Bullying?.

Bullying?. Beberapa minggu ini pemberitaan dihebohkan dengan beredarnya video seorang mahasiswa difabel yang di “bully” dikampusnya. Satu hal yang menurut saya amat disayangkan bahwa sekelas universitas yang notabene sebuah institusi pendidikan terakhir dimana menyebut siswanya bukan lagi siswa melainkan “MAHAsiswa” tapi ternyata masih bertolak belakang dengan title yang disandangnya. Mungkin itulah Ironisnya bangsa ini!

Entahlah, rasanya otak dan hati ini merasakan kegelisahan. Mungkin karena 2 tahun lamanya saya berkecimpung di dunia difabel ini menjadikan saya mempunyai respond dan sudut pandang yang berbeda dibandingkan orang lain yang belum pernah bersentuhan langsung seperti saya. Saya jadi ingin menulis sebuah pengalaman waktu masih aktif secara langsung di dunia difabel.

Awalnya saya tidak terlalu kaget, karena sebetulnya itu bukan kali pertama saja sebuah bullying terjadi di kampus. Bahkan bullying pun sebetulnya juga terjadi di kampus yang notabene sudah mengembel-embeli diri dengan “kampus inklusi”. Menurut saya sebuah bullying tidak hanya sebatas fisik saja seperti yang sedang heboh belakangan ini, bullying pun bisa dalam bentuk kata-kata, peraturan ataupun yang lainnya. Jika kampus sebelah heboh oleh video bullying fisik, disinipun sebetulnya terjadi bullying, bedanya disana terekam video disini tidak ada yang merekam. Bullying disini lebih kepada peraturan dan bullying verbal (lebih sakit).

bullying aturan

Salah satu contoh peraturan di kampus.

Saya jadi teringat pada sebuah kasus yang dulu sempat membuat heboh beberapa volunteer dikarena menurut skala kami itu merupakan diskriminasi yang berlebihan. Singkat cerita dulu waktu saya masih aktif menjadi volunteer mabel (mahasiswa difabel), ada sebuah kasus dimana salah satu mabel merasakan di hina oleh seorang civitas academica di kampus saya sampai mabel ini pun menangis tersedu-sedu karena 1 kelas menertawakan dia (ceritanya di waktu perkuliahan). Nah setelah kejadian itu diapun cerita ke teman volunteer (hearing) terdekatnya dan kebetulan volunteer yang dekat dengan dia merupakan teman dekat saya juga sehingga dia menceritakan masalah itu kepada saya dan meminta tolong kepada saya untuk mendampingi dia di kelas yang sama di pertemuan selanjutnya sekaligus untuk klarifikasi apakah betul atau tidak apa yang diceritakan dan dirasakan oleh mabel ini. Nah, disini masalah pertama muncul karena ternyata yang menghina secara verbal disini adalah seorang professor. Iya, setingkat professor saja masih bisa melakukan bullying loh yang seharusnya jika dilihat dari tingkat intelektualitas seharusnya tidak mungkin. But, that’s people, segala sesuatu bisa saja terjadi.

Setelah saya mengikuti kelasnya ternyata beberapa kali sang professor ini bisa dibilang melakukan bullying secara verbal. Contohnya dia melempar pertanyaan kepada mahasiswa secara acak dan kebetulan yang ditanya waktu itu adalah si mabel, setelah tau professor ini bahwa yang ditanya adalah mabel dia malah bilang “oh, tuli ya. Udah nggak usah jawab, paling nggak bisa”. Sedetik kemudian seluruh kelas tertawa. Somehow sebetulnya saya marah banget waktu itu, orang belum mencoba jawab tapi sudah di judge tidak mampu. Sungguh pola pikir sang professor ini kerdil sekali. Itu baru salah satu pegalaman saja dan sebetulnya masih banyak pengalaman yang lainnya. Seperti ketika ada tugas kelompok, para mabel cenderung tidak dapat kelompok dan ketika mereka mendapatkan kelompok mereka cenderung dijadikan beban oleh anggota kelompoknya. picik!. Satu kata yang menurut saya cocok untuk orang-orang seperti mereka. Dan lagi-lagi saya terjebak oleh sebuah birokrasi yang menjemukkan karena Jika saya jumpai hal seperti ini, saya hanya bisa melaporkan ke pihak kantor tempat saya mengabdi, untuk ditindak lanjuti seperti dosen tersebut dipanggil oleh kantor atau di kasih surat cinta, you know what I mean.

Kejadian seperti itu sering sekali terjadi di lingkungan kampus yang bahkan mengaku inklusi. Jadi, saya tidak begitu kaget ketika tahu ada bullying di kampus sebelah yang bahkan tidak memakai embel-embel “inklusi”. Wong disini yang pakai embel-embel inklusi saja sering dijumpai tindakan bullying, mungkin bedanya disini sudah ada aksi nyata untuk meminimalisir bullying tersebut dengan cara mendirikan sebuah kantor khusus untuk pelayanan difabel. Mungkin semua butuh proses pembelajaran kembali, tidak peduli siapa kamu. Saya tidak menyalahkan 100% mahasiswa yang melakukan bullying tapi disisi lain saya sangat menyayangkan seorang yang terdidik melakukan tindakan seperti itu. Mungkin itulah pentingnya diajarkan disability awareness sejak dini.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa setiap orang punya cara berjuangnya sendiri-sendiri. Setiap orang pasti pernah mengalami masalah yang membuatnya merasa jatuh. Mungkin Kamu pun pernah mengalaminya. Berat memang, tapi ingatlah, kehidupan itu bukan tentang hidup tanpa masalah, namun bagaimana cara kita menghadapi dan kemudian bangkit dari masalah. Ya, begitulah seharusnya hidup.

-End, 22.22-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s