hanya sisi-sisi kecil atas nikmat Allah. Diluar itu masih banyak nikmat-nikmat yang lainnya berupa nikmat kelapangan rezeki, nikmat berkeluarga, nikmat persahabatan, nikmat pekerjaan, nikmat kesehatan, nikmat keimanan, nikmat kebahagiaan, dan setumpuk nikmat lainnya, baik yang bersifat lahir maupun batin.

Bersyukur bukan berarti hanya mengingat nikmat yang telah diberikan kepada kita. kesyukuran ini tidaklah punya arti sama sekali jika hanya dalam bentuk lisan semata. Mensyukuri karunia Allah harus diimplementasikan dengan pengakuan hati kepada kebesaran dan keagungan Allah dalam sikap dan tindakan nyata. Realisasi rasa syukur tersebut bukanlah suatu perbuatan yang sia-sia, tapi akan mempertebal keimanan, keislaman, keihsanan, ketauhidan, dan ketakwaan kita kepada maha pencipta. Saya jadi teringat surat Al-An’am ayat 46 dan Ibrahim ayat 7.

Manusia itu jangankan saat kurang, saat berlebih saja tetap merasa kurang. Bukankah dalam surat Ibrahim sudah dijelaskan bahwa Allah sendiri yang akan menambahkan nikmat jika kita bersyukur? Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, dia menjadikan hamba itu mampu melihat dengan jelas kekurangan dirinya sendiri. Orang yang telah dikaruniai bashirah (penglihatan dengan mata hati) yang tajam, akan mampu melihat berbagai kekurangan dirinya sendiri. Jika telah mengetahui kekurangan itu, ia akan berusaha merubahnya. Tetapi, kebanyakan manusia enggan mengetahui segala kekurangan dirinya. Ibarat kata seseorang dapat melihat jelas kotoran kecil dimata saudaranya tetapi tidak melihat seekor hewan besar di matanya sendiri. Kata pepatah, gajah didepan mata tidak tampak sedangkan semut di seberang lautan tampak jelas terlihat.

-End, 13.13-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s